KABAR DARI ROMA

Ketika Berhasil Melewati Semua Pintu Suci di Roma

0
197
P. Postinus Gulö, OSC foto bersama dengan P. Dion Laia, OFMCap (mahasiswa Universitas Angelicum, Roma) sebelum dimulai Misa Penutupan Tahun Suci Kerahiman Allah di halaman Basilica Santo Petrus, Vatikan, Minggu, 20/11/2016 (Foto: P. Wilson Burato, OSC).

Anda pernah mendengar istilah “pintu suci”? Dalam bahasa Italia pintu suci disebut “Porta Santa” atau dalam bahasa Inggris “Holy Door”. Istilah ini sangat biblis, yakni kata-kata Yesus sendiri yang dapat kita baca dalam Injil Yohanes 10: 7: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu”. Kitab Mazmur 118:20 mengatakan hal yang sama: “Inilah pintu gerbang Tuhan, orang-orang benar akan masuk ke dalamnya.”

Di Roma, ada empat Basilica Utama yang memiliki pintu suci. Basilica adalah gereja besar yang telah diberi ritus upacara khusus oleh Sri Paus. Keempat basilica utama itu, yakni: Basilica Yohanes Lateran, Basilica Santo Petrus, Basilica Santa Maria Maggiore, dan Basilica Santo Paulus di Luar Tembok.

Saya sangