JURNALISTIK

Dosen Muda Asal Nias Ini Raih Penghargaan Penelitian dari SPS

0
5973

Formas Juitan Lase alias Cici (27), dosen muda asal Nias pada Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia (UKI), Jakarta, meraih penghargaan bergengsi dalam ajang The 3rd Indonesia Media Research Award and Summit 2016 yang digelar di Aston Hotel Semarang, Rabu (31 Agustus 2016).

Penghargaan ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya oleh Serikat Perusahaan Pers (SPS) Indonesia yang diberikan kepada insan akademis yang meneliti isu-isu perkembangan media dan jurnalistik di Indonesia.

Cici, mantan editor di portal berita Nias Bangkit (NBC) yang juga ikut mengelola Kabar Nias ini, mengaku sangat senang dengan pencapaian yang ia raih. “Saya memperoleh penghargaan lewat penelitian berjudul ‘Jurnalisme Multimedia Longform di Media Digital: Analisa Naratif Pada Artikel Tempo.co 2014-2016’,” ujarnya.

Praktik jurnalisme multimedia longform yang ditelitinya ini merupakan tren global yang tengah merambah ke berbagai dunia, termasuk Indonesia. Menurut Cici, jurnalisme longform adalah cabang jurnalisme yang didedikasikan untuk artikel panjang dengan jumlah konten yang lebih banyak.

“Jurnalisme jenis ini bentuk artikel atau beritanya biasanya disajikan secara naratif atau nonfiksi. Konten dalam berita longform juga bisa menggunakan multiplatform dan multimedia. Salah satu media di Indonesia yang menggunakan jurnalisme longform adalah Tempo,” kata lulusan magister Ilmu Komunikasi dari Universitas Diponegoro itu.

Menurut Cici yang berulang tahun ke-27 pada 6 Oktober lalu ini, jurnalisme longform membawa manfaat, baik kepada wartawan maupun kepada pembaca. Lewat berita yang panjang, wartawan bisa menemukan topik baru yang lebih bagus dan bisa berdampak bagi khalayak, terutama lewat media online.

cici
Formas Juitan Lase (tengah) saat membeberkan hasil penilitiannya. —Sumber: Dokumentasi Pribadi

“Adapun manfaat bagi masyarakat, yakni bisa menambah wawasan terutama ketika mengonsumsi berita lewat format baru, seperti media online. Dengan demikian, ada pilihan bagi khalayak untuk memilih media yang cocok bagi dirinya,” ujar Cici.

Baca juga:  TNI Bantu Pengadaan Listrik di Pulau Nias

Tren jurnalisme ini, menurut Cici, penting dikaji karena telah mulai dipraktikkan di Indonesia. Tahun ini saja ada empat media digital yang sudah mulai menggunakannya. “Ke depan jurnalisme ini akan menjadi tren. Karena itu, penting untuk mempersiapkan jurnalis maupun potensi pembacanya,” ujarnya.

Penelurusan Kabar Nias, tahun ini, ada sebanyak 65 universitas negeri maupun swasta di Indonesia yang mengikuti ajang ini dengan total penelitian sebanyak 49 naskah. Naskah-naskah penelitian ini dinilai oleh lima orang juri yang terdiri dari Prof. Dr. Sasa Djuarsa, Dr. Eriyanto, Dr. Irwa Zakarsi, Thoriq Hadad, dan Arif Prabowo.

Sementara itu, Cici yang menaruh perhatian terhadap permasalahan jender, akan segera terbang ke Pulau Nias bersama rekan-rekannya dari UKI guna mengadakan penelitian terhadap perempuan di Nias.

“Kami ingin melihat apa permasalahan perempuan di Nias serta mencari solusi yang tepat sehingga perempuan di Nias menjadi subyek bukan obyek terus. Kami berharap pemimpin daerah di Pulau Nias membantu penelitian ini,” ujarnya.

Selamat Cici. Semoga terus menjadi inspirasi bagi generasi muda Nias di mana pun.

Apolonius Lase
Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, "Kamus Li Niha (Nias Indonesia)" telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com
BAGIKAN
Berita sebelumyaAda Gangguan Kamtibmas, Segera Hubungi Nomor Ini
Berita berikutnyaLiterasi Keuangan di Indonesia Masih Rendah