SOSOK INSPIRATIF

Dokter Ria Telaumbanua Bukan Sekadar Dokter…

0
1982
dr Ria Telaumbanua di salah satu ruang Rumah Inspirasinya. —Foto: Apolonius Lase

Cita-citanya sejak kecil ingin menjadi dokter dan ingin melayani orang sakit sampai ke pelosok-pelosok desa di seluruh Tanah Air. Mimpi masa kecil itu pun menjadi kenyataan. Ia menyandang gelar dokter bahkan lebih dari itu, menjadi orang nomor satu di sebuah rumah sakit milik pemerintah, RSUD Djasamen Saragih, di Pematang Siantar, Sumatera Utara.

“Bagi saya, profesi dokter itu sangat mulia karena bisa membantu orang sembuh dari sakit dan pasti dibutuhkan orang,” kata dr Ria Novida Telaumbanua, M.Kes mengawali pembicaraan saat Kabar Nias berkesempatan berkunjung di Rumah Inspirasi miliknya di Medan.

(Rumah Inspirasi milik dr Ria itu tak ubahnya sebuah galeri yang dijadikan sebagai rumah tinggal. Di halaman “galeri” itu puluhan jenis anggrek koleksinya yang informasinya sudah ia bukukan dalam sebuah buku yang dikemas eksklusif: Wild Orchids in Toba Pesona 100 Anggrek Hutan di Toba Samosir. Ruang tamu hanya menyisakan tempat satu set buat sofa, selebihya diisi dengan berbagai barang hasil seni, berupa patung-patung, ukiran, batu mulia. Sebagian bersumber dari Pulau Nias. Di belakang ruang tamu, ada ruang musik. Kemudian, di sisi kanan ruang tamu ada ruang makan yang sekelilingnya dihiasi dengan berbagai barang seni. Dari ruang makan, ada ruangan khusus untuk butik. Berbagai koleksi kain, termasuk dari Nias hasil sentuhan anaknya yang seorang desainer. Tingkat dua berisi berbagai lukisan dan alat musik tradisional dan berbagai guci kuno. Sebuah ruang pamer yang sangat menginspirasi.)

dr Ria menunjukkan hasil karya Suzan berupa syal bermotif Nias. Ada 7 jenis syal bermotif Nias di Rumah Inspirasi. Siapa yang berminat bisa pesan. —Foto: Apolonius Lase
dr Ria menunjukkan hasil karya Suzan berupa syal bermotif Nias. Ada 7 jenis syal bermotif Nias di Rumah Inspirasi. Siapa yang berminat bisa pesan. —Foto: Apolonius Lase

Ria, yang lahir di Pematang Siantar, 23 November 1961, ini, mengaku sejak kecil dia dan adik-adiknya dididik sangat disiplin dan ketat dalam keagamaan oleh kedua orangtuanya yang berlatar pendidikan guru. Kakeknya, baik dari pihak ibu dan bapaknya adalah guru jemaat di gereja. Penerapan kedisiplinan yang ketat itulah, diakui dr Ria, yang membuatnya bisa sukses. “Bahkan, kami diajarkan harus makan bersama dalam satu meja, baik itu pagi, siang, dan malam, berdoa sebelum makan dan setelah makan berdoa kembali,” ujar dr Ria mengenang masa kecilnya.

Pada malam hari mereka juga wajib ikut kebaktian malam, walau dalam keadaan mengantuk sekalipun. Dalam kebaktian keluarga itu, sudah dibagi tugas, siapa yang bermain organ, siapa yang berdoa, dan siapa yang membawa nyanyian.

“Itu berlangsung sampai kami SMA. Dulu saya merasa disiplin itu sangat keras karena sampai hal menjemur pakaian dan menyusun pakaian di lemari juga diatur sedemikan rupa agar terlihat rapi. Dulu bagi saya itu sangat menjengkelkan, tetapi di kemudian hari setelah saya dewasa ternyata berdampak sangat positif,” ujarnya.

