BENCANA ASAP

Komunitas Anak Muda Kota Medan Serukan “Gerakan Indonesia Berkabung”

0
957
Anggota tim dari berbagai komunitas bersiap melaksanakan gerakan "Indonesia Berkabung". —Foto: Dokumentasi Darwis Nasution

MEDAN, SENIN — Asap dari kebakaran di sejumlah tempat di Kalimantan, Jambi, dan Riau, seminggu terakhir, sudah sangat mengganggu aktivitas masyarakat Kota Medan, Sumatera Utara. Prihatin dengan kondisi ini, Komunitas Anak Muda Kota Medan menyerukan gerakan bertajuk “Wujudkan Indonesia Bebas Asap!”, Senin (26/10/2015), pukul 16.00 di Simpang Waspada, Jalan Brigjen Katamso, Medan. Gerakan ini bertujuan untuk bersama-sama peduli mengatasi bencana asap.

Demikian rilis pers dari Komunitas Anak Muda Kota Medan yang diterima Kabar Nias, Senin pagi. Gerakan sebagai wujud keprihatinan ini disuarakan oleh sejumlah komunitas, antara lain  TurunTangan Medan, Gerakan 70 Tahun Indonesia Merdeka, Hi-Lo Green Community, Care Ibu Foundation, KAM Revolusi Fakultas Hukum USU, BOSH, Laskar Karo Erdillo, Perpustakaan Terapung Kampung Nelayan, CV. Elno Tech.

Anggota tim dari Gerakan 70 Tahun Indonesia Merdeka, Darwis Nasution, kepada Kabar Nias, mengatakan, gerakan ini sebagai bentuk keprihatinan. “Kami mohon teman-teman media massa untuk membantu sosialisasi gerakan bersama ini. Tidak hanya kota Medan, hampir seluruh wilayah Sumatera Utara terkena dampak asap. Kita semua, Indonesia, pantas berkabung,” kata Darwis.

Pantauan Kabar Nias, sejumlah penerbangan dari Kualanamu, Medan, menuju Bandar Udara Binaka, Gunungsitoli, tertunda bahkan batal. Sejumlah penerbangan yang sudah mencoba sampai di Gunungsitoli terpaksa kembali ke Kualanamu untuk terbang lagi sampai kondisi kabut asap berkurang.

Skala Nasional

Menurut para aktivis Komunitas Anak Kota Muda, permasalahan asap sudah menjadi perbincangan skala nasional di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, hanya ada tujuh wilayah yang tidak tertutup asap, yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, dan bagian utara Papua. “Sisanya, selain wilayah yang disebut, sudah terpapar kabut asap,” demikian disebutkan dalam rilis pers.

Sudah hampir satu minggu asap mengancam warga Medan karena asap kiriman dari Riau dan Kalimantan. Kondisi ini sudah sangat menganggu pandangan dan juga pasti kesehatan masyarakat. Atas dasar inilah kumpulan komunitas di kota Medan ini bergerak untuk ikut membantu beban masyarakat terdampak asap.

Aksi pertama, yang digagas oleh Gerakan 70 tahun Indonesia Merdeka, mengusung tema “Pelangi di Atas Asap”. Gerakan ini telah selesai dilaksanakan di Lapangan Merdeka, Medan. Aksi ini dihadiri puluhan komunitas dan “Si Buta dari Gua Hantu” yang berfokus menyadarkan masyarakat tentang bahaya asap, penandatanganan petisi menolak asap, serta donasi untuk korban asap di Riau.

Aksi kedua dengan tema “Gerakan Indonesia Berkabung”—digagas oleh TurunTangan—hari Senin ini berpusat di Jalan Brigjen Katamso, tepatnya di Simpang Waspada. Aksi kali ini akan membagikan 2.500 masker kepada pengguna sepeda motor, membagi selebaran tentang situs Bebasasap.org, dan tentang asap oleh Care Ibu Foundation, serta berdiri di sepanjang trotoar jalan dengan memegang tulisan-tulisan tentang bahaya asap.

Ditegaskan Darwis, dalam aksi kedua ini mereka juga akan berbicara tentang penegakan hukum atas kasus asap di Indonesia. “Karena ketika semua berbicara tentang penanggulangan, kita seakan lupa tentang siapa yang menyebabkan kebakaran hutan di Indonesia dan undang-undang apa yang seharusnya bisa menjerat para pelaku pembakar hutan tersebut,” ujar Darwis.

Kegiatan seperti ini, kata Darwis, akan rutin mereka lakukan secara bergantian. “Aksi ketiga akan digagas oleh Hi-Lo Green Community,” ujarnya.

Komunitas Anak Muda Kota Medan ini mengimbau semua masyarakat untuk ikut berpatisipasi dalam gerakan melawan asap. “Kami yakin dan percaya bahwa negeri sebesar Indonesia tidak bisa hanya diurusi oleh satu atau dua orang, gerakan kolosal masyarakat harus menjadi fokus Indonesia untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada,” imbau Komunitas Anak Muda Kota Medan dalam rilis persnya.

BAGIKAN
Berita sebelumyaMengenalkan Pendidikan Seks kepada Anak Sejak Dini
Berita berikutnyaSudah Lima Hari Bandara Binaka Tak Beroperasi
Apolonius Lase
Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, "Kamus Li Niha (Nias Indonesia)" telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com