DR YEREMIA MENDRÖFA, ST, MM, MBA, PMP

Majukan Pariwisata Nias dengan Membangun Ciri Khas

1
253

Mskipun sederet titel tersematkan di depan dan belakang namanya, Dr Yeremia Mendröfa, ST, MM, MBA, PMP, anggota DPRD Provinsi Banten Fraksi PDI-P ini tidak lantas berubah. Ia tetap rendah hati dan bertutur teratur seperti yang ia tunjukkan dulu ketika bersua saat masih duduk di bangku SMA. Yeremia menamatkan SMA-nya di SMA Pemda Nias pada 1994. Teman seangkatannya pasti mengenang Yeremia sebagai seorang yang kemampuan akademiknya yang tinggi dan tak pernah kenal kata lelah untuk belajar. Meskipun sudah jauh dari kampung halamannya, ia tetap punya hati dan mau urun pendapat terkait kemajuan daerah kelahirannya, Pulau Nias.

“Saya terakhir pulang beberapa waktu lalu. Saya menyempatkan diri untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di Nias. Hitung-hitung mengobati rasa kangen setelah lama meninggalkan Nias untuk merantau dan membuat takdir hidup yang lebih baik,” ujar peraih gelar doktoral bidang ekonomi lulusan Cum Laude dari Universitas Trisakti (2009-2012).

Bagi ayah dari Joves Alvaro Mendröfa dan Keisha Anabel Mendröfa ini, jika ada keinginan pariwisata maju, pemerintah daerah di Pulau Nias harus serius dalam membenahi pariwisata.

“Jika hanya ingin menawarkan wisata pantai, para wisatawan pasti akan memilih tempat wisata pantai yang sudah terkenal, seperti Bali, Lombok, Bangka Belitung. Mengapa, karena tempat-tempat wisata pantai itu sudah dikelelola sedemikian rupa sehingga wisatawan merasa senang dan nyaman. Ciri suatu tempat menarik bagi wisatawan adalah ketika si wisatawan punya rencana kembali datang lagi ke tempat tersebut,” ujar suami dari Fransiska Mendröfa ini.

Dalam hal ini, pemerintah daerah harus bisa memasukkan pariwisata dalam RPJMD sehingga tersedia dana untuk menguatkan sektor pariwisata. Yeremia mengusulkan, di Nias itu harus dibangun ciri khas yang hanya ada di Nias.

“Saya dalam beberapa kesempatan mendorong pemerintah daerah di Nias untuk mengarahkan dana desa, selain membangun infrastruktur, juga dipakai untuk membangun lokasi pariwisata, terutama yang menjadi ciri khas,” ujar peraih gelar MM & MBA, Lulusan Terbaik Cum Laude, Swiss German Univesity (2007-2009) ini.

Sekadar memberi contoh, Yeremia melihat Lampung berhasil menciptakan ciri khas daerahnya dengan siger, yang bisa dilihat di mana-mana. Siapa pun yang datang ke Lampung akan melihat siger, baik di rumah-rumah, di toko-toko. Bahkan, saat masuk Pelabuhan Bakauheni, pengunjung bisa melihat menara siger.

Desa Bawömataluo dilihat dari atas. Atap rumah adat di desa ini hampir semua terbuat dari seng. | Foto: http://cyberspaceandtime.com/
Desa Bawömataluo dilihat dari atas. Atap rumah adat di desa ini hampir semua terbuat dari seng. | Foto: http://cyberspaceandtime.com/

“Coba misalnya ciri khas daerah kita, seperti desa budaya Bawömataluo di Nias Selatan. Saya lihat ada kesan compang-camping dan cenderung semrawut penataan desa itu. Sebaiknya atap rumah-rumah itu diseragamkan semua menggunakan bulu zaku; jemuran-jemuran dipindahkan ke bagian belakang rumah. Jika ada masalah, warga tidak mampu, di situlah pemda berperan. Berikan subsidi dari APBD agar bisa desa tujuan wisata itu nyaman dilihat dengan ditata ulang,” ujar Yeremia yang Lahir di Desa Tanöse’ö, Hiliduho, pada 1 September 1976 itu.

Revitalisasi Situs Budaya 

Ia juga mengingatkan, situs-situs sejarah atau budaya yang ada di Pulau Nias harus segera direvitalisasi. Situs batu megalitukum di Gomo, misalnya. Situs ini mestinya ditulis sejarahnya serta akses ke sana dibangun senyaman mungkin sehingga masyarakat jadi tahu dan penasaran karena ada cerita di belakang tempat wisata itu.

batu-megalitikum-tulumbaho
Batu megalitikum di Tulumbaho, Gomo, Nias Selatan. | Sumber foto: https://1.bp.blogspot.com

Demikian juga berbagai situ budaya fondrakö di sejumlah öri yang pernah berjaya dalam sejarah perkembangan Nias. Itu perlu direstrukturisasi kembali agar masyarakat jadi bisa mengenal kembali budaya nenek moyangnya dan orang luar tertarik datang.

