SUDUT PANDANG

Gentingnya Akselerasi Pembangunan SDM Nias

0
33
Ilustrasi: http://www.warungcurhat.com

Oleh Sun Theo Constan Lötebulö Ndruru

Mengurai permasalahan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) Nias termasuk langkah awal yang dilakukan dalam menyelesaikannya membutuhkan banyak energi dan tak kunjung berakhir. Rumitnya identifikasi permasalahan tersebut karena dipengaruhi oleh fenomena dan dinamika sosial yang ada yang sangat memengaruhi, antara lain politik, pemerintahan, budaya. Pengambilan keputusan dalam percepatan pembenahan sumber daya manusia mendesak dilakukan dengan langkah strategis. Sebab, sumber daya manusia mampu memengaruhi semua aspek kehidupan, baik ekonomi, pelayanan, pemerintahan, maupun sosial-budaya.

Era globalisasi memaksa semua pihak (daerah) untuk bisa bertahan dan eksis dalam upaya peningkatan kehidupannya di berbagai bidang. Jika tidak dilakukan, alhasil suatu daerah akan merangkak bahkan cenderung mundur serta tak kunjung putus dalam keberadaannya sebagai daerah yang tertinggal.

Berdasarkan pengalaman penulis, potensi yang ada di dalam pemuda/pemudi  Nias sebenarnya tidak kalah dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain. Pengalaman berinteraksi dan belajar bersama masyarakat di luar Nias menyadarkan saya bahwa betapa generasi Nias sebenarnya mampu berkompetisi dan menyejajarkan diri dengan masyarakat lainnya. Akan tetapi, yang sangat kurang adalah entitas (jumlah). Akses masyarakat Nias dalam mengekspos dan berkarya dalam memajukan daerahnya masih sangat kurang dari segi jumlah ini, apalagi jika dibandingkan dengan masyarakat lain yang sudah terlebih dahulu mapan secara masif dalam memperjuangkan daerahnya.

Entitas SDM Nias yang terbatas inilah menjadi tak bermakna apa-apa dalam kurun waktu yang sangat panjang (alias tak berdampak) sehingga tidak mampu mengangkat daerahnya dalam suatu  kemandirian untuk mengeksplorasi segala sumber daya (alam) yang ada, dan hal inilah yang sebenarnya dimaksud dengan ketidakmajuan daerah (berjalan di tempat).

Kesadaran akan pentingnya peningkatan entitas SDM yang andal, hemat penulis, bermunculan sudah sangat lama. Kesadaran yang dimaksud biasanya berhenti pada wacana semata. Kesadaran disebut wacana ketika tidak terealisasi, yang tentunya dilatarbelakangi oleh faktor, perencanaan yang tidak matang, strategi yang tidak pas, respons yang kurang baik dan pastinya pendanaan yang minim.

Pemerintah yang diberi ”mandat” paling dituntut dengan segala ”kepemilikan akan kebijakan”-nya mengeksekusi percepatan peningkatan kualitas SDM Nias. Percepatan peningkatan kualitas SDM Nias mendesak untuk dilakukan. Mengingat desakan globalisasi yang menyeret setiap kelompok masyarakat untuk unggul. Arus globalisasi pastinya tidak tanggung-tanggung mampu mengempas kelompok masyarakat yang tidak dapat bertahan (tertinggal). Untuk itulah upaya mempertahankan identitas dan peradaban Nias, salah satunya dengan percepatan pembangunan SDM di semua bidang.

Teknologi Informasi

Teknologi  informasi dan komunikasi seharusnya tidak lagi menjadi hambatan berkenaan dengan rencana strategis, jika dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya. Percepatan TIK secara global juga pastinya berdampak bagi Nias sendiri. TIK kini tampaknya sudah terintegrasi dalam semua aspek perikehidupan yang ada, termasuk dalam penyiapan SDM. Dalam hal ini bagaimana TIK bisa menjadi aparatus yang andal dalam penyiapan dan percepatan peningkatan kualitas SDM, dibutuhkan tindakan nyata dari pemerintah daerah alias si pemangku kepentingan.

