DIASPORA NIAS

Pengalaman Pertama Merayakan Paskah di Kota Roma

0
815
Salah satu bagian dalam (interior) Istana Quirinale/Istana Kepresidenan Italia. —Foto: Pastor Damian

Oleh Postinus Gulö, OSC

Dalam liturgi Katolik ada yang disebut Vigili Paskah, yang artinya, saat berjaga-jaga dan siap siaga menyambut kebangkitan Kristus. Perayaan Vigili Paskah biasanya dilakukan pada Sabtu malam. Pada tahun 2016 ini, untuk pertama kalinya saya ikuti perayaan Malam Paskah di Gereja Santo Fransiskus Xaverius, Roma (Sabtu, 26/3/2016, malam).

Gereja ini lebih dikenal sebagai Oratorio del Caravita atau tempat ibadat yang dibangun Pastor P. Caravita. Imam yang melayani umat di Oratorio ini sebagian besar dari Serikat Jesuit. Dari segi liturgi hampir tidak ada perbedaan dengan perayaan malam Paskah di Indonesia. Akan tetapi, soal suasana tentu saja sangat berbeda. Umat yang hadir datang dari berbagai negara. Tidak hanya itu, bangunan gereja yang sangat artistik membuat keteduhan tersendiri.

Minggu Paskah (27/3/2016) kami rayakan bersama di Basilika San Giorgio di Generalat Ordo Sanctae Crucis (OSC). Dalam bahasa Indonesia, OSC diterjemahkan sebagai Ordo Salib Suci. Saya ditahbiskan menjadi pastor dalam OSC ini pada 18 Juli 2012 di Gereja Santa Maria Ratu Damai Mandrehe, Nias Barat. Perayaan Minggu Paskah cukup anggun dan meriah. Perayaan Ekaristi dipimpin Magister General Mgr. Dr. Laurentius Tarpin OSC. Beliau adalah putra asli Sunda, Jawa Barat. Mgr Tarpin merupakan orang pertama dari Asia yang menjadi pimpinan tertinggi OSC yang terpilih pada tahun 2015 silam. Artinya, orang Asia pertama sejak OSC didirikan pada tahun 1210 atas persetujuan Paus Innosensius III.

Berbagi Makanan

Dari Nias pindah ke Roma, membuat suasana yang sangat baru dalam hidup saya. Di Roma, saya tidak alami suasana penuh perjuangan untuk merayakan Paskah bersama umat. Selama 3,5 tahun di Nias saya merayakan Paskah di pelosok kampung. Saya mengendarai sepeda motor dengan kondisi jalan yang berlumpur, bebatuan tanpa aspal. Panas terik, hujan dan banjir sudah biasa dialami. Setelah di Roma, suasana penuh perjuangan itu tentu saya rindukan. Saya ingin mengalaminya kembali.

Akan tetapi, rasa rindu “pulang kampung” itu terobati dengan suasana persaudaraan dalam komunitas generalat OSC. Di Roma, saya tinggal di komunitas generalat OSC. Generalat OSC adalah rumah pusat bagi para pastor OSC. Anggota komunitas datang dari Amerika, Congo, Meksiko, Belgia dan Indonesia. Perbedaan kultural memperkaya suasana komunitas.

Selain mengikuti Perayaan Paskah secara liturgis, kami merayakan Paskah dalam suasana kekeluargaan. Di komunitas generalat, kami mensyukuri Paskah amat sederhana, tapi penuh makna mendalam. Salah satu yang kami lakukan adalah saling berbagi makanan pada Malam Paskah. Di antara kami ada yang menyiapkan sayur-mayur, lau-pauk, memasak nasi dan ada juga yang menyiapkan makanan cuci mulut. Semua ambil bagian, baik pimpinan tertinggi OSC yang disebut Magister General, para dewan general OSC, Staf generalat maupun kami para pastor yang sedang studi.

Foto bersama sebelum mengikuti perayaan Kamis Putih Paskah di Paroki Santa Maria di Portico, Roma. Dari kiri-kanan: Pastor Rosa, OSC., Pastor Henri, OSC., Magister General Mgr. Laurentius Tarpin, OSC., Pastor Sylvestre, OSC dan Pastor Postinus Gulö, OSC. —Foto: Kfr. Pierre-Paul, OSC.
Foto bersama sebelum mengikuti perayaan Kamis Putih Paskah di Paroki Santa Maria di Portico, Roma. Dari kiri-kanan: Pastor Rosa, OSC., Pastor Henri, OSC., Magister General Mgr. Laurentius Tarpin, OSC., Pastor Sylvestre, OSC dan Pastor Postinus Gulö, OSC. —Foto: Kfr. Pierre-Paul, OSC.

Acara ini sepertinya sederhana. Akan tetapi, memberi kesan bahwa hidup dalam sebuah komunitas Generalat OSC tidak hanya membangun hidup doa, Misa bersama, merefleksikan sabda Allah, dan fokus pada kerja rutinitas. Melalui berbagi makanan terangkai ungkapan kepedulian dan kebahagiaan sebagai satu keluarga. Tak ada kesan kaku. Berjalan mengalir penuh canda tawa. Semua pergi ke dapur dan menyiapkan makanan untuk santap malam Paskah.