Dampak didikan disiplinan itu, lemari pakaian dr Ria pun sampai saat ini sangat rapi. Ia mengaku sampai sekarang jika menjemur pakaian saja tetap kelihatan sangat rapi, tertata mana yang terkena cahaya matahari langsung, mana yang harus dijemur dibalikkan bajunya, dan pakaian dalam juga harus tidak terlihat dari luar.

“Sangat sepele kelihatannya, tetapi kerapian itu terbawa sampai saya menjabat Direktur RSUD saat ini, saya tidak bisa melihat horden yang lepas ujungnya di kamar-kamar ruangan pasien atau spanduk-spanduk yang ditempelkan asal-asalan, semuanya harus rapi dan teratur,” ujarnya.

Berbagai kesuksesan yang dicapai oleh ibu tiga anak ini, tak terlepas dari peran kedua orangtuanya. Ia sangat bangga memiliki ayah dan ibu yang hebat, terutama papanya yang sangat ia banggakan.

“Saya salut kepada bapak saya. Dalam usianya yang muda dia punya cita-cita yang tinggi, kemauan yang keras, dan keberanian untuk keluar dari kampung halaman asal Desa Sisarahili Gamo, ia menuju Siantar, hanya untuk melanjutkan sekolah. Dulu itu harus lewat Sibolga belum ada pesawat terbang. Beliau merantau, sekolah dan akhirnya menikah dengan ibu saya yang lain suku. Ibu saya dari Simalungun. Menurut saya, itu sebuah perjuangan hebat. Menerobos yang tidak biasa, itu yang membuat saya sangat bangga  sampai dia menanggung risiko untuk dijauhi keluarga di Nias karena menikahi perempuan dari suku lain,” katanya.

Namun, di kemudian hari, keluarga sangat menyayangi papanya karena banyak sanak keluargannya dari kampung yang akhirnya ditampung tinggal di rumah mereka. Papanya dengan senang hati menerima mereka sambil melanjutkan sekolah. Bahkan, yang tinggal di rumah mereka bukan hanya saudara, melainkan siapa pun asal dari Nias dengan senang hati ayahnya bersedia menampung tinggal di rumah.

“Selain memang terlahir pintar, Papa juga mempunyai pemikiran dan visi yang cemerlang, yang kadang orang lain tidak memikirkannya untuk saat itu,” kata istri dari EW Simanjuntak (52) ini, tentang papanya.

Saat masih SD—SD Taman Asuhan Pematang Siantar (1974)—Ria dan semua saudara-saudaranya dimasukkan les piano dan organ oleh orangtuanya. Karena saat itu piano adalah barang mewah sehingga mereka harus rela berlatih menggunakan piano di rumah tetangga hingga mereka bisa membeli piano sendiri. Dampak positifnya, kata Ria, ketika kelas V SD, ia sudah kerap bermain piano di setiap acara-acara bank tempat papanya kerja. Ria juga menjadi pemain organ di gereja bahkan sampai ia sudah berkeluarga.

“Seandainya Bapak tidak memberiku les piano dulu, saya tidak akan pernah tahu membaca not balok dan tidak mahir bermain piano. Mungkin saja juga anak-anakku saat ini tidak tahu tentang musik. Ketiga anak saya, Puji Tuhan, masing-masing bisa menguasai dua alat musik dan sangat berguna untuk keseimbangan hidup mereka. Ternyata musik adalah alat  yang jitu untuk membentuk kepribadian seseorang. Itu semua karena ide Bapak dahulu kala yang saya turunkan kepada anak-anak saya sekarang,” ujarnya.

Dokter Ria memiliki tiga anak, yaitu Samuel Starlight, Suzanne Sarah, Stefan Solagratio. Ketiga anaknya telah menyelesaikan pendidikan hingga S-2 di London, Inggris. Ria mengaku sangat memberi perhatian terhadap pendidikan seperti dulu orangtuanya juga mencontohkan di mana mereka enam bersaudara semua disekolahkah hingga minimal S-1. Bahkan, saat sudah usia tua, orangtua Ria pun mengambil gelar sarjana di jurusan sastra Inggris. “Bagi mereka tidak ada kata ‘umur tua’ untuk sekolah,” ujar alumnus SMA Negeri 1, Medan, ini.

