SUARA DIASPORA

Pengembangan Destinasi Pariwisata di Kepulauan Nias

0
33
Pintu gerbang masuk Bandara Binaka. Membenahi serta meningkatkan kapasitas Bandara Binaka adalah salah satu faktor memajukan sektor pariwisata di Kepulauan Nias. Penerbangan langsung ke Nias diharapkan bisa menambahkan animo wisatawan Nusantara dan mancanegara untuk berwisata di Kepulauan Nias.

Moderator/Penanggap Utama: Dr Fönali Lahagu
Co-Moderator: Agus Peterson Sarumaha

Bidang pariwisata merupakan salah satu bidang unggulan untuk mendukung pergerakan kemajuan ekonomi. Daerah-daerah destinasi wisata unggulan, seperti Bali, Danau Toba, Bunaken, mampu memberikan hasil untuk kemajuan ekonomi masyarakat.

Namun, pengembangan pariwisata perlu usaha dan kerja keras.  Bidang pariwisata memerlukan teknik perencanaan yang baik dan tepat. Teknik pengembangan harus menggabungkan beberapa aspek penunjang kesuksesan pariwisata. Aspek-aspek tampak pada akses transportasi dan promosi yang masif di media elektronik, infrastruktur pariwisata seperti hotel, rumah inap (homestay), rumah makan, tingkat interaksi sosial, keterkaitan/kompatibilitas dengan sektor lain, daya tahan akan dampak pariwisata, tingkat keramahan warga lokal, dan lain-lain.

Pengembangan destinasi wisata alam dan kearifan lokal berdampak pada penyediaan akses transportasi, infrastruktur jalan, hotel, dan aspek-aspek lain. Aspek-aspek ini sangat penting untuk menunjang perkembangan pariwisata. Gunn and Var (2002) mengemukakan bahwa suatu kawasan wisata yang baik dan berhasil secara optimal didasarkan pada beberapa aspek, yaitu mempertahankan kelestarian lingkungannya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut, menjamin kepuasan pengunjung, meningkatkan keterpaduan dan kesatuan pembangunan masyarakat di sekitar kawasan dan zona pengembangan.

Kepulauan Nias memiliki potensi destinasi pariwisata yang luar biasa, seperti Pulau Asu/Kepulauan Hinako, Pantai Sorake, Pantai Laowömaru, Pantai Gawu Soyo, Pantai Foa, Muara Indah, Museum Pusaka Nias, Lompat Batu, Desa Wisata Orahili, Taman Ya’ahowu, Goa Tögindrawa. Namun, pengelolaan destinasi pariwisata tersebut dirasa masih belum maksimal. Kunjungan wisatawan ke Kepulauan Nias pun dapat dihitung dengan jari setiap tahun. Selain itu, banyak program pengembangan yang sudah dilakukan, tetapi tidak juga membuahkan hasil.

Mempercantik tempat-tempat wisata seperti Museum Pusaka Nias ini adalah sebuah keharusan untuk dilakukan, baik oleh pemerintah daerah maupun pelaku wisata di Kepulauan Nias. Foto: Apolonius Lase

Karena dirasa semakin mendesaknya upaya pembenahan dan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias, Grup Whatsapp Orahua Tötönafö (OTT) kembali menyelenggarakan diskusi pada 30 Oktober 2017. Tampil sebagai moderator/penanggap utama diskusi adalah Dr Fönali Lahagu dari Yogjakarta dan Co-Moderator adalah Agus Peterson Sarumaha dari Jakarta. Sementara peserta diskusi adalah orang Nias yang berdomisili di Nias dan perantauan. Mereka berprofesi sebagai pejabat pemerintahan daerah, mantan pejabat, DPRD, pakar pendidikan, motivator/trainer, pensiunan, rohaniwan, dosen, karyawan swasta, wartawan, dan para mahasiswa asal Nias yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri. Diskusi berlangsung dari Pukul 18.00–23.00 WIB. Tema adalah “Pengembangan Pariwisata di Kepulauan Nias (Masalah dan Solusi)”.

Apa itu destinasi pariwisata? Destinasi pariwisata dibagi ke dalam dua kata, destinasi dan pariwisata. Menurut Holloway (2009), pariwisata adalah aktivitas dari pemanfatan waktu luang atau leisure, dan keluar negari untuk mencari sesuatu yang berbeda dari kebiasaan sehari-hari dan memberikan dampak ekonomi pada masyarakat lokal. Sementara destinasi merupakan suatu tempat yang dikunjungi dengan waktu yang  signifikan selama perjalanan seseorang dibandingkan dengan tempat lainnya yang dilalui selama perjalanan (misalnya daerah transit). Suatu tempat akan memiliki batas-batas tertentu baik secara aktual maupun hukum. Menurut Ricardson dan Fluker (2004) destinasi pariwisata didefinisikan sebagai: ”A significant place visited on a trip, with some form of actual or perceived boundary. The basic geographic unit for the production of tourism statitistics” (Ricardson dan Fluker, 2004).

