Oleh Fotarisman Zaluchu

Atas pertanyaan seorang warga negara Indonesia yang selama ini bermukim di Belanda, Dr. Solita Sarwono, mengenai arah revolusi mental bangsa dalam kaitannya dengan pendidikan kita, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa prosesnya akan sangat lama. Pemerintah sekarang ini memang sedang mencoba menekankan pada pembentukan karakter.

Dalam kutipan Kantor Berita Antara, Presiden berkata, “Saya sudah sampaikan agar pendidikan SD digeser menjadi 60-70 persen pada pembangunan karakter, etika, dan lainnya, ini perlu persiapan matang” (Antara, 22 April 2016). Presiden juga mengakui bahwa proyek pemerintan yang menekankan pada etika ini masih harus dimatangkan meski Presiden telah memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengevaluasi kurikulum, serta melihat peluangnya dengan menggantinya dengan hal-hal yang berbau kesopanan, etika, dan budi pekerti.

Karakter Itu Apa?

Kita sepakat bahwa membentuk karakter memang tidak mudah. Ini mengenai manusia, bukan tentang barang. Karena menyangkut manusia, diperlukan perlakuan khusus disertai dengan modifikasi yang baik pula.

cover - membangun nias raya 02Tentu mengelola karakter bukanlah sebuah persoalan sederhana. Yang disasar oleh pemerintahan sekarang tentunya adalah karakter yang menyeluruh, baik pribadi, karakter yang berhubungan dengan lingkungan keluarga, lingkungan bermasyarakat, maupun karakter sebagai ciri bangsa.

Dalam pengalaman saya selama ini saat menempuh pendidikan di Belanda, pembentukan karakter bukanlah bagian dari sebuah pelajaran. Namun, itu lebih pada proses yang membungkus materi-materi yang diajarkan. Itu dibentuk sejak dini. Saya beruntung melihat proses pembentukan ini pada anak rekan saya. Rekan saya tersebut memiliki anak usia  di bawah 3 tahun yang secara legal harus dimasukkan ke pre-school milik pemerintah, tanpa bayar. Secara umum mereka hanya sekolah tiga jam selama empat hari dalam seminggu.

Bagaimana mereka mendidik anak seusia itu sekaligus membentuk karakter mereka? Anak-anak di sini memasuki sekolah pada usia paling awal dengan pembekalan hanya pada karakter. Di sekolah, anak-anak usia balita ini bermain-main saja. Ya, benar-benar bermain. Mereka bermain dengan menggunakan mainan susun-susunan kayu yang dulu sempat saya peroleh ketika saya di TK Hanna Blindow di Gunungsitoli. Anak-anak mungil ini belajar menyusun benda sesuai dengan model yang diminta oleh guru. Mereka juga bermain dengan peralatan-peralatan plastik dengan berbagai model, yang dijelaskan oleh gurunya.

Yang menarik, mereka tidak diminta membawa makanan  berat ke sekolah, melainkan buah-buahan. Setiap anak membawa buah untuk kemudian dimakan bersama-sama pada jam istirahat.

Sekolah sejenis demikian memiliki area yang sangat luas. Lapangannya sangat nyaman untuk anak bermain. Dalam sebuah area permukiman, katakanlah setingkat kelurahan, terdapat minimal satu sekolah untuk semua penduduknya. Maka anak-anak yang menempuh pendidikan sampai SD tidak bakalan bertumpuk-tumpuk seperti anak di Indonesia. Kelasnya menjadi kecil, hanya beberapa orang anak saja sehingga setiap anak dapat dipantau oleh guru. Setiap kelas didampingi oleh dua guru.

Melalui cara seperti demikianlah karakter anak dibentuk. Jadi, pelajaran karakter itu “masuk” ke dalam perilaku anak, ketika anak belajar berbagi makanannya kepada temannya sendiri, belajar menghargai guru ketika guru sedang menerangkan, menggunakan waktu dengan patuh karena memang diberikan waktu untuk itu.

Semua saluran tersebut membentuk karakter anak menjadi lebih holistik (menyeluruh) dan benar-benar menemukan pribadi kemanusiaannya secara utuh. Pembentukan karakter terjadi ketika mereka belajar bermain bersama-sama sehingga menghargai temannya yang memiliki warna kulit berbeda. Mereka juga belajar menjadi tertib karena guru menekankan pada ketaatan pada aturan, bukan dengan menakuti-nakuti.

Gambaran sederhana di atas adalah sebuah pembelajaran yang bisa kita petik hikmahnya, yaitu bahwa membentuk karakter bukan “tentang pelajaran apa” yang diberikan, tetapi tentang “cara bagaimana” pelajaran karakter itu disampaikan kepada anak-anak. Faktanya, sebagaimana saya gambarkan di atas, pemberian “pelajaran karakter” itu bukan hanya menyangkut guru, melainkan juga lingkungannya.

Tak jarang anak-anak di sini diminta berkostum tertentu sesuai dengan ketentuan oleh guru, demi mengenal tokoh tertentu. Lalu kadang mereka juga dibawa ke lokasi tertentu entah itu museum atau kebun binatang. Itu semua bisa dilakukan karena guru hanya mendidik beberapa orang murid saja, khususnya pada tingkat pre-school.

