APA & SIAPA

Isi Waktu, Adrianus Aroziduhu Gulö Bermain dengan Cucu dan Menulis

0
18
AAG berfoto bersama Pastor Postinus Gulö yang di Roma, Italia.

Apa kabarnya Bupati Nias Barat periode 2011-2016 Adrianus Aroziduhu Gulö (63)1)Adrianus Aroziduhu Gulö lahir pada 5 Januari 1954 di sebuah desa kecil bernama Desa Hilifadölö, Kecamatan Moro’ö, Nias Barat. [Sumber: Adrianus Aroziduhu Gulö, Anak Desa Terpencil yang Jadi Bupati, Apolonius Lase: 2015] kini setelah tidak menjabat lagi?

Sabtu (14/10/2017), kepada Kabarnias.com, AAG—demikian ia akrab disapa—bercerita tentang kesehariannya. “Saya sekarang lebih banyak menghabiskan waktu bermain dengan cucu saya yang lucu-lucu,” ujar AAG lewat perbincangan dalam aplikasi pesan WhatsApp.

Dua cucunya dari anak pertamanya, Agnes Gulö, yaitu Dorotea Olivia Zendratö dan Cleopatra Paradina Zendratö, mengisi keseharian AAG di rumahnya di bilangan Caritas Gunungsitoli.

Menulis

Selain bermain bersama cucu, AAG yang pensiunan TNI itu juga rajin menuangkan segala pengalamannya lewat tulisan dan dicetak dalam bentuk buku. Ia juga beberapa kali menuliskan artikel berupa opini dan dimuat di Kabarnias.com

“Karena memiliki banyak waktu, selain bermain dan ngemong cucu, saya juga menulis buku. Pada 20 Oktober 2017 ini, doakan, saya akan mengundang para sahabat saya untuk berdiskusi mengenai dua buku saya yang terbaru, yang saya beri judul: Kenangan Indah Selama Menjadi Bupati dan Berjuang dalam Pilkada Mempertahankan Integritas. Acaranya di aula Wali Kota Gunungsitoli,” ujar suami dari Seditan Nehe ini. AAG juga mengaku sedang menulis buku kelimanya.

Salah satu mimpi AAG dalam kegiatannya menulis buku adalah ingin menularkan kepada masyarakat, terutama generasi muda, agar berani menulis sehingga ide-ide positif yang ada dalam pikiran bisa dicatat dan dibaca orang lain sehingga juga bisa menjadi warisan kepada generasi selanjutnya.

“Saya ingin mengimbau kepada kolega-kolega di pemerintahan, juga kepada para siswa dan mahasiswa, termasuk para guru, dosen-dosen, para rohaniwan untuk mulai membiasakan diri menulis syukur-syukur bisa sampai menghasilkan buku,” ujarnya.

Adrianus Aroziduhu Gulö ketika berkesempatan datang ke Roma, Italia.

AAG mengaku gemar menulis berawal dari kesukaannya membaca. Bacaan-bacaan sehubungan dengan humaniora banyak ia koleksi.

Dalam bukunya terdahulu, AAG membeberkan berbagai pencapaiannya selama menjabat sebagai bupati. Ia juga tak lupa mengungkap berbagai permasalahan yang ada selama ia memimpin, terutama kurangnya SDM di Nias Barat. “Biar masyarakat Nias Barat saja yang memberi penilaian terkait apa yang sudah kami lakukan selama mengabdi di Nias Barat,” ujarnya.

Kepada Kabarnias.com, AAG juga menyampaikan bahwa ia sekali-sekali diundang untuk menyampaikan ceramah di beberapa perguruan tinggi, di beberapa gereja, terutama Katolik. “Saya juga sekarang banyak waktu untuk berolahraga, seperti berjalan (jogging) dan terutama berenang. Saya banyak berenang sekarang agar bisa tetap bugar,” ujarnya.

Pada 6-17 Februari 2017, AAG dan istrinya berkesempatan melakukan wisata rohani ke Yerusalem. “Wisata rohani ini sudah dari dulu kami persiapkan. Ada agen perjalanan di Jakarta yang dikelola oleh gereja Katolik di Jakarta kami bersiap dengan menyetor biaya dencan mencicil,” ujar AAG.

Begitu juga pada 10-28 September 2017, AAG bersama rombongan pergi ke Eropa, yakni ke Spanyol, Portugis, Perancis, Swiss, Maroko, Italia, dan Roma. “Puji Tuhan, saya sudah sampai kembali ke Tanah Air dengan sehat sentosa. Selama di Roma, saya bertemu dengan Pastor Postinus Gulö yang sedang kuliah di sana,” ujarnya.

Referensi   [ + ]

1.Adrianus Aroziduhu Gulö lahir pada 5 Januari 1954 di sebuah desa kecil bernama Desa Hilifadölö, Kecamatan Moro’ö, Nias Barat. [Sumber: Adrianus Aroziduhu Gulö, Anak Desa Terpencil yang Jadi Bupati, Apolonius Lase: 2015]
BAGIKAN
Berita sebelumyaMenyoal Kualitas Kesehatan Masyarakat di Kepulauan Nias
Berita berikutnyaMeningkatkan Daya Saing Ekonomi di Kepulauan Nias
Apolonius Lase
Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, "Kamus Li Niha (Nias Indonesia)" telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com