Identifikasi Masalah

Peserta diskusi dari berbagai latar belakang tersebut berhasil mengidentifikasikan hambatan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Hambatan-hambatan tersebut dibagi ke dalam beberapa bidang besar sebagai berikut:

  1. Bidang Kebudayaan: Sebagian masyarakat Ono Niha masih kurang menunjukkan sikap ramah kepada wisatawan; keamanan dan kenyamanan wisatawan belum terjamin.
  2. Bidang Infrastruktur: infrastruktur masih sangat minim, seperti hotel, teknologi internet, jalanan beraspal, transportasi, akses dari dan ke bandara, penerbangan yang masih relatif mahal dan juga akses ke tempat-tempat wisata, lokasi wisata belum tertata dengan baik dan belum terintegrasi. Fasilitas rumah huni (homestay) yang minim dan restoran yang masih jauh dari standar kepariwisataan, baik secara kualitatif dan kuantitatif, makanan di tempat wisata tidak memenuhi standar daerah wisata, penginapan tidak memiliki air bersih yang cukup.
  3. Bidang SDM: Masyarakat dan pemerintah daerah belum sadar wisata. Masih banyak yang belum menyadari lokasi wisata yang ada sehingga tidak terpelihara dan tidak tertata, keramahan, skill (kemampuan bahasa), dan juga tata cara dalam menyiapkan atraksi budaya yang bisa menjadi daya tarik tersendiri. Penduduk setempat belum teredukasi sehingga infrastruktur yg ada tidak dirawat dan merasa tidak memiliki dan pelatihan sadar wisata dari kementerian belum berjalan.
  4. Bidang Marketing: Promosi pariwisata belum terprogram dan belum terlaksana, termasuk fungsi duta pariwisata yang belum maksimal untuk mempromosikan pariwisata kepulauan Nias.
  5. Bidang Politik dan Keamanan: Regulasi penentuan desa wisata belum ada, pemerintah daerah dan dinas terkait kurang pemahaman dalam hal pengembangan bidang pariwisata,
  6. Bidang Ekonomi: mahalnya ongkos perjalanan ke Nias.
  7. Kebijakan Anggaran: Kebijakan anggaran dan RKA yang dialokasikan untuk pariwisata masih minim.

Strategi Pengembangan Pariwisata

Diskusi terkait pariwisata ini berhasil membuat strategi pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias. Strategi pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias dibagi menjadi 6 (enam) strategi sebagai berikut.

