HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL

Berikrar untuk Perempuan Nias

1
632

Oleh Happy Suryani Harefa

Wahai Perempuan, apa kabarmu? Bulan ini adalah bulan peringatan terhadap Hari Perempuan Internasional (HPI) atau International Women’s Day (IWD). Peringatan  HPI tidak terlepas dari sejarah kelam bagi perempuan dalam memperjuangkan kesetaraan di berbagai bidang; ekonomi, politik, dan sosial. Tahun ini kita memperingati HPI yang ke-105, tepatnya jatuh pada tanggal 8 Maret 2016. Secara nasional, peringatan HPI di Indonesia masih mengusung isu-isu yang belum tuntas seputar perlindungan pekerja rumah tangga, isu kekerasan seksual terhadap perempuan, isu produk hukum yang diskriminatif terhadap perempuan, termasuk isu pernikahan anak. Jalan menuju kesetaraan masih panjang dan berliku bagi perempuan.

Kembali ke pertanyaan di atas, apa kabar perempuan? Pertanyaan ini sangat relevan untuk kita gaungkan pada hari ini, pada bulan ini, supaya menjangkau banyak telinga; telinga perempuan sendiri, laki-laki, pemerintah, anggota parlemen, partai politik, para akademisi, aktivis LSM/NGO dan para tokoh agama. Apa kabar perempuan? Pertanyaan ini tidak hanya sekadar dijawab dengan kata “baik-baik saja atau buruk”. Pertanyaan ini membutuhkan jawaban angka-angka dan persentase-persentase. Kiranya menjadi pekerjaan rumah bagi semua untuk memberikan jawaban di lingkungan dan wilayah kerja kita masing-masing.

“Pledge for Parity” adalah tema besar peringatan Hari Perempuan Internasional tahun ini. Dalam bahasa Indonesia dapat kita artikan “Ikrar untuk Kesetaraan”. Tema ini bertujuan mendorong semua pihak merayakan HPI dengan berikrar untuk mengambil langkah nyata dalam mempercepat tercapainya kesetaraan jender. Ikrar ini bisa dengan membantu anak-anak perempuan mewujudkan impian mereka, mendorong kepemimpinan yang seimbang jender, mengembangkan budaya yang lebih inklusif dan fleksibel terhadap isu jender atau mematikan budaya-budaya bias jender di tempat kerja.

Apa Kabar Perempuan Nias 

Secara umum kondisi perempuan di Nias tentu telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Kondisi hari ini sudah jauh berbeda dibandingkan dengan kondisi 10-20 tahun yang lalu. Namun, bukan berarti bahwa perempuan Nias sudah terbebas dari persoalan. Sesekali kita jangan sampai lengah dengan gambaran perempuan Nias yang berseliwaran di depan mata kita lewat media-media sosial. Ingat bahwa media sosial hanya dimiliki oleh perempuan yang secara ekonomi dan pendidikan sudah tergolong baik.

Jika di media sosial kita melihat perempuan Nias yang setiap minggu selfie dengan kebaya atau gaun keluaran baru, jangan lupa di sisi lain pulau ini masih lebih banyak perempuan yang hanya mampu membeli baju baru sekali setahun saja.

Jika di media sosial kita melihat perempuan Nias yang halus putih mulus dengan sentuhan kosmetik-kosmetik bermerek, jangan lupa di sisi lain pulau ini masih lebih banyak perempuan yang menghitam dengan kaki korengan karena setiap hari harus bekerja di sawah demi sesuap nasi.

Jika kita mulai melihat perempuan Nias berlomba-lomba holiday ke luar negeri, jangan lupa bahwa masih ada ribuan perempuan Nias yang masih kesulitan air bersih, hidup dalam rumah beralaskan tanah, tidak bisa sekolah, tidak punya kakus, dan tidak cukup gizi.

Pada 2015, pemerintah pusat menetapkan empat kabupaten di Pulau Nias sebagai daerah tertinggal. Di sana sudah jelas bahwa masih ada banyak persoalan dengan kehidupan perempuan Nias karena dalam banyak kasus kemiskinan, perempuanlah yang selalu lebih menderita. Sebagai contoh, seandainya kemiskinan itu adalah ketiadaan sarana jalan aspal, semua perempuan yang mengalami komplikasi kehamilan/persalinan akan mengalami masalah saat keadaan darurat. Laki-laki tidak akan pernah mengalami hal ini.

Pentingnya Ikrar Kepala Daerah

Keterbelakangan dan ketertinggalan perempuan bukanlah karena dosa dan kesalahan perempuan. Ketertinggalan perempuan lebih tepatnya disebabkan oleh sistem dan budaya yang diskriminatif. Persoalan ini menjadi lebih kompleks di daerah-daerah yang menganut budaya patriarkhi, seperti Nias. Sejak lahir, laki-laki telah mendapatkan hak istimewa sebagai ahli waris dan pemegang otoritas tertinggi. Hal ini menempatkan laki-laki di kelas atas dalam keluarga dan menjadi skala prioritas untuk dimandirikan.

