PROFIL DESA

Potret Kekompakan Antarwarga ala Desa Fadoro Yöu

1
24
Jembatan darurat yang dibangun secara gotong royong oleh warga Desa Fadoro Yöu, Kecamatan Gunungsitoli Alo'oa, Kota Gunungsitoli. Foto: Dokumentasi Nitema Mendröfa.

Kepemimpinan yang berorientasi melayani publik sudah mulai menjadi “gaya kepemimpinan” di pemerintahan masa kini. Semangat pemerintahan bersih yang dipertontonkan oleh pemimpin negeri ini, Presiden Joko Widodo, dan juga beberapa kepala daerah, seperti eks Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama dan Wali Kota Surabaya Rismaharini, mendorong reformasi dalam birokrasi di berbagai tingkatan. Perkembangan teknologi di mana masyarakat dengan mudah bisa mengawasi setiap program pemerintahnya telah membawa perubahan besar pada pola pemerintahan, bahkan hingga di tingkat desa.

Semangat pembaruan ini bisa kita potret di Desa Fadoro Yöu, di Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa. Beberapa waktu lalu, Pemerintah Kota Gunungsitoli mengusulkan desa ini ke Kementerian Keuangan melalui KPPN Gunungsitoli sebagai desa terbaik dalam penyelesaian kegiatan fisik dana desa yang 60 persen juga tercepat dalam penyerapan dan penyelesaian laporan pertanggungjawaban.

Kepala Desa Fadoro Yöu Nitema Mendröfa. Foto: Apolonius Lase

Rahmat Zebua, Kepala Bidang Pemerintah Desa PMDK Kota Gunungsitoli, mengatakan bahwa Desa Fadoro Yöu diusulkan Kota Gunungsitoli ke Kementerian Keuangan sebagai calon desa terbaik dalam penggunaan dana desa atas rekomendasi pihak Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa. “Kita tunggu saja dulu hasil identifikasi dan penelitian dari Kemenkeu,” ujarnya.

Bertemu dengan Kepala Desa Fadoro Yöu Nitema Mendöfa (43), di rumahnya yang sekaligus menjadi kantor, segera tergambar aura dan semangat membangun di setiap pembicaraan dan keberpihakan kepada warganya. Pria berperawakan tinggi ini mengaku bahwa tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepada dirinya ini adalah amanah yang terus dia jaga dan dia jalankan dengan sebaik-baiknya.

Dalam menjalankan pemanfaatan dana desa, Nitema sangat berhati-hati. Ia mengedepankan prinsip taat asas, taat aturan, sehingga semua proses yang diatur dijalankannya. Termasuk memasang pengumuman penggunaan dana desa pada sebuah baliho yang dipasang di ruang publik.

Nitema berfoto di samping baliho berisi penggunaan dana desa. Transparansi anggaran ini terus dijalankan oleh Nitema di desanya dalam penggunaan dana desa. Foto: Apolonius Lase

Ia mengawali pembicaraan dengan rasa senangnya karena dalam beberapa waktu terakhir ini dirinya bisa terhubung dengan kelompok masyarakat yang berada di perantauan yang mau berdiskusi tentang kemajuan Nias. Ini merujuk pada kelompok diskusi sebuah grup WA. Lewat forum itu dirinya bisa banyak belajar dan mendapatkan inspirasi.

“Lewat diskusi-diskusi dari para senior serta orang-orang berpengalaman di forum diskusi itu saya banyak belajar dan terinspirasi. Saya percaya bahwa lewat komunikasi, apa yang menjadi permasalahan nyata kami di daerah ini bisa diketahui oleh saudara-saudara kami yang berada di luar sana. Syukur-syukur permasalahan kami bisa difasilitasi dan dicarikan jalan keluar,” ujar Nitema.

Bagi Nitema, desa yang ia pimpin sangat berpotensi untuk bisa dikembangkan. Ia mengakui bahwa desanya dengan kontur berbukit pernah dulu menjadi trek pencinta sepeda motor trail.

“Jika ini dibangkitkan kembali, saya rasa desa kami bisa mendapatkan keuntungan dan desa kami bisa maju. Desa kami juga bisa digunakan sebagai arena outbond dan menjadi ekowisata dengan menjual alam yang alami. Selain itu potensi hasil alam sangat besar dari desa, seperti karet dan juga berbagai hasil alam lain, seperti pisang. Mohon bapak-ibu bisa memberikan kami masukan, atau bahkan bantu kami bikin kami program untuk diterapkan di desa kami,” ujar Nitema yang dilantik pada 24 November 2016 ini.

Apa yang dilakukan Nitema selama kepemimpinannya adalah bagaimana memberdayakan masyarakat. Saat ini Nitema yang akrab dipanggil Ama Evi ini tengah mengutus dua orang warga Fadoro Yöu untuk mengikuti kursus menjahit. Setelah tamat, kedua orang ini menjadi tutor bagi warga lainnya.