  1. Strategi Kebudayaan: Pemkab/pemkot dan gereja du Kepulauan Nias harus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk membangun sikap welcome dan ramah, memberikan rasa aman dan nyaman terhadap tamu (wisatawan). Edukasi dapat dilakukan melalui pencerahan-pencerahan di mimbar-mimbar gereja, pemerintahan, sekolah, dan organisasi-organisasi masyarakat.
  2. Strategi Pengembangan Infrastruktur terdiri atas:
    1. Pembangunan rumah inap/hotel dengan standar layanan internasional, membangun akses jalan ke tempat-tempat pariwisata.
    2. Pembangunan sektor perhubungan dari bandara atau pelabuhan laut ke lokasi-lokasi wisata, pembangunan infrastruktur listrik, telekomunikasi, dan lainnya yang menunjang pariwisata merupakan syarat mutlak.
    3. Penataan obyek wisata/destinasi wisata seperti penataan Pantai Sorake, Rumah Adat, Pulau Asu, dan lain-lain dengan standar internasional.
  3. Strategi Marketing terdiri atas:
    1. Melakukan launching promosi pariwisata Nias.
    2. Melakukan promosi pariwisata Nias dengan agenda Pesta Ya’ahowu setiap tahun/promosi swadaya masyarakat solusi efektif menjual pariwisata Nias.
    3. Pemanfaatan dunia virtual untuk promosi pariwisata yang low cost dan menjangkau semua wilayah, serta dapat terekspos dengan cepat.
    4. Menetapkan tagline promosi pariwisata (bagian dari persyaratan dari Kementerian Pariwisata).
    5. Mendorong masyarakat terlibat dalam mempromosikan pariwisata melalui berbagai kegiatan dan pertemuan.
    6. Membuat “branding name” Nias yang sangat memesona, menarik, unik dan memiliki karakteristik tersendiri.
  4. Strategi Pengembangan SDM terdiri atas:
    1. Menetapkan pelatihan program sadar wisata bagi warga desa yang sudah ditetapkan sebagai desa wisata.
    2. Mendorong pemuda pemudi Nias untuk mengambil jurusan pariwisata untuk mendukung pariwisata pada masa yang akan datang.
    3. Mendorong masyarakat proaktif/terlibat mengembangkan usaha pariwisata.
    4. Memasukan kurikulum muatan lokal yang fokus kepada kepariwisataan di lembaga pendidikan di semua tingkatan.
    5. Menyiapkan masyarakat untuk menjadi pelaku industri pariwisata, seperti bertani, beternak, berbagai kerajinan tangan.
    6. Membimbing anggota masyarakat untuk mengembangkan karya-karya budaya yang bisa dijadikan souvenir.
  5. Strategi Sosial dan Politik:
    1. Pemkab/Pemkot harus membuat rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIP) secara utuh yang dituangkan dalam bentuk cetak biru (blueprint). RIP yang utuh ini menjadi acuan dan terjemahan untuk RIP kabupaten.
    2. Lima pemkab/pemkot di Kepulauan Nias harus membuat visi-misi dan program bersama dan melakukan perencanaan yang terintegrasi/tersinkronisasi strategi/implementasi pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias.
    3. Membuat program-program pengembangan pariwisata yang mengerucut dalam pencapaian tahun pertama, tahun kedua, sampai tahun kelima sehingga mudah diukur kemajuan dan capaian suatu kegiatan.
    4. Pemkab/pemkot harus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap mereka yang ditugaskan untuk pengembangan pariwisata.
    5. Instansi pengelola pariwisata harus bekerja transparan dan mendorong tumbuhnya pariwisata.
    6. Pemkab/pemkot membuat program jangka pendek dan jangka panjang serta sinergitas pemerintah pusat dan daerah.
    7. Pemkab/pemkot mengupayakan agar Kepulauan Nias menjadi bagian dari program nasional untuk menjadi destinasi wisata utama.
    8. Pemkab/pemkot menyiapkan pemetaan pariwisata Nias berdasarkan kategori dan destinasi. Misalnya, Nias Selatan (Wisata Bahari dan Budaya), Kota Gunungsitoli (Wisata Budaya dan Pusat Ekonomi), dan seterusnya.
    9. Pemkab/pemkot harus melakukan kordinasi melalui Forum Kepala Daerah (Forkada) Kepulauan Nias sehingga daerah unggulan tidak overlap, tetapi saling melengkapi.
    10. Pemkab/pemkot menyiapkan perangkat perundangan berupa pembuatan peraturan daerah yang mengatur penataan, daerah wisata, lokasi wisata, ketentuan yang harus di lakukan, misalnya dalam membangun atau merenovasi rumah, masyarakat dihimbau dan diberi panduan untuk membuat ornamen-ornamen Nias.
    11. Kepala daerah dan para SKPD harus memikirkan strategi dan perencanaan pengembangan pariwisata di Kepulauan Nias.
    12. Pemkab/pemkot harus memiliki kemauan dan kapabilitas kepemimpinan untuk membangun destinasi pariwisata unggulan di Kepulauan Nias.
    13. Pemkab/pemkot perlu memanfaatkan secara positif kehadiran anak-anak Nias di pemerintahan pusat. Bagaimanapun, sebagai pejabat, ada nilai plusnya jika berkomunikasi dengan sesama pejabat. Para kepala daerah di lima DOB di Nias perlu mamagölö/mangosara, saling mendengarkan satu dengan lainnya, serta saling mendukung dalam upaya tersebut.
    14. Pemkab/pemkot perlu membuat satu Badan Pengembangan “Nias Development” yang disepakati dalam Forkada untuk mengeksekusi pengembangan pariwisata Nias berbasis industri pariwisata, berbadan hukum PT Persero yang fokus utama adalah pengembangan kawasan terpadu, publik relation dan marketing, dan pengembangan SDM sadar wisata.
  6. Strategi Ekonomi terdiri atas:
    1. Pemkab/pemkot perlu mengundang investor hotel, rumah makan, dan lain-lain ke Kepulauan Nias.
    2. Menentukan dan memantapkan produk wisata yang bisa dikonsumsi para wisatawan sesuai latar belakang wisatawan.
    3. Membangun bidang perikanan dan pertanian.
  7. Strategi Anggaran: Penyusunan anggaran dalam musrenbang, pemkab/pemkot, DPRD melibatkan tokoh masyarakat dan menyepakati bersama bahwa fokus rencana pembangunan jangka menengah dan jangka panjang adalah sektor pariwisata sehingga mereka mampu memahami kebijakan anggaran yang besar diperuntukkan untuk pengembangan pariwisata.

Ketujuh strategi tersebut dapat menjadi pedoman para pengambil kebijakan untuk mengembangkan destinasi pariwisata di Kepulauan Nias. Implementasi strategi tersebut perlu kerja keras, inovasi, dan kreativitas pemerintah daerah dan semua pihak yang terlibat. Pemerintah daerah juga perlu memiliki komitmen kuat, menghilangkan rasa ego sectoral, keberanian dan terobosan untuk mengeksekusi program-program pengembangan pariwisata, sehingga Kepulauan Nias dapat mengatasi ketertinggalan di bidang pariwisata. Semoga! Yaahowu (Notulis: Marinus Waruwu)