PERSONA

Wanita Peselancar Terbaik Salini Rengganis Siap Ramaikan Nias Selatan Open 2017

0
22

Kesukaan dara manis ini pada olahraga air surfing berawal ketika baru pindah ke Pacitan, Jawa Timur, pada 2005. Kala itu usianya masih 5 tahun. Rumahnya dekat pantai. Saat itu, ia biasa diajak sang ayah jogging di pantai dan sering menyaksikan orang-orang yang main surfing. “Saya ingin sekali main surfing itu,” kata Salini Rengganis (19) kepada Kabar Nias, Jumat (14/7/2017) sore.

Salini yang lahir 13 Agustus 1998 adalah salah seorang calon peserta Nias Selatan Open Surfing Contest 2017 yang diadakan pada 25-28 Juli 2017 di Pantai Sorake, Nias Selatan, Sumatera Utara.

Keinginan kuat Salini kecil didukung ayahnya yang juga hobi menyelam. Salini ingat betul ketika itu ia belum punya papan surfing sendiri. Lalu papanya membuat papan selancar dari patahan-patahan papan yang rusak. Dari papan buatan ayahnya itulah Salini terus belajar cara bermain surfing. Siapa yang sangka, surfing telah mengubah hidupnya hingga sekarang.

“Dari awal yang ajari surfing itu papa, tetapi papa bukan basic di surfing. Ia hobi menyelam. Papa pelajari teknik surfing. Terus, kalau lagi kumpul bareng kakak-kakak pro surfer, saya biasanya dikasih masukan juga,” kata Salini.

Salini bisa dibilang sudah melalang buana di berbagai kejuaraan surfing, baik lokal, nasional dan internasional. “Saya pernah ikut Asian Surfing Championship (ASC) dan ikut WSL QS1000,” ujar mantan Surfer Terbaik Wanita Indonesia tahun 2012 itu.

Dari antara lomba yang ia ikuti, paling berkesan adalah ketika disponsori pertama kali oleh Surfer Girl Bali pada tahun 2009. Bagi Salini, itu titik tolak perubahan hidupnya. Sebab, dari situ ia mengerti bahwa passionnya adalah di dunia surfing.

Dalam menggeluti dunia surfing, jelas bahwa ayah Salini, Wied Id Dewa, asal Jawa yang seorang seniman, adalah orang paling berjasa dalam hidup Salini. “Selain ayah, yang paling berperan adalah Mr Steve Palmer. Juga sponsor saya, Surfergirl, dan support-support lokal dari teman-teman. Saya sangat berterima kasih,” kata Salini.

Kepada Kabar Nias, Salini juga menyatakan berusaha terus melakukan yang terbaik dalam hidupnya, terutama di bidang surfing. Ia ingin menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain.

“Saya ingin juga mama bangga melihat saya, putri satu-satunya,” ujarnya. Mama Salini yang berdarah India meninggal saat Salini berusia tiga hari.

Terkait pendidikan, Salini memilih belajar melalui jalur homeschooling karena sistem itulah yang paling efektif untuk mengatur waktu di surfing, karier, dan pendidikan. “Bagi saya pendidikan juga penting tanpa harus meninggalkan karier di surfing,” katanya.

Suka Ombak di Nias

Ikut lomba NSOSC 2017 bukan berarti Salini baru pertama kali datang ke Sorake. Ia bahkan sudah dua kali menginjakkan kaki ke Nias. Pertama saat shooting “My Trip My Adventure”, program pariwisata di Trans TV. “Kami di sana shooting untuk tiga episode. Kurang lebih sekitar seminggu. Saat itu, pertama kali nyoba ombak Sorake yang keren banget dan dahsyat,” ujarnya.

Kedatangan kedua kali Salini adalah saat shooting program “Dari Langit” TV One. Waktu itu, Salini mengaku mengeksplor kebudayaan Pulau Nias yang sangat unik.

Saat ditanya tentang kompetisi NSOSC 2017, Salini mengaku sangat senang bisa berpatisipasi dan turut bangga sebagai warga Indonesia bisa menikmati ombak Sorake yang dahsyat.

“Saya senang bisa partisipasi di kompetisi NSOSC dan turut bangga sebagai warga Indonesia. Nias punya ombak yang dahsyat dan sangat mumpuni untuk tempat kompetisi nasional dan internasional. Semoga ke depannya semakin maju, generasi surfing-nya juga berprestasi, serta bisa mengangkat kepariwisataan di Pulau Nias,” pesannya.

Di Nias Selatan Open, Salini yang mengaku menyukai makanan pedas ini, tidak menargetkan hasil yang muluk-muluk. Ia mengaku hanya berusaha melakukan yang terbaik saja pada saat lomba. Ia juga berharap, lewat keikutsertaannya dalam setiap lomba seperti NSOSC ini bisa melanggengkan cita-citanya, yakni ingin terus bisa berkompetisi di surfing dunia serta dengan begitu ia kelak bisa menciptakan lapangan kerja juga bagi orang lain.

Menjawab pertanyaan siapa surfer idolanya, Salini mengaku sangat terinspirasi dari wanita peselancar kenamaan, Bethany Hamilton, asal Amerika Serikat, yang terus berprestasi meskipun ia sudah kehilangan lengan kirinya karena diserang hiu. “Pribadinya sangat memotivasi,” kata Salini.

Untuk peselancar Indonesia, Salini mengidolakan Lee Wilson dan Ribut Wahyudi. “Saya suka banget style Kak Lee dan Mas Ribut Wahyudi orangnya baik hati, tidak sombong walaupun sudah profesional surfer dan selalu men-support generasi-generasi surfer muda di bawahnya,” kata Salini.

Penampilan Salini Rengganis di Pantai Watu Karung, Pacitan, Jawa Timur, Juni 2017. —Foto: Dokumentasi Pribadi

Salini masih muda. Ia telah menemukan jalan hidupnya, menjadi surfer. Ke depan, ombak besar terus menantangnya lewat papan selancar yang memberinya kebahagiaan di jiwa. Moto hidupnya “teguh memegang prinsip, tidak tergantung dengan orang, terus mengembangkan positive thinking dan bekerja keras” bisa menjadi inspirasi bagi anak muda seusianya.

Kepada generasi muda, Salini berpesan, “Yakinlah dalam hidup, tekun pada passion Anda. Jangan pernah takut untuk berkreativitas. Yang penting ada kemauan dan usaha. Jangan marah kalau dikritik, jadikan itu untuk membangun diri.”

Sampai ketemu di Sorake, Salini.