“Pada 2018 ini akan ada pengadaan 10 unit mesin jahit untuk alat berlatih bagi masyarakat yang berminat menjahit. Pemikirannya, masyarakat desa selalu datang ke Gunungsitoli untuk menjahitkan pakaian. Akan lebih efektif jika di desa ini juga ada tempat menjahitkan pakaian,” ujar Nitema.

Saat ini ia juga dengan dibantu oleh pemuda desa yang bisa komputer, mengajar anak-anak di desanya untuk belajar komputer. Pelatihan komputer ini dilaksanakan dua kali dalam seminggu.

“Jadi, nanti jika sudah tamat sekolah adik-adik yang belajar komputer ini tidak kagok dan bisa bersaing dengan anak-anak lain untuk bisa bekerja,” kata Nitema.

Bagi Nitema, ia berusaha meletakkan fondasi pemerintahan yang baik di desanya. Ia ingin melihat pembangunan di desanya dinikmati oleh seluruh masyarakatnya. Lahan-lahan pertanian akan segera kami berdayakan, menamam padi, cabai, dan sebagainya yang bisa menjadi penambah penghasilan masyarakat.

Sanitasi dan Air Bersih

Untuk menjadikan Fadoro Yöu menjadi desa sehat, Nitema bersama perangkat di desanya sedang merencanakan untuk membuat toilet bersama tangki septik (septic tank)-nya pada 150 rumah di desanya.

“Kami lakukan ini secara bertahap menggunakan dana desa. Tahap kedua menjadi 150 rumah lagi,” katanya.

Menurut Nitema, toilet adalah masalah krusial di desanya. Tidak hanya itu, ketersediaan air bersih juga menjadi permasalahan sendiri. Hampir 75 persen penduduk Desa Fadoro Yöu menggunakan air hujan sebagai sumber kebutuhan air sehari-hari.

“Kami sudah menemukan sumber air yang bisa kami kelola menjadi sumber air bersih untuk seluruh desa kami. Lokasinya di Dusun 5, volume airnya besar dan tidak pernah kering. Kami akan siap membangun penampungan dan mengalirkannya menggunakan pipa-pipa besi. Pipa besi kami gunakan ketika melewati kebun-kebun agar awet. Untuk masuk ke rumah menggunakan pipa paralon,” ujarnya.

Toleransi dan Gotong Royong

Di desa yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Kota Gunungsitoli ini terdapat 9 gereja, yakni gereja GNKP 3 unit, BNKP (1), Katolik 2 unit, Gereja Pentakosta Tabernakel (GPT) 1 unit, GKJI 1 unit.

Nitema mengatakan bahwa kehidupan warganya sangat rukun. Perbedaan yang ada justru menjadi semangat masyarakat untuk bahu-membahu bergotong royong dalam menyelesaikan setiap persoalan yang menyangkut kepentingan bersama.

“Jauh sebelum saya menjadi kepala desa, kami warga Desa Fadoro Yöu sudah sangat kompak. Ini sudah turun-temurun. Saya sebagai kepala desa memosisikan diri sebagai bagian dari semua warga, tanpa ada sekat-sekat. Setiap kali ada kepentingan bersama, kami tinggal berkumpul, berdialog, dan langsung bergotong royong,” ujarnya.

Bicara soal kebersamaan, warga Desa Fadoro Yöu telah membentuk panitia bersama untuk menggelar Natal Bersama. Mereka merencanakan untuk merayakan Natal bersama pada awal Januari 2018.

Terkait hasil dari semangat gotong royong ini sudah banyak contoh. Disampaikan Nitema, belum lama ini, jembatan di sungai yang membelah desa mereka yang berada di daerah pegunungan itu putus, spontan warga semua turun tangan untuk bergotong royong. “Kami mengangkat batang pohon kelapa bersama-sama agar sungai ini bisa diseberangi menggunakan sepeda motor dan pejalan kaki,” kata Nitema.

Masyarakat Desa Fadoro Yöu, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kota Gunungsitoli, mengangkat batang pohon untuk membuat jembatan di Sungai Sowu. Foto: Dokumentasi Nitema Mendröfa.

Pengamatan pada akhir Oktober 2017 lalu, jembatan di Sungai Sowu memang masih berupa batang kelapa. Menurut Nitema, pembangunan permanen jembatan Sowu sudah masuk dalam perencanaan dan akan dieksekusi pada TA 2018.

Untuk infrastruktur jalan yang menuju setiap dusun di Desa Fadoro Yöu, menurut Nitema, perangkat desa bersama warga sudah bersepakat untuk memperbaiki menggunakan dana desa. “Target kami, semua jalan dusun harus sudah dibatui. Untuk pengaspalan nanti biar menjadi tanggung jawab Wali Kota Gunungsitoli,” kata Nitema bersemangat.

Para siswa SD memanfaatkan jembatan darurat di Sungai Sowu, Desa Fadoro Yöu, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kota Gunungsitoli. Foto: Dokumentasi Nitema Mendröfa.

Begitu juga Nitema telah merencanakan untuk pembentukan tim olahraga, seperti tim voli dan sepak bola (futsal) dari Desa Fadoro Yöu.