“Jika ini dilakukan, saya yakin, masyarakat akan berbondong-bondong datang ke Nias karena ingin menikmati ciri khas Nias. Dengan begitu, secara perlahan, UMKM akan bertumbuh. Tempat penginapan akan terus bertumbuh juga sehingga yang terjadi, pariwisata menyejahterakan masyarakat,” kata alumni S-1, Teknik Elektro, Universitas Mercu Buana (2003-2004) ini.

Capaian Harus Jelas

Yeremia menyinggung juga soal pelaksanaan Pesta Ya’ahowu baru-baru ini di Pulau Nias. Ia menilai pelaksanaan festival budaya itu positif. Namun, harus dipikirkan, apa yang dilakukan setelah itu. Semestinya, ada kesinambungan, ada road-map, dengan visi dan target yang jelas, nyata, dan terukur.

Ia juga mengapresiasi adanya pemecahan rekor MURI yakni 5.763 warga Nias melakukan maena kolosal di satu tempat, pada Sabtu, 26 November 2011. “Ini bisa menjadi daya tarik. Tapi tidak boleh berhenti di situ saja. Apa selanjutnya? Nah, pemerintah daerahlah yang punya peranan untuk menentukan misi ini. Seharusnya, berbagai acara tahunan harus menjadi agenda reguler di Pulau Nias sehingga para wisatawan bisa mengatur jadwalnya untuk mengunjungi Nias,” ujar peraih penghargaan Master’s Certificate in Project Management, The George Washington Universitas, USA (2007) ini.

Pemerintah daerah bisa saja bekerja sama dengan pihak lain, seperti mengajak event organizer yang berpengalaman untuk perhelatan acara, sehingga hasil yang dicapai pun juga maksimal.

“Tapi lagi-lagi, pemda harus lebih cekatan. Pemda tidak boleh berlama-lama berpangku tangan. Sebaiknya keberadaan Museum Pusaka Nias di Kota Gunungsitoli itu harusnya juga diperhatikan pemerintah setempat. Pemda harus ikut membantu pengelolaan tempat itu supaya terus berkembang dan menjadi tujuan utama yang menarik wisatawan,” kata Yeremia.

Ketika semua sudah dibangun, infrastruktur sudah beres, tempat wisata sudah ditata, hal yang tidak boleh dilupakan adalah promosi. Pemerintah daerah harus serius juga menggarap ini. Sebab, sebagus apa pun acaranya, jika tidak dipromosikan dengan baik, akan menjadi mubazir.

“Penggunaan media sosial, misalnya, perlu dilakukan secara masif jauh-jauh hari sebelum acara berlangsung. Sebab, tujuan kita kan ingin agar acara atau festival budaya yang dilakukan bisa mendatangkan orang sebanyak mungkin. Jadi, jangan kecilkan sektor promosi ini,” ujar Yeremia.

Ketika langkah-langkah itu sudah dilakukan oleh pemerintah daerah, apalagi perhatian pemerintah pusat kini memberi perhatian lebih pada daerah-daerah terdepan dan terpencil, diharapkan multiplier effect (dampak berganda) itu akan segera dirasakan oleh masyarakat di Pulau Nias.

Animo masyarakat di Pulau Nias saat ini yang cenderung meyisihkan waktu untuk berekreasi karena lancarnya transportasi dan banyaknya informasi lewat media sosial sebaiknya harus dimanfaatkan oleh pemerintah daerah menjadi momentum yang baik memajukan sektor pariwisata ini.

Meskipun raga ada di Cipondoh, Tangerang, hati jiwa, doa, dan perhatian lulusan terbaik (cum laude) D-3, Teknik Telekomunikasi, Politeknik ITB (1994-1997) ini masih terus ada untuk tanah tercinta, Tanö Niha.

Sukses terus, bro Yeremia.

BAGIKAN
Berita sebelumyaLagi, Banjir Tenggelamkan Tiga Desa di Bawölato
Berita berikutnyaDoni Kristian Dachi Nikahi Fitria Purisima di Surabaya
Apolonius Lase

Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, “Kamus Li Niha (Nias Indonesia)” telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com

  • Apolonius Lase

    Semoga pemikiran ini bisa diadopsi oleh semua masyarakat Nias. Harus ada semangat bersama jika kita mau pariwisata memberi kesejahteraan buat warga Nias.