Cinta Nias

Mengapa begitu cinta terhadap Nias? Pertanyaan ini dijawab dokter Ria dengan mimik serius. “Karena saya dilahirkan sebagai orang Nias, marga Telaumbanua. Walau saya lahir dan dibesarkan di perantauan itu tidak menjadi halangan bagi saya untuk mengabdi semaksimal saya bisa untuk tanah leluhur saya,” ujarnya.

Keluarga dr Ria. —Foto: Dokumentasi Ria Novida Telaumbanua
Keluarga dr Ria. —Foto: Dokumentasi Ria Novida Telaumbanua

Ia juga terobsesi oleh cita-cita yang belum bisa diwujudkan oleh papanya ketika masih hidup. Papanya meninggal di usia muda (63 tahun) karena sakit diabetes. “Papa pernah berkata kepada saya, jika ada orang datang ke rumahmu, jika kamu tidak bisa beri dia makan, maka beri dia minum, kalau kamu tidak bisa beri dia minum, maka beri dia obor agar dia tidak tersesat jalan ketika pulang. Artinya, sekecil apa pun itu, mari kita bantu sesama kita. Saya ingat terus sampai saat ini nasihatnya itu,” kata dr Ria.

Alasan lain yang paling mendasar adalah karena ia bersyukur bisa diselamatkan Tuhan pada waktu terjadi gempa pada 28 Maret 2005. Saat itu ia berada di Gunungsitoli karena tugas yang diberikan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumut.

“Ketika gempa yang hebat itu terjadi, saya terkubur di reruntuhan gedung  Hotel Wisata berlantai empat itu. Posisi saya waktu itu, setelah sadar saya sudah tertimbun batu-batu dan saya berada di dasar hotel sejajar dengan jalan, padahal sebelumnya saya di lantai dua. Lantai satu terperosok ke dalam tanah yang menganga. Dalam logika dan akal manusia, tidak mungkin saya selamat, tetapi Tuhan berkehendak lain. Saya mengartikannya bahwa Tuhan meminta saya agar saya lebih memedulikan masyarakat Nias karena Dia punya rencana untuk saya yang saya tidak tahu untuk apa,” katanya mengingat.

dr Ria menyatakan bahwa prestasi-prestasi yang ia dapatkan di luar Nias bukanlah satu kebetulan ia dapatkan. Menurut dia, semua itu dapat dimanfaatkan juga untuk Nias, bangsanya sendiri, yang memang masih banyak jauh ketinggalan dibandingkan dengan daerah lainnya.

“Walau kita berada di luar Nias tidak ada yang menghalangi kita untuk berbuat. Bahkan, kadang orang-orang Nias di luar seperti saya lebih peduli akan nasib saudara-saudara kita yang berada di Nias. Saya akan teruskan perjuangan Bapak saya untuk membangun Nias dengan cara saya sendiri,” ujarnya.

Sejak gempa besar itu terjadi, dr Ria banyak membuat pelayanan kesehatan di desa-desa di Nias, membantu panti asuhan, membuat seminar, dan melakukan apa saja yang ia mampu lakukan untuk masyarakat Nias. Itu bentuk pengabdiannya untuk tanah leluhur.

Rahasia Keberhasilan

Saat ditanya apa sebenarnya kunci keberhasilannya, Ria mengaku bahwa semua yang ia dapatkan adalah karena doa dan kedekatan dengan Tuhan. Bagi dia, tidak ada yang lebih besar di dunia ini daripada kekuatan Tuhan. Sebab itu, ia selalu menjaga hubungan kepada Tuhan.

“Kekuatan doa itu sangat besar. Selain itu, saya pekerja keras dan tidak pernah berhenti memulai sesuatu yang baru bahkan kadang penuh tantangan. Kadang tantangan itu yang membuat saya termotivasi menaklukkannya,” katanya yang mengaku memiliki moto hidup “Jangan pernah berhenti untuk mencoba, walau berkali-kali gagal. Karena kalau kita tidak mencoba dan gagal, bagaimana kita tau untuk memperbaikinya”.

