DUGAAN PENGHINAAN

Toko Ponsel Diamuk Massa, Polres Nias: Tidak Ada Penghinaan Rasial

2
14281
Jendela kaca di lantai 2 rumah toko milik Yanto pecah dilempari massa.

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Toko penjual telepon seluler milik Yanto di Jalan Diponegoro, Kelurahan Ilir Gunungsitoli, di Km 2 atau di simpang Jalan Pendidikan Gunungsitoli, Kota Gunungsitoli, diamuk massa, Kamis (15/10/2015) pukul 14.00. Yanto dianggap telah melakukan penghinaan dengan memasang tulisan bernuansa menghina di leher seorang karyawannya. Pihak kepolisian menegaskan bahwa tidak ada penghinaan terhadap suku Nias dan masyarakat diminta tidak terprovokasi.

Pantauan Kabar Nias, hingga berita ini ditayangkan, massa masih mengerumuni rumah toko milik Yanto dan petugas Polres Nias dibantu anggota TNI mengamankan lokasi agar kemarahan massa tidak berkembang.

Berkembang informasi, Yanto menulis di karton kalimat yang bernuansa rasial dan menggantungkannya di leher karyawannya berinisial MW. MW lalu disuruh naik di atas kursi yang diletakkan di pinggir jalan.

Melihat kejadian itu, secara spontan warga dan pengguna jalan marah dan melempari toko tersebut. Mereka menilai Yanto terlalu berlebihan menulis kalimat yang menyinggung perasaan orang Nias tersebut. Untuk menghentikan tindakan anarkistis massa, petugas Polres Nias sempat melepaskan tembakan sebanyak tiga kali ke udara.

Akibat kejadian Yanto memilih menutup tokonya serta mengurung diri bersama karyawannya yang lain. MW kini sedang dimintai keterangan di Polres Nias.

Salah seorang tokoh masyarakat, Ama Ange Zebua, menyesali Yanto menulis kalimat yang bernuansa rasial itu. Ia meminta Yanto untuk meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi perbuatannya. “Harusnya jika benar pegawainya telah mencuri ada proses hukum dan tidak boleh main hakim sendiri dan melakukan penghinaan secara SARA,” kata Ama Ange.

Tidak Ada Penghinaan Rasial

Wakil Kepala Polres Kompol Faduhusi Zendratö mengimbau masyarakat agar tidak cepat terprovokasi. “Yanto memang benar menggantungkan karton bertuliskan ‘Saya Pencuri, Nama Saya Mawar’ di leher MW. Bukan seperti yang berkembang di media sosial bahwa Yanto menuliskan: ‘Orang Nias Pencuri’,” ujar Faduhusi.

Baca juga:  KPU Nias Selatan: Tidak Ada Rekomendasi Penundaan Pleno

Faduhusi berjanji akan segera menyelidiki kasus ini. Jika terbukti, Yanto akan dijerat pasal melakukan penghinaan terhadap seseorang. “Kami akan tindak secara tegas,” katanya.

Kepala Bagian Sumda Polres Nias Arifeli Zega, yang berada di lokasi mengatakan bahwa amarah warga tersulut akibat perlakuan Yanto terhadap MW. “MW kini berada di Polres Nias untuk dimintai keterangan,” ujar Arifeli.

Menurut Arifeli, pihaknya akan menindaklanjuti kejadian hal ini sesuai hukum. “Hal yang terkait pelanggaran aturan adat Nias akan diserahkan kepada para tokoh adat di Kota Gunungsitoli,” ujarnya.

Akibat kejadian ini, arus lalu lintas di sepanjang Jalan Diponegoro terkena kemacetan hingga satu kilometer. [knc02w]

  • Monz Zebua

    Pemilik toko itu sangat tidak bermoral, main hakim sendiri sama karyawannya.. klo karyawan itu memang mencuri harusnya lapor kan ke pihak penegak hukum jgn main hakim sendiri…. org yg permalukan di depan umum sprti itu jg merupakan pembunuhan karakter….

  • candrawandi waruwu

    kariawan tesebut melakukan hal tersebut, mungkin karena gaji nya tidak mencukupi. ataupun tiodak sebnding dengan pekerjaannya. pemerintah kita saat ni, banyak yang hanya ngomong saja, dan tidak jarang turunb kelapangan untuk menyaelesaikan masalah. tetapi apa daya masyarakat nias pada saat ini, tak bisa berbuat apa2. cobalah kita menyurvei berapa banyak kah masyarakat nias yang telah keluar dari pulai nuas emi mencari kebutuhan mereka diluar sana, yang dijadikan sebagai budak. tetapi pemerintah kita juuga tak mencari solusi bnagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut. jika kita perhatikan pada saat ini, penghasialan bumi nias memang lumyan, tetapi mengapa masyarakat nias msih sengsara>?