PENELITIAN

Bakteri Penyebab Kanker Lambung Diteliti di Nias

0
1256
Prof. Yoshio Yamaoka (baju biru) dan dr. Ari Fahrial Syam (baju putih) didampingi dr Kanserina Dachi. —Foto: Kabarnias.com/Ketjel Zagötö

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Kebiasaan mengonsumsi obat sakit kepala, obat herbal, dan alkohol menyebabkan rata-rata lambung masyarakat Nias mengalami gastritis erosif atau luka pada lambung. Mengonsumsi obat-obat itu juga dapat memicu terjadinya gagal ginjal di kemudian hari.

Demikian diungkapkan oleh Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dr Ari Fahrial Syam, SpPD di RSUD, Gunungsitoli, Selasa (1/3/2016), saat mendampingi Profesor Yoshio Yamaoka dari Oita University, Jepang.

Pemeriksaan lambung 33 responden masyarakat Nias dengan menggunakan alat endoskopi tersebut sebenarnya bertujuan melihat perkembangan bakteri Helicobacter pylori yang berkembang di dalam tubuh. Dari semua responden, 2 positif kuman H pylori. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, bakteri Helicobacter pylori merupakan karsinogen penyebab kanker lambung, yang jumlah penderitanya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

“Di Nias, bakteri Helicobacter pylori ternyata ada meskipun tidak berkembang pesat seperti di daerah lain di Sumatera Utara. Beberapa faktor yang membuat bakteri ini tidak berkembang kemungkinan besar karena faktor genetis,” ujar dr. Ari Fahrial Syam kepada Kabar Nias.

Ari mengatakan, gambaran luka di lambung pasien yang ditemukan terjadi karena kebiasaan pasien mengonsumsi obat-obat sakit kepala atau obat tematik. “Obat-obat itu yang menyebabkan penipisan lambung sehingga menyebabkan luka,” ujarnya.

Ditambahkan dr Ari, kebiasaan makan obat sakit kepala juga menyebabkan sakit ginjal. “Jadi, bukan sakit lambung yang menyebabkan sakit ginjal, tetapi obat-obatan tersebu,” ujarnya kepada Kabar Nias.

“Khusus di Jepang, penderita kanker lambung terus meningkat dan bakterinya semakin jahat. Oleh karena itu, saya melakukan penelitian ini di negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang diwakili oleh lima provinsi besar, termasuk Nias, untuk memetakan dan mencari solusi faktor-faktor apa saja yang memengaruhi perkembangan bakteri ini di daerah-daerah tersebut,” Yoshio Yamako, yang telah memasuki tiga tahun masa penelitian.

Meskipun hasil penelitian bakteri Helicobacter pylori di Nias, di bawah 5 persen, tetapi masyarakat Nias memiliki risiko penyakit gagal ginjal yang cukup tinggi. “Seperti yang saya katakan tadi, pola makan masyarakat Nias harus segera diperbaiki. Padahal, jika segera diketahui sejak dini, kerusakan ginjal akan dapat dihindari,” kata dr. Ari Fahrial.

Tidak hanya pola makan, tambahnya. Asupan gizi, olahraga teratur, dan tidur yang cukup, sangat membantu menyembuhkan luka pada lambung. [ketjel zagötö]