Sebab, kata dr Ria, jika kita memulai sesuatu, jangan pernah berhenti di tengah jalan, harus kita selesaikan, walau akhirnya tidak sesuai dengan harapan. “Banyak orang gagal karena sering menyerah di tengah jalan atau hanya berandai-andai di awal, tetapi tidak berbuat. Kita juga harus bisa gigih untuk melakukan suatu perubahan yang kadang banyak ditentang orang. Itulah yang membuat kita jadi tampil berbeda. Kenapa harus takut kalau semua itu untuk suatu yang benar. Saya percaya, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita jika yang kita kerjakan adalah  adalah kehendak-Nya,” ujarnya.

Anggrek

Dokter lulusan Fakultas Kedokteran USU Medan (1987) ini memang bukanlah dokter biasa. Di tengah-tengah kesibukannya menjadi dokter dan direktur umum RS, ia tidak meninggalkan kecintaannya terhadap anggrek hutan.

“Saya suka anggrek hutan (bukan hibrida) karena jika berbunga, bunganya sangat indah, unik, dan memesona. Kadang bunganya sangat indah tidak sesuai dengan daun dan batangnya yang jelek,” ujarnya.

Kabar Nias nebeng tenar, berofot bersama dr Ria, di ruang butik Rumah Inspirasi,
Kabar Nias nebeng tenar, berfoto bersama dr Ria, di ruang butik Rumah Inspirasi,

Saat ini berkat kegigihannya mendorong semua pihak, termasuk teman-teman seangkatannya waktu sekolah, ia mendapatkan izin mengelola Taman Konservasi Anggrek Toba di Balige dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan. Ia mengelola secara swadana sampai saat ini.

“Itu persembahan saya untuk tanah Batak tanah leluhur suami saya dan tempat di mana saya mengabdi. Dan buku saya tentang anggrek Toba menjadi salah satu referensi penilain juri dari Unesco untuk Geopark Danau Toba. Saya telah menyerahkannya langsung ke Bapak Susilo Bambang Yoedhoyono, mantan presiden RI, yang menjadi Duta Geopark Danau Toba,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa setiap kali ia masuk hutan untuk meneliti anggrek, sepertinya anggrek-anggresk itu berbicara kepada dirinya untuk memedulikan mereka. “Akhirnya saya putuskan berjuang untuk mereka sampai saat ini. Anggrek itu banyak mengajarkan saya tentang kehidupan, tantangan dalam merawatnya, dan agar bisa membuatnya berbunga,  harus dipenuhi kesabaran, ketekunan kegigihan dan tidak pantang menyerah. Akhirnya terbawa dalam kehidupan saya, bahwa untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan kita harus sabar, gigih, tekun serta jangan mudah menyerah,” katanya.

Anggrek itu banyak mempengaruhi hidup saya disaat saya berupaya melindunginya dari kepunahan. Saya meneliti dan memotret anggrek selama 3, 5 tahun di bukit dan gunung sekitar Danau Toba dan keluar masuk hutan tanpa gentar.

Anak-anak

Bagi dr Ria dan suamnya, anak anak adalah harta yang paling berharga yang didapatkan dari Tuhan. Pasangan ini dianugerahi anak pertama setelah menanti selama 7 tahun setelah perkawinan.

Ketiga anak dr Ria di London. —Foto: Dokumentasi dr Ria Novida Telaumbanua
Ketiga anak dr Ria di London. —Foto: Dokumentasi dr Ria Novida Telaumbanua

“Kebahagiaan saya yang terbesar adalah saat anak-anak sampai pada suatu keadaan di mana mereka merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan mereka secara pribadi dan sangat bergantung kepada Tuhan-nya. Untuk mencapai keadaan tersebut itu bukan saat yang mudah. Membimbing mereka dekat pada  kepada Tuhan adalah hal yg mutlak bagi saya karena mereka harus hidup dengan kekuatan Tuhan,” kata dr Ria.

Ia dan suami mempersiapkan  anak-anak sejak dini untuk bisa mencapai cita-cita setinggi mungkin. Mereka memberi motivasi dan membekali mereka dengan ilmu dan keterampilan sejak dini. Sebelum anak-anak mengerti apa-apa, dr Ria dan suaminya sudah membekali anak-anak mereka dengan kursus bahasa Inggris, kursus komputer, dan kursus musik di luar pelajaran-pelajaran formal di sekolah sejak mereka bisa membaca.

