PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

Pembangunan Kawasan Soziona Dimulai

0
376
Pembanguan jalan yang menghubungkan Sindröndrö-Tagaule dengan anggaran Rp 5 miliar dari APBD 2016. Foto diambil pada Selasa (26/7/2016). —Foto: Kabarnias.com/Onlyhu Ndraha.

BAWÖLATO, KABAR NIAS – Pemerintah Kabupaten Nias tengah berupaya membenahi kawasan strategi pertumbuhan ekonomi yang disebut dengan Sömi, Bozihöna, Onolimbu, dan Nalawö, yang biasa disingkat dengan Soziona. Pembangunan ini sebagaimana tertuang dalam rencana tata ruang dan wilayah tahun 2014-2034. Kawasan tersebut meliputi Kecamatan Gidö, Sogae’adu, Idanögawo, dan Bawölato dari jalan nasional hingga ke tepi pantai. Tahun 2016 ini jalan utama yang dibangun seluruhnya bernilai Rp 12 miliar.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga telah mengeluarkan surat persetujuan jaringan jalan strategis provinsi yang dimulai dari Desa Lölözasai, Kecamatan Gidö, ke Desa Nalawö, Kecamatan Bawölato, sejauh 48,8 kilometer. Jalan ini sebagai alternatif jalan nasional yang menyisir pantai. Anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp 265 miliar dengan 2 jalur dan 4 lajur.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Nias Nuzlan Hia kepada Kabar Nias, Senin (25/7/2016), di ruang kerjanya di Jl Pelud Binaka Desa Fodo Km 6, Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli.

“Kawasan Soziona itu tidak hanya bicara masalah lokasi pariwisata Kabupaten Nias, tetapi juga merupakan kawasan ekonomi yang akan terus dikembangkan,” ujar Nuzlan.

Jl Sindrondro-Tagaule. Foto tahun 2011. Kini sudah dapat dilalui kendaraan roda empat. Domuken Onlyhu Ndraha.
Kondisi jalan Sindröndrö-Tagaule pada tahun 2011. Kini sudah dapat dilalui kendaraan roda empat. —Foto: Dokumentasi Onlyhu Ndraha.

Untuk diketahui, kata Nuzlan, jalan nasional yang sudah ada saat ini cukup sulit untuk diperluas. Berhubung rumah penduduk lumayan padat dan jika dilakukan ganti rugi keuangan daerah tidak mencukupi. Oleh karena itu, pemerintah daerah membuka akses baru melewati sekitar 200 meter dari tepi pantai.

“Membuka akses itu tidak sekaligus, mesti ada campur tangan provinsi dan pemerintah pusat. Untuk tahun 2017, TNI Manungggal Membangun Desa (TMMD) membuka akses jalan dari Bozihöna-Tagaule sejauh 8,8 kilometer,” kata Nuzlan.

Selain pariwisata dan ekonomi, tujuan akhir dari pembukaan kawasan ini adalah membuka keterisolasian serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di 170 desa.

Berdasarkan data yang dikumpulkan Kabar Nias, Jalan Soziona yang mencapai 48,8 kilometer itu dimulai dari Lölözasai, Kecamatan Gidö, dan berakhir di Dusun Dawala, Desa Nalawö, Kecamatan Bawölato. Berjarak 10 kilometer dari jalan nasional saat ini. Sebanyak 16 jalan utama penghubung, yakni Lölözasai–Bakaru 10 kilometer, So’ewe–Sömi 11 kilometer, Duria–Sömi 7 kilometer, We’a-we’a–Lasela 11 kilometer, Sogae’adu–Botogo’o 10 kilometer, Tulumbaho–Laira 10 kilometer, Sisarahili-Sandruta 10 kilometer, Tetehösi–Bozihöna 10 kilometer, Hilina’a Tafu’o–Lawalö 10 kilometer, Sindröndrö–Tagaule 11 kilometer, Hili’alawa–Si’öfa’ewali Selatan 7 kilometer, Sisarahili–Balale Toba’a 7 kilometer.

Sebesar Rp 13,25 miliar dari Rp 120 miliar dana Bina Marga Dinas PU Kabupaten Nias, dialokasikan untuk pengerasan jalan utama tersebut. Duria–Sömi Rp 2 miliar, jalan hot mix. We’a-we’a–Lasela Rp 1 miliar, pengerasan jalan menggunakan kerikil. Sogae’adu–Botogo’o Rp 1 miliar untuk pengerasan jalan. Tulumbaho–Laira Rp 500 juta. Tetehösi–Bozihöna Rp 3 miliar, hot mix. Hilina’a Tafu’o–Lawalö Rp 750 juta dan Sindröndrö–Tagaule Rp 5 miliar.

Nuzlan menambahkan, untuk jalan Sindröndrö–Tagaule dan Tetehösi–Bozihöna akan diadakan pelebaran jalan menjadi 12 meter. Karena tujuan utama wisata Pulau Onolimbu. Di sana dapat dinikmati snorkeling, diving, mancing mania, sunset-sunrise (panorama matahari terbit dan matahari terbenam).

“Pemkab Nias punya komitmen membangun insfrastruktur di daerah itu. Dan juga pada jalur daratan tinggi yang menghubungkan Hiliduho, Botomuzöi, Hiliserangkai, Mau, Somölö-mölö, Ulugawo dan Bawölato. Ini jalur yang berbatasan dengan kabupaten lain,” katanya.

Beberapa warga setempat di jalan Sindröndrö–Tagaule mengaku senang dengan adanya pembangunan di daerah mereka. Ina Ziumar Zebua, warga yang sehari-harinya sebagai pedagang ikan, kini tidak lagi menggunakan sepeda dayung melainkan sepeda motor untuk menjajakan dagangannya.

“Syukurlah, setiap tahun jalan ini selalu ada peningkatan pembangunan dari pemerintah,” kata Ina Zimur dengan senyum. Dikatakannya, sejak 2012, pembangunan baru dimulai.

Baca juga: Si’ofaewali Selatan, Desa Pemekaran yang Terisolasi.

“Sebelumnya, kalau saya menjual ikan ke Bawalia dengan berjalan kaki. Dagangan diangkut di kepala. Baru mulai ada pengerasan jalan 2012 dan tahun ini sudah dapat dilalui kendaraan roda empat sampai tepi pantai. Dan kini terus ada pembangunan,” kata Ina Ziumar.

Ama Sehati Lawölö, warga Desa Sohoya yang tengah lintas, Selasa (26/7/2016), mengatakan kini mereka tidak lagi merasakan ranjau lumpur setinggi lutut jika hujan tiba. “Walau hanya onderlaag, tetapi tidak ada lagi lumpur. Dari sosialisasi pemerintah, jalan Sindröndrö–Tagaule akan diaspal sampai tepi pantai.”

Kepada masyarakat Kabupaten Nias diminta untuk mengawasi jalannya pembangunan ini sehingga uang negara benar-benar terpakai untuk kepentingan pembangunan infrastruktur ini. Segala bentuk korupsi dan upaya memperkaya diri dan kroni oleh siapa pun akan ditindak secara hukum. [knc02w]