Apolonius Lase dan Kisah di Balik Penerbitan “Kamus Li Niha”

0
144

NIAS-BANGKIT.com — Mendengar penyusun Kamus Li Niha: Nias-Indonesia, Apolonius Lase, berbicara ibarat menimba air dari sumur yang tak habis-habisnya. Ia punya kisah hidup mengagumkan, pengetahuannya luas, pengalaman hidupnya  menghasilkan teladan bagi siapa saja yang ingin tegar menghadapi kegagalan. Ia terbiasa bekerja keras dan selalu kepasrahan kepada sang Pencipta.

Di sela-sela tugasnya selaku menyunting bahasa artikel dan naskah berita harian Kompas, pria kelahiran Hilimböŵö Badalu, Nias 20 April 1973,  ini menyusun sebuah kamus bahasa Nias. Butuh waktu  enam tahun untuk melahirkan Kamus Li Niha: Nias-Indonesia diterbitkan bersama oleh Yayasan Delasiga dan Penerbit Buku Kompas, awal 2011.

Memutar memorinya ke belakang enam belas tahun sebelum buku itu diluncurkan, Apollo—demikian panggilannya—adalah seorang lulusan SMA Negeri 3 Gunungsitoli, yang hampir putus asa. Ajaran ibunya, almarhum Gatina Lase, agar tidak putus asa setiap menghadapi kegagalan benar-benar melekat di hatinya dan meneladaninya dalam menghadapi kenyataan.

Untuk mengetahui lebih jauh sosok mantan Ketua OSIS SMA Negeri 3 Gunungsitoli ini kami mewawancarainya di sebuah gedung di Jalan Sudirman, Jakarta, 11 Maret 2011.

Inspirasi Teman dan Membaca

Keinginan menulis kamus itu mulai muncul pada masa awal kehadirannya bekerja di harian Kompas, sekitar 1997.  “Setiap kali saya menerima telepon dari teman dalam bahasa Nias, teman-teman di kantor merasa asing atas bahasa yang saya gunakan. Mereka selalu bertanya apa yang saya bicarakan,” tuturnya.

Karena teman-temannya tidak mengerti bahasa yang digunakannya, suatu ketika temannya berujar, “Bahasamu kok lucu, ya, mirip-mirip bahasa Jepang. Sudahlah, bikin saja kamus Nias-Indonesia dan Indonesia-Nias,” ujarnya menirukan seloroh rekan kerjanya.

Kata “kamus”, yang diungkapkan teman-temannya itu rupanya tersimpan di dalam benak dan alam bawah sadarnya. Mengiang di telinganya, mengundang dirinya untuk bertindak.

Faktor pendorong lain adalah  Kamus Nias karangan  W. Gulö yang ia dapatkan pada tahun 1997.  “Pola penyusunan kamus tersebut tidak dilengkapi dengan contoh kalimat, kelas kata, dan kata turunan setiap lema,” ujarnya.

Dari “ejekan” teman-temannya dan keinginan  menyempurnakan kamus tersebut,  Apollo bertekad, “Saya harus membuat kamus yang lebih baik”. Inilah awal proses panjangnya berkarya. Panjang dan meletihkan.

Berbekal pengetahuan awalnya tentang penyusunan kamus yang sederhana, Apollo memulai pekerjaannya dengan mengumpulkan kata yang didengar atau dibacanya. Setiap hari, dia melakukan pemutakhiran daftar kata-kata itu.

Semangat idealisme atas kemajuan bahasa daerah asalnya, kecintaannya terhadap bahasa Nias, adalah energi yang mendorong Apollo terus melakukan pekerjaannya. Dia tidak lagi memikirkan waktu dan biaya yang dikeluarkannya untuk menulis.  “Hampir tiga tahun folder itu tetaplah jadi folder berisi kata-kata,” ujarnya.

Selain itu kehadiran situs-situs yang membuat aplikasi bahasa Nias juga mendorong dan mengilhami Apollo untuk bertekad membuat kamus bahasa Nias versi cetak. Sekitar tahun 2003,  tepatnya 20 Maret 2003, Pastor Sirus Laia, seorang teman Apollo yang saat itu berada di Jerman, meluncurkan sebuah portal Nias, www.nias-portal.org  (sekarang sudah tidak aktif). Portal itu menyediakan fitur bahasa Nias-Indonesia. Apollo dan Edward Halawa, pemilik Nias Online (tinggal di Australia) diberi fasilitas sebagai editor, bisa memasukkan kata demi kata ke dalam situs itu.

Sayangnya, pengelolaan dan keberadaan portal itu berlanjut. Akhirnya, situs ini pun bubar. Setelah  bubar, Edward Halawa memasukkan kembali entri yang ia sumbangkan di nias-portal.org itu, dan ia mutakhirkan seperti terlihat di situs www.niasonline.net saat ini. Lantas, sekitar tahun 2002, www.niasisland.com juga membuat aplikasi bahasa Nias yang dirancang dengan mengizinkan siapa pun pengunjung situs itu untuk memasukkan kata baru.

Perkembangan itu kian memacunya segera membuat kamus edisi cetak. Pada sisi lain, keputusan untuk mengikuti  perkuliahan di Jurusan Komunikasi di Universitas Kristen Indonesia (UKI), Salemba (sekarang di Cawang), Jakarta pada 2002,  memberikan kesempatan baginya untuk berkembang.

Di sana  pengetahuan bahasanya  berkembang.  Ia mulai paham cara menyusun data kosa kata Nias dalam struktur penulisan seperti layaknya kamus.  Hasilnya, bahwa kamus mesti dilengkapi data setiap lema dengan kata-kata turunannya (derivatif) dan contoh pemakaiannya dalam kalimat. Data bersumber dari berbagai dokumen, termasuk milis Nias Community Forum (NCF), jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter, dan situs-situs lain, seperti Nias Online dan NiasIsland.Com.