DUGAAN PENGGELAPAN UANG

Kapolres Nias Janjikan Hadiah bagi Penemu Sama Sadar Zebua

0
4772
Kapolres Nias AKBP Bazawatö Zebua berbincang dengan Rektor IKIP Gunungitoli di halaman kampus IKIP Gunungsitoli, Sabtu (20/2/2016), untuk memediasi mahasiswa pengunjuk rasa dengan pengurus Yaperti Nias. Foto Kabar Nias/Onlyhu Ndraha.

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Pihak Kepolisian Resor Nias menawarkan hadiah bagi masyarakat yang bisa memberikan informasi terkait keberadaan Sama Sadar Zebua, teradu yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Hal ini disampaikan Kepala Polres Nias Bazawatö kepada Kabar Nias di halaman Kampus IKIP Gunungsitoli Jl Yos Sudarso Km 3, Gunungsitoli, Sabtu (20/2/2016), saat memfasilitasi mahasiswa yang tengah berunjuk rasa dengan pengurus Yaperti dan pihak rektorat IKIP Gunungsitoli.

“Sama Sadar Zebua Sudah menjadi DPO. Akibat perbuatannya menimbulkan kerugian Rp 2,215 miliar. Sebelumnya laporan kerugian hanya Rp 1,2 miliar dan setelah adanya audit dari Inspektorat Kabupaten Nias, bertambah satu miliar,” ujar Bazawatö. (Baca: Bawa Kabur Uang Rp 1,2 Miliar, Bendahara IKIP Diburu Polisi)

Picasa 3 2202016 25448 PMSama Sadar Zebua, mantan Bendahara IKIP Gunungsitoli, dilaporkan ke Polres Nias karena tersangkut kasus dugaan penggelapan uang milik Yaperti Nias Rp 2,215 miliar.

Menurut Bazawatö, sampai saat ini pihaknya belum mengetahui keberadaan Sama Sadar. Oleh karena itu, bagi yang mengetahui kiranya melaporkan kepada Polres Nias dan diberi hadiah sepantasnya. Sementara pihak terkait dalam kasus itu masih belum dapat dipastikan sebelum diperoleh keterangan yang bersangkutan.

“Bagi mahasiswa yang sudah mengetahui keberadaan Sama Sadar, tolong diberi tahu kepada kami. Saya memberi hadiah setelah ditangkap. Ongkos pergi dan pulang serta uang kuliah selama satu tahun,” ujar Bazawatö di hadapan mahasiswa.

Mahasiswa yang tengah unjuk rasa di kampus IKIP Gunungsitoli mendesak Polres Nias segera menyelesaikan masalah ini dan menyeret Sama Sadar. Adapun yang terkait di dalam kasus penggelapan uang ini agar segera diseret ke ranah hukum.

“Sejak tahun 2013, kami selalu melakukan aksi dan meminta Yaperti Nias mengaudit keuangan IKIP Gunungsitoli dan tidak pernah terealisasi. Akhirnya ketahuan kerugian sebesar Rp 2,215 mliar. Besar dugaan kami bahwa ada pihak lain, pengurus rektorat, yang terlibat dalam hal ini,” ujar koordinator lapangan aksi forum pemerhati mahasiswa IKIP Gunungsitoli, Warisman Telaumbanua.

Unjuk rasa mahasiswa menuntut pihak kampus melengkapi sarana dan prasarana dalam kampus serta mendesak agar akreditasi program studi ditingkatkan dari C menjadi B. [knc02w]