“Selain itu, kami juga sedang merencanakan untuk bergotong royong membuat tempat penjualan di harimbale yang ada di desa kami supaya lebih nyaman. Termasuk menata agar para penjual bisa secara maksimal berjualan hasil bumi, hasil kreatif, atau olahan-olahan kuliner,” ujarnya.

Pendirian PAUD

Adapun sarana pendidikan baru tersedia satu gedung sekolah dasar (SD). SMP dan SMA tersedia di kota kecamatan yang relatif masih bisa dijangkau oleh siswa-siswi yang berasal dari desa tersebut.

Menurut ayah dari lima orang anak ini, pihaknya sedang mengupayakan pendirian pendidikan anak usia dini (PAUD). “Pendidikan untuk anak usia dini atau PAUD ini sedang kami rencanakan. Mudah-mudahan pada tahun 2018 ini kami sudah memiliki PAUD, paling tidak satu PAUD di setiap dusun. Artinya kami membutuhkan 6 PAUD,” kata Nitema.

Menurut Nitema, untuk pendirian PAUD di desanya pihaknya akan memerlukan bantuan berbagai pihak agar PAUD ini bisa. Dirinya bersama pengurus desa sedang membicarakan terkait tempat, guru, peralatan, serta materi pelajaran.

“Sudah pasti akan ada pendampingan dari tingkat kecamatan dan kota. Namun, kami terbuka untuk menerima sumbangan buku anak-anak, khususnya untuk anak-anak usia dini, seperti buku dongeng bergambar, alat-alat peraga untuk permainan,” kata suami dari Yasniar Zebua ini.

Nitema menambahkan, “Jika diaspora Nias di mana pun dan lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan yang mau berpatisipasi, kami sangat welcome. Silakan kirim atau datang langsung ke desa kami, di Desa Fadoro Yöu, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, Kota Gunungsitoli Kode Pos 22851. Silakan hubungi kami di HP atau WA +62 82360924444.”

Jumlah penduduk

Desa Fadoro Yöu terdiri dari enam dusun, yakni Dusun 1, Fadoro dengan jumlah penduduk 325 jiwa; Dusun 2, Botogawu (137 jiwa); Dusun 3, Hilimbaruzö (92 jiwa); Dusun 4, Orahili (152 jiwa); Dusun 5, Hiligara (98); dan Dusun 6, Madula (211 jiwa). Jadi, total penduduk Desa Fadoro Yöu mencapai 1.015 jiwa dengan 492 orang laki-laki dan 532 perempuan.

Desa ini di sebelah utara berbatasan dengan Desa Laehuwa, Kecamatan Alasa Talu Muzöi (ATM) dan Desa Fulölö, Kecamatan Namöhalu Esiwa, Kabupaten Nias Utara. Di timur, berbatasan dengan Desa Hiligodu Tanö dan Desa Hiliduho, Kabupaten Nias. Sebelah selatan berbatasan dengan Desa Lasara Tanö, Kecamatan Hiliduho, Kabupaten Nias. Adapun sebelah barat berbatasan dengan Desa Laehuwa, Kecamatan ATM, Kabupaten Nias Utara.

Pelayanan Publik

Menjadi salah satu desa terbaik di Kota Gunungsitoli, Desa Fadoro Yöu terus memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada masyarakatnya. Sosok kepala desanya terus memikirkan cara-cara yang efektif agar masyarakat bisa terlayani kebutuhannya, terutama dalam dokumentasi kependudukan.

Beberapa waktu lalu, di Kantor Kepala Desa Fadoro Yöu, pihak Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Gunungsitoli berkantor selama seminggu di Kantor Kepala Desa Fadoro Yöu dengan segala peralatannya melayani masyarakat seperti perekaman data KTP elektronik, surat akta lahir, dan sebagainya.

Suasana pengurusan dokumen kependudukan warga Desa Fadoro Yöu, Kecamatan Gunungsitoli Alo’oa, oleh Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Gunungsitoli, di kantor Kepala Desa Fadoro Yöu. Foto: Dokumentasi Nitema Mendröfa.

“Masyarakat kami sangat terbantu dengan program ini. Bayangkan waktu yang digunakan habis untuk datang ke Kota Gunungsitoli sekadar urus KTP-el atau akta lahir.

Pola pemerintahan desa yang dijalankan Nitema yang berorientasi pada pelayanan publik dan semangat gotong royong serta menerapkan prinsip transparansi dan antikorupsi bisa menjadi inspirasi untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang sejahtera.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMenyoroti Pembangunan Infrastruktur di Kepulauan Nias
Berita berikutnyaSaya Bukanlah Seorang Penulis, Hanya Ingin Berbagi…
Apolonius Lase

Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, “Kamus Li Niha (Nias Indonesia)” telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com

  • Khala Khala Dermawan Mendrofa

    Saya sangat banga Dan senang’dgn program-program yg sdg Di Gagas Oleh kepala desa fadoroyou Saat ini. Semoga pelaksanaannya lancar.