Berikrar untuk perempuan ibarat mendobrak tembok tebal sistem dan budaya yang telah mengakar. Dalam hal ini Ikrar dari pasangan kepala daerah sangat dibutuhkan. Peringatan HPI tahun ini adalah momen yang sangat baik karena Kabupaten/Kota, termasuk di Pulau Nias, baru saja memilih kepala daerah yang baru. Beberapa daerah bahkan lebih beruntung lagi karena kelima kepala daerah masih belum dilantik. Artinya, masih ada ruang yang cukup untuk memetakan persoalan-persoalan wilayah, termasuk persoalan yang masih melilit kaum perempuan Nias, sebelum disibukkan oleh rutinitas sebagai kepala daerah kelak.

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) atau Global Goals yang merupakan agenda pembangunan bersama antarbangsa menuju 2030, salah satunya masih mengusung isu kesetaraan jender. Hal ini akan semakin menjadi kekuatan bagi kepala daerah terpilih memaksimalkan ikrar dalam mempercepat akselerasi kesetaraan jender di wilayah masing-masing.

Agenda kesetaraan jender bukan berarti mesti berlabelkan “jender” sebagaimana selama ini banyak dipahami secara keliru. Mengusung agenda kesetaraan jender adalah tentang komitmen dalam menjadikan jender sebagai isu lintas sektor dan menjadikannya sebagai salah satu indikator penting keberhasilan pembangunan di kabupaten/kota. Semua ini sangat ditentukan oleh arah kebijakan kepala daerah sehingga dalam hal ini, ikrar dari seorang kepala daerah menjadi sangat penting.

Mari Berikrar untuk Perempuan Nias 

Ikrar untuk perempuan Nias tidak mensyaratkan usia, jenis kelamin, dan atau profesi. Setiap orang dan setiap profesi dapat mengucapkan dan menunaikan ikrarnya sendiri. Bisa berikrar untuk berhenti melakukan KDRT, berikrar berlaku adil jender pada anak-anak di rumah, berikrar untuk mendorong kemandirian perempuan, berikrar mengusung lebih banyak calon perempuan di pemilu legislatif, berikrar mengurangi stereotype jender, berikrar tidak korupsi, berikrar tidak melakukan pelecehan dan kekerasan seksual, berikrar kampanye kesetaraan jender lewat fotografi, berikrar tidak menikahkan anak-anak di bawah umur, berikrar menyekolahkan anak-anak perempuan, dan seterusnya.

Ikrar kita semua akan membebaskan perempuan Nias dari belenggu yang menghalangi gerak langkah selama ini. Ikrar kita akan mencetak lebih banyak lagi perempuan Nias yang berdaya saing.

Selamat berikrar, selamat merayakan Hari Perempuan Internasional ke-105.

BAGIKAN
Berita sebelumyaParpol di Pulau Nias Harus Berhenti Main Politik Uang
Berita berikutnyaMemori 33 Tahun Lalu, Orang Nias Takut Buta akibat Gerhana Matahari
Happy Suryani Harefa
Lahir di Desa Ononamölö Tumula, Alasa, Nias Utara, pada 13 November 1980. Tamat sarjana Farmasi dari Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada 2002. Sejak 2005 hingga saat ini dipercaya menjadi Direktur Yayasan Holi’ana’a, LSM lokal yang peduli pada pengembangan ekonomi dan transformasi sosial, dengan muatan program khusus pada isu ketertinggalan perempuan. Berbagai lokakarya dan pelatihan telah diikuti, antara lain, training “Climate Change Governance” di Universitas Wageningen, Belanda. Ia juga aktif di Konsil LSM Indonesia, sebuah wadah yang beranggotakan sekitar 100 LSM di Indonesia yang bekerja untuk transparansi dan akuntabilitas LSM.
  • S. O. Elman Zalukhu

    Opini ini sungguh sangat baik dan sangat benar.
    Sudah selayaknya bagi siapapun memahami hal ini (hak perempuan). Terutama terhadap budaya patriarki yang ada sejak lama.

    Namun selain itu, mari kita melihat akar permasalahannya yang lainnya, mari kita mengungkap sejarah sehingga dideklarasikannya tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan se-Dunia (IWD).

    Saya fikir bahwa yang dibutuhkan oleh perempuan dimanapun saat ini adalah bukan hanya terletak pada kesetaraan gender yang berdalih pada budaya patrarki. Namun, juga perlu untuk dipahami bahwa penindasan terhadap hak perempuan juga dilakukan oleh sistem kapitalis. Dalam sistem ini tidak mengwnal gender, artinya perempuan juga menindas perempuan.

    Sistem yang dibangun oleh kapitalis adalah munculnya budaya feminisme, seperti yang Saudari Happy S. Harefa kemukakan. Adanya tuntutan untuk menggunakan alat-alat kosmetik, pakaian-pakain yang populare ajar terlihat lebih aduhai/cantik atau feminim. Munculnya tuntutan untuk membeli alat-alat kosmetik, dan pakaian bermerek, yang mana itu adalah tujuan dari kapitalis itu sendiri.

    Juga di lingkungan sosial, ada banyak cap/istilah terhadap kaum perempuan yang kerja malam sebagai lonte, bertato karena tuntutan profesi sebagai perempuan tidak bermoral, dan lain sebagainya.

    Sehingga, saya fikir bahwa yang menindas kaum perempuan adalah budaya patriarki dan kapitalis itu sendiri. Dominan diantaranya adalah kapitalis karena patriarki pun juga dimunculkan oleh kapitalis itu sendiri.