KEBUDAYAAN

Constant Giawa: Perlu Inventarisasi Kekayaan Seni Budaya Nias

0
24
Constant Giawa memberikan briefing kepada peserta sebelum pelaksanaan audisi, Minggu (3/9/2017), di ruang kuliah Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia.

JAKARTA, KABAR NIAS — Kekayaan seni budaya Nias, seperti alat musik, pakaian tradisional, gerak tari, lagu-lagu daerah, perlu diinventarisasi secara baik sehingga generasi muda Nias dan masyarakat luar bisa mengetahui sekaligus bisa menjaga serta memberikan apresiasi.

Hal itu disampaikan oleh seniman Nias, Constant Giawa, di hadapan warga asal Nias di Jabodetabek yang menjadi peserta audisi penyanyi yang diselenggarakan oleh Sanggar Owo Kita, Minggu (3/9/2017), di ruang kuliah Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Timur.

“Saat ini kita sudah sulit mengidentifikasi lagi yang mana baju tradisional daerah Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, dan Gunungsitoli. Jangan-jangan kita perlu menuliskan tulisan ‘Nisel’ pada pakaian adat tradisional Nias Selatan. Begitu juga lagu-lagu Nias, mungkin kita hafal syairnya, tetapi kalau ditanya apa judulnya, siapa penciptanya kita tidak tahu. Ini tantangan untuk kita semua,” kata penyanyi dan pencipta lagu ini.

Constant mengingatkan bahwa generasi muda Nias saat ini harus ambil bagian dalam upaya pelestarian kekayaan seni budaya Nias ini melalui berbagai cara yang bisa dilakukan. Salah satu cara yang digagas adalah lewat pembentukan Sanggar Owo Kita.

Ada tiga bidang yang bisa digarap oleh Sanggar Owo Kita, kata Constant, adalah tarik suara yang diberi nama Owo Voice, gerak dan tari, serta inventarisasi kekayaan seni-budaya Nias.

“Kita semua, terutama anak-anak muda yang ikut audisi Owo Voice hari ini, harus bersiap untuk memperkenalkan Nias ke tingkat nasional dan internasional. Jika Manado, Ambon, dan Batak bisa go international, kita ono niha juga pasti bisa. Kita akan ikuti kontes-kontes yang ada di tingkat internasional. Begitu juga pada Desember 2017 kita akan ikuti konser paduan suara Natal di Grand Indonesia Jakarta,” kata pengasuh grup musik Mohili Project ini.

Pembentukan Sanggar Owo Kita, menurut Constant, adalah berawal dari kesamaan kerinduan untuk bersatu guna berbuat sesuatu untuk tanah kelahiran, Pulau Nias, lewat seni budaya. Constant bersama pengarang lagu Jansen Ya’aro Telaumbanua, seniman dari Seven Anugerah dan Mohili Project dibantu berbagai pihak bersepakat untuk memulai Sanggar Owo Kita.

“Politik sudah pasti tidak bisa mempersatukan kita masyarakat Nias. Begitu juga dalam keagamaan, Anda BNKP, aku Katolik, dia GBI, dan lain-lain juga tidak bisa membuat kita bersatu. Hanya lewat seni seperti lewat nyanyian ini kita bisa bersatu, tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Sebab, musik itu universal,” ujar Constant.

Audisi Tahap Kedua

Dalam audisi Owo Voice, sebanyak 34 orang mengikuti audisi. Dari jumlah yang mendaftar hanya tiga peserta perempuan.

“Kemungkinan kita akan melakukan audisi kembali dalam waktu dekat supaya proporsi jumlah perempuan dan laki-laki bisa seimbang. Kita membutuhkan 16 orang yang tentu terbaik,” kata Jansen Ya’aro Telaumbanua.

Tiga peserta perempuan yang mengikuti audisi Owo Voice.

Jansen menyampaikan bahwa anak-anak Nias, terutama yang ikut audisi, semua berpotensi dalam tarik suara. Hanya, dari pengamatannya, para peserta masih kurang dalam teknik menyanyi, pernapasan, dan penguasaan lagu.

“Kita masih lemah dalam teknik bernyanyi. Namun, lewat latihan kita bisa atasi kekurangan-kekurangan ini,” ujar Jansen.

Dalam kesempatan itu, Constant Giawa mengingatkan generasi muda di Jabodetabek untuk memberi waktu ngumpul bareng di Resto Libri, BPK Gunung Mulia, minggu pertama setiap bulan.

“Untuk September ini kita ngumpul-ngumpul Sabtu, 9 September, pukul 19.00-23.00 sambil ngopi-ngopi. Kita akan diskusi dan bernyanyi bersama. Ini juga bentuk kepedulian kita untuk lagu-lagu daerah kita Nias. Datang ya, dengan catatan kopinya bayar sendiri, he-he,” ujarnya. [knc01r]