Pendidikan adalah pilar utama dalam penyiapan dan percepatan kualitas pembangunan manusia itu bahwa undang-undang mengamanatkan pendidikan merupakan aspek prioritas dalam agenda pembangunan nasional. Harusnya gayung pun bersambut, pemerintah daerah Nias berusaha menjawabnya dengan manuver-manuver yang kreatif, yang tentunya tidak bertentangan dengan undang-undang. Untuk itu, start yang paling tepat untuk membenahi percepatan peningkatan SDM Nias adalah melalui peningkatan pelayanan pendidikan yang berkualitas.

Manuver yang juga dapat ditempuh segera adalah dengan memperbanyak akses kepada SDM Nias untuk menempuh pendidikan berkualitas ke jenjang yang lebih tinggi. Beasiswa diberikan kepada siswa-siswa berprestasi (berpotensi) untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, demikian juga aparatur sipil (termasuk guru) yang berprestasi (berpotensi) untuk bisa ditingkatkan dan diperkuat keahliannya melalui pelatihan ataupun peningkatan pendidikannya.  Terobosan seperti ini perlu diperbanyak dan berkesinambungan serta dievaluasi manfaat apa yang diperoleh. Entitas SDM andal yang lebih banyak tentunya akan memberikan dampak signifikan dalam kemajuan Nias, seperti yang diharapkan.

Penulis melihat ada beberapa daerah otonom di Kepulauan Nias, dalam dekade terakhir, menjawab tantangan pendidikan yang dimaksud. Eksekusi yang dilakukan bahkan mendapatkan respons yang baik dari masyarakatnya. Pola pendidikan gratis yang pernah ditawarkan, merupakan manuver yang sejalan dengan ide Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Akan tetapi, kenyataannya, dalam keberlangsungannya justru bermunculan masalah yang paradoks dengan cita-cita undang-undang, yaitu kualitas.

Permasalahan pola pendidikan gratis yang bermunculan seolah shock atau efek di luar dugaan dari perencanaan. Faktanya dinamika permasalahan pendidikan tidak hanya berhenti pada pemaknaan pendidikan gratis tersebut yang terletak pada biaya pendidikan (dalam hal ini sekolah).

Berkualitas

Banyak permasalahan pendidikan yang seharusnya diidentifikasi dan dirumuskan terlebih dahulu dalam pengambilan kebijakan, utamanya masalah guru dengan kualitasnya, guru dengan penghasilannya, jumlah guru yang tidak merata, sarana prasarana sekolah yang tidak memadai bahkan ada yang cenderung tidak edukatif, dan lain sebagainya. Pekerjaan rumah memang tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendirian. Dibutuhkan kerja sama yang baik dengan pemerhati, praktisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam pewujudannya.

Sumber daya manusia yang berkualitas diperoleh dari proses yang berkualitas, proses yang berkualitas diperoleh dari perencanaan yang berkualitas, perencanaan yang berkualitas dirancang oleh pihak-pihak yang berkualitas. Sudah saatnya pemerintah daerah di Nias tidak mengandalkan kemampuannya sendiri dalam menyelesaikan dan mengurai permasalahan SDM, artinya pemerintah harus memiliki manuver atau terobosan dengan menggandeng pihak yang berpotensi dalam merancang dan mengeksekusi program yang ampuh tersebut.

Perlu kita sadari bersama, peran serta  generasi yang sudah memiliki dan telah melalui akses pendidikan yang sudah selangkah lebih maju kita harapkan turut ambil bagian dalam percepatan peningkatan kualitas SDM Nias. Generasi-generasi muda melalui komunitas-komunitas yang independen bisa mewujudkannya dengan kegiatan-kegiatan yang positif, misalnya menginisiasi pembentukan rumah baca, rumah belajar, rumah kreatif lainnya, yang tentunya membangkitkan energi positif untuk lebih baik.

Demikian juga masyarakat, utamanya yang mapan secara ekonomi, sudah saatnya berpikir untuk berbagi kepada generasi muda Nias ke depan. Generasi Nias ke depan tidak berhenti pada kita, tetapi berlanjut hingga ke anak, cucu, cicit bahkan cicit dari cicit kita pada masa mendatang, yang pada akhirnya dapat menikmati akses yang lebih mudah dibandingkan sebelumnya, menuju masyarakat Nias yang lebih maju dan modern.