Persiapan Menyambut Paskah

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah persiapan menyambut Paskah. Sebelum libur kuliah untuk menghormati masa Paskah, kami mahasiswa S-2 program studi Hukum Gereja diberi kesempatan untuk menyelenggarakan satu kegiatan kebersamaan. Kegiatan mempersiapkan masa Paskah. Kemudian kami memutuskan pergi melihat istana kepresidenan Italia yang disebut Quirinale sekaligus merayakan perayaan Ekaristi di sana.

Istana Quirinale dibangun pada tahun 1573 oleh Paus Gregorius XIII sebagai tempat menginap Paus saat musim panas tiba. Istana ini pernah digunakan 4 kali sebagai tempat mengadakan proses pemilihan paus (konklaf), yaitu tahun 1823, 1829, 1831 dan 1846. Konon, istana ini ditempati oleh Paus pada musim panas hingga tahun 1870. Setelah tahun itu, Istana Quirinale ditempati oleh raja dan kini menjadi Istana Kepresidenan Italia.

Kami mahasiswa/i dan dosen Fakultas Hukum Gereja Universitas Gregoriana foto berasama di depan Istana Quirinale Roma, Kamis (2/3/2016). Foto: Pastor Damian
Kami mahasiswa/i dan dosen Fakultas Hukum Gereja Universitas Gregoriana foto berasama di depan Istana Quirinale Roma, Kamis (2/3/2016). Foto: Pastor Damian

Yang menarik, semua harta peninggalan sejarah disimpan dan dipelihara dengan baik. Bahkan lukisan mengenai imam-imam dari Jepang terpampang di langit-langit salah satu gedung di istana ini. Dulu, para pastor asal Jepang ini pergi ke Roma dengan penuh perjuangan. Selama dalam perjalanan menuju Roma, mereka mengalami haus dan lapar yang luar biasa. Walaupun demikian, mereka tak putus harapan. Mereka berjuang menuju Roma.

Tidak jauh dari Istana Presiden ini berdiri satu gereja megah, Santo Andreas. Di sana kami merayakan Ekaristi, Perjamuan Kudus. Salah seorang dosen – Pastor Damian – memimpin perayaan Ekaristi. Dalam homilinya, ia mengajak kami untuk membuka hati mempersiapkan diri menyambut Paskah. Kecerdasan intelektual mesti diikuti oleh kemampuan memahami maksud Allah dalam panggilan hidup kita. Kecerdasan intelektual mesti didasari oleh keberanian berenang ke dalam hidup yang mendalam. Panggilan menjadi pastor, suster, dan suami-istri mesti dihayati dengan sikap dan tindakan-tindakan religiositas yang mendalam.

Salah satu tindakan religiositas yang mendalam adalah tindakan nyata peduli terhadap sesama, siapapun dan terutama mereka yang terpinggirkan. Pesan reflektif dalam homili itu, beberapa minggu kemudian semakin kuat dalam pesan Paus Fransiskus. Paus Fransiskus mengetok hati masyarakat dunia ketika ia memutuskan mengunjungi kaum imigran di kota Roma (25/3/2016). Paus menghendaki agar dalam perbedaan kita tidak mencederai persaudaraan.

Tidak hanya itu, Paus mencuci kaki imigran yang beragama Islam dan Hindu. Seperti kita ketahui bersama, ritus pembasuhan kaki pertama kali dilakukan oleh Yesus terhadap para muridNya pada perjamuan terakhir, sebelum Yesus ditangkap dan disalibkan. Makna terdalam dari ritus ini adalah kesediaan saling mengasihi dan melayani di dalam kerendahan hati.

Paus Fransiskus mengatakan dengan tegas bahwa kita tetap saudara, maka kepedulian satu sama lain itulah salah satu yang mesti terus kita lakukan. Paus kemudian memberi harapan kepada mereka: “Allah punya rencana besar dalam hidup Anda”.

Kata-kata Paus Fransiskus memberi saya inspirasi merefleksikan masa-masa Paskah. Itu sebabnya melalui media sosial saya menulis ucapan selamat Paskah. Saya tulis demikian: “Bapak/Ibu, Saudara/Saudari, Sahabat semua, selamat merayakan Paskah 2016. Marilah tetap menjadi manusia yang peduli, bahagia dan setia walau didera dan dihina hingga tak ternama seperti Yesus yang kini bangkit itu. Hidup ibarat hari yang kadang diterjang angin, dan sungai yang tak luput dari hantaman banjir. Mari tetap peduli sesama, bahagia dan setia. Allah punya rencana besar dalam hidup kita.” Kalimat itu sebagian besar kata-kata Paus Fransiskus.

Ya, sebagai umat beriman kita belajar peduli. Peduli untuk membangun dunia dan berjuang menciptakan suasana damai tentram bagi siapapun. Tindakan peduli kita mulai dari diri kita, dalam keluarga, kemudian ke luar komunitas. Selamat Paskah 2016.

Roma, 30 Maret 2016