APA & SIAPA

Batu Moi Menangi Kontes Kategori Motif Huruf

0
1603
Herman Halawa alias Ama Iwel (kanan)

Herman Halawa alias Ama Iwel (36), warga Lölöfitu Moi—sekitar 40 kilometer dari Gunungsitoli arah Nias Barat—dengan wajah semringah menunjukkan batu akik dengan motif huruf D kepada Kabar Nias, Selasa (10/11/2015).

Batu yang ia namai batu moi itu membawanya memboyong piala juara ketiga kategori huruf/angka dalam lomba batu akik yang diselenggarakan oleh Komunitas Pencinta Batu Nias Kepulauan Nias di Kota Gunungsitoli beberapa waktu lalu.

Batu moi dengan motif huruf D milik Ama Iwel yang menangi kontes sebagai juara III.
Batu moi dengan motif huruf D milik Ama Iwel yang menangi kontes sebagai juara III.

“Sebelum ikut lomba, batu ini sudah ada yang menawar Rp 500.000 tidak saya lepas. Setelah ikut lomba ini, sudah ada yang tawar langsung Rp 5 juta. Saya tidak kasih. Soalnya akan diikutkan di lomba tingkat provinsi,” ujar penyuka ternak ikan hias ini.

Saat ditanya, jika ada yang ingin membeli batu D itu, berapa harga yang ditawarkan. Ama Iwel bergeming. Ia tidak mau menyebutkan nominalnya. “Jangan dululah Bang, saya ingin ikutkan lomba dulu di tingkat provinsi,” kata pengusaha rumah makan ini.

Di Warung Makan Arjuna, miliknya, Ama Iwel memamerkan batu-batu khas Nias, terutama yang ia ambil dari Sungai Moi, di sebuah etalase. Berbagai jenis batu akik yang sudah diolah menjadi batu cincin dan juga kalung terpampang dalam etalase kaca berukuran sekitar 40 cm x 100 cm itu.

Saat ditanya apa jenis batu yang membawanya menjadi peringkat III lomba akik tersebut, Iwel mengaku batu tersebut khas moi. “Batu ini khas dari Sungai Moi. Jadi saya namai dia batu moi.

Pengusaha muda yang lahir 15 Agustus 1979 ini mengaku belumlah lama menggeluti hobi mengoleksi batu akik. Bisa dibilang ia merupakan pendatang baru di komunitas pencinta batu Nias. “Baru Februari 2015 saya mulai mengoleksi batu-batu akik. Saya langsung mencari di Sungai Moi. Ada juga yang saya peroleh dari teman-teman,” ujar ayah dari tiga anak itu.

photo_2015-11-12_19-55-033Syarat untuk bisa menjadi pemenang dalam kontes batu Nias kali ini, menurut Ama Iwel, sangat ketat dan susah. “Batu yang ikut kontes harus unik dan memenuhi syarat untuk kategori yang diikuti. Kondisi batu tidak boleh retak sedikit pun,” katanya.

Menurut penuturan Ama Iwel, batu motif D miliknya diperolah dari bongkahan batu kecil. “Dipastikan tidak ada duplikatnya,” ujarnya. Sebelumnya, ia juga pernah memenangi lomba batu akik dengan motif salib.

Ama Iwel adalah wirausaha muda yang cukup sukses di Moi. Ayah dari Iwel Kristal Hagaini Halawa, Nicolash Arjuna Halawa, dan Nicky Andra Halawa ini mengaku fokus dan senang akan profesinya sebagai wirausaha. Kini omzet usaha katering yang sudah dilakoninya selama tujuh tahun ini rata-rata 3,5 juta sampai dengan Rp 4 juta per hari. Ia juga mengaku memiliki beberapa jenis usaha lain yang sedang ia rintis.

Selain karena letaknya yang strategis, karena berada di pertengahan jalur Gunungsitoli-Nias Barat, warung Arjuna ini juga menyuguhkan daya penarik lainnya. Di bagian belakang warungnya ia “memamerkan” ikan-ikan peliharaannya, yang terdiri dari ikan mas, lele jumbo dan juga ada belut. Pameran ini menjadi daya pikat dan hiburan tersendiri bagi pengunjung. “Ini hanya untuk hobi saja. Tidak diperjualbelikan,” ujar Ama Iwel yang mengaku hanya lulus SMP ini.

Jika ingin berkomunikasi dengan Ama Iwel atau ingin mencicipi suguhan makanan di Warung Arjuna, silakan saja mampir. “Catat saja nomorku Bang, 081370008893,” ujarnya kepada Kabar Nias. [knc01r]

BAGIKAN
Berita sebelumyaBPHMS AFY Periode 2015-2020 Mulai Bekerja
Berita berikutnyaApakah Penyakit HIV/AIDS Bisa Disembuhkan?
Apolonius Lase

Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, “Kamus Li Niha (Nias Indonesia)” telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com