Minggu ini saja (akhir April) mereka diberikan keleluasan untuk menikmati liburan, “hanya” karena merayakan ulang tahun Raja Belanda. Sungguh ini sebuah desain lingkungan yang menumbuhkembangkan suasana indah untuk menanamkan karakter-karakter positif seperti yang diidam-idamkan.

Itu belum lagi suasana di mana anak tumbuh dan berkembang. Di sini, setiap kawasan setingkat kelurahan tersebut memiliki taman bermain, lapangan bermain dan ruang yang luas untuk anak-anak. Perhatian yang begitu luas kepada kebutuhan anak-anak memperlihatkan sense of urgensi yang tinggi kepada pembentukan kepribadian anak-anak sejak dini. Itu yang kita belum miliki!

Apa yang saya ceritakan mungkin adalah hal yang ideal. Amat tidak mudah memutarhaluan pendidikan kita yang terkadang penuh dengan tekanan kepada anak. Saya punya anak yang berada pada usia yang sama dengan anak rekan saya yang saya ceritakan. Dia saya kirimkan untuk memasuki pre-school juga di Medan.

Suatu hari di rumah, ia tiba-tiba memegang telinganya sambil mengangkat kakinya sebelah. Ternyata gurunya di sekolah menghukum mereka dengan cara demikian. Bayangkan, anak usia tiga tahun diberikan hukuman! Protes atas hal itu, saya menjumpai gurunya dan mengatakan bahwa hal tersebut sungguh tidak bisa saya terima.

Anak-anak kita juga besar dengan suasana penuh ketidakramahan. Orang-orang dewasa di sekitar anak-anak kita termasuk gurunya sendiri adalah mereka yang sering tidak sopan di depan anak.

Anak saya saat di kelas IV SD, misalnya, pulang-pulang bertanya kepada saya, “Pa, apa artinya sontoloyo?”. Terkejut, saya balik bertanya dari mana ia tahu kata demikian? Ia berkata bahwa ia mendengar kata tersebut dari gurunya yang marah kepada mereka di kelas!  Ironis, sekolah justru menjadi tempat di mana anak-anak kita belajar kekerasan, belajar pengabaian tata krama dan ketidaksopanan.

Lingkungan kita juga sangat jauh dari kenyamanan kepada anak untuk menikmati pendidikannya. Bayangkan saja, bagaimana anak kita bisa bermain pada malam hari bersama kita ketika tiba-tiba lampu byarpet. Kadang kita spontan memaki dan marah.

Ketika pada pagi hari kita berhadapan dengan kemacetan lalu lintas, lalu kita mulai geram dan juga marah. Tak sedikit kalimat makian. Di rumah, anak-anak banyak mengenal dan belajar tentang hal-hal yang tidak baik justru dari orangtuanya, selain dari tontonan yang tidak mendidik dari medium televisi kita.

Inilah perjuangan kita. Sebuah perjuangan yang tidak mudah lagi karena semua sistem yang ada di sekitar kita telah begitu buruk dan sangat tidak menyenangkan kepada anak-anak kita untuk tumbuh dan berkembang dengan baik pada usia mereka yang paling awal.

Konteks Nias

Mungkinkah kita bisa melakukan perubahan, khususnya di Pulau Nias? Peluang terhadap hal itu banyak. Hal itu bisa dimulai oleh para kepala daerah yang baru dilantik ini dengan mengajak para investor menanamkan CSR-nya ke Pulau Nias.

Ada banyak perusahaan yang dengan kerja sama yang baik, pasti akan memberikan bantuan ruangan, lingkungan yang ramah, peralatan belajar, bahkan guru yang baik. Ini harus digagas supaya anak-anak Nias generasi baru terbentuk dengan cara yang lebih baik. Menunggu pemerintah pusat percuma saja karena pemerintah bahkan belum memiliki rumusannya.

Saya terkesan dengan postingan beberapa sahabat dari Indonesia Mengajar. Mereka diseleksi dan diberikan pembekalan untuk mengajar di tempat sulit dengan peralatan yang “berasal dari alam”. Ini yang perlu digagas di Nias. Pemerintah daerah sebaiknya merekrut saja lulusan sarjana pendidikan dari kampus IKIP, untuk didik menjadi sumber daya yang bekerja dengan lebih kreatif dan menggunakan alam sebagai sarana belajar.

Ini saya pikir akan sangat bermanfaat dan solusi yang kreatif. Pendidikan “alam” justru jauh lebih memperluas kreativitas anak dan guru, serta menumbuhkan karakter cinta kepada Nias, kampungnya sendiri.

Lalu, pemerintah daerah yang baru juga bisa meminta kepada para sastrawan Nias, pelaku budaya Nias, serta sejenisnya untuk mendesain ulang hikayat lama, kisah-kisah masa lalu, dan pepatah orang Nias zaman dulu. Itu bisa menjadi bahan belajar, kisah inspirasi untuk disampaikan, bahkan jika memungkinkan menjadi bahan bacaan bergambar atau lagu untuk dijadikan alat bermain bagi anak-anak pre-school atau SD. Semuanya harus berlangsung dengan gratis.

Itulah sepintas usulan saya kepada para kepala daerah yang baru. Pesan saya kepada mereka, mengurus pendidikan itu jangan yang aneh-anehlah. Kerjakan saja yang paling dasar, hasilnya kelak akan kita tuai. Semoga sumber daya manusia Nias kelak sangat unggul dalam karakternya.

  • Apolonius Lase

    Nice artikel dari @Fotarisman Zaluchu. Wajib dibaca.