Semua itu, kata dr Ria, sebagai persiapan mereka bertarung menembus dunia untuk meraih cita-cita. Sebab, bagi Ria dan suaminya, warisan terbesar yang patut diberikan kepada anak-anak bukanlah uang atau harta, tetapi ilmu.

“Syukur kepada Tuhan, atas seizinnya anak-anak benar-benar mendapatkan ilmu se-tinggi-tingginya saat ini. Tahun ini (2015) Samuel tamat dan memperoleh Master Civil Engineering dari Imperial College London, universitas terbaik di dunia untuk tehnik sipil. Suzan, putri kedua tamat S-1 jurusan fashion design dari sekolah mode ternama dunia, Instituto Marangoni, London, dan Stefan, anak yang bungsu, sedang menjalani sekolah setara SMA kelas 3, di sekolah Internasional, di Tuanku Jaafar College, Mantin, Kuala Lumpur, Malasysia,” kata dr Ria.

Diakui Ria, dirinya tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk memilih jurusan sesuai kehendak orangtua. Ia memberbaskan anak-anaknya memilih sesuai minat dan bakat mereka. Ria dan suaminya hanya mengarahkan dan mendampingi mereka bahkan membantu mereka untuk bisa mengeluarkan bakat dan talenta mereka. Suzan, misalnya, kata Ria, dia anak yang pintar di bidang eksakta, tetapi bakat seninya sangat menonjol.

“Saya menyetujui dia memilih bidang seni daripada memaksanya mengambil bidang kedokteran seperti saya walau saya tahu dia mampu untuk itu.  Bahkan, saya membantunya untuk berkeliling Indonesia untuk mengenal corak budaya dan etnis suku  yang ada sebagai referensi sekolah seninya. Itu sebabnya dia selalu mendapat nilai tertinggi di kelasnya dari tahun ke tahun,” katanya.

Menurut Ria, semua anaknya sudah terbiasa hidup mandiri. Sejak usia belasan tahun sudah berpisah dari orangtua untuk menuntut ilmu, mereka anak-anak genius, bahkan Samuel menyelesaikan SMP-nya hanya dua tahun saja dan di usia 24 tahun sudah memperoleh gelar master dari London. Nilai mereka disekolah rata-rata A dan A plus, mengalahkan anak2 bangsa lainnya. Sangat menginspirasi dr Ria.

BIODATA SINGKAT:

  • Lahir: Pematang Siantar, 23 November 1961
  • Suami: EW Simanjuntak (52)
  • Anak: Samuel Starlight, Suzanne Sarah, Stefan Solagratio
  • Pendidikan
    • SD Taman Asuhan Pematang Siantar (1974)
    • SMP Taman Asuhan Pematang Siantar (1977)
    • SMA Negeri 1, Medan (1980)
    • Fakultas Kedokteran USU Medan (1987)
    • Pascasarjana: a). Master of Hospital Administration Modern Institute of Management and Business Medan-American Institute of Management Studies USAb). Magister Epidemiologi, Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana USU
  • Pekerjaan
    • Dokter fungsional Puskesmas Pancurbatu (1987-1994)
    • Kepala Puskesmas Pancurbatu (1995-2001)
    • Kepala Subdinas Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Deli Serdang (2001-2005)
    • Direktur RSUD dr Djasamen Saragih, Pematang Siantar, (2006-2008)
    • Surveyor Akreditasi RS, Komite Akreditasi Rumah Sakit, Departemen Kesehatan (2009-sekarang)
    • Direktur RSUD dr Djasamen Saragih, Pematang Siantar (2011-sekarang)
BAGIKAN
Berita sebelumyaAbineri Gulö: Ini Pesta Rakyat
Berita berikutnyaPendidikan seksualitas atau pendidikan kesehatan reproduksi?
Apolonius Lase
Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, "Kamus Li Niha (Nias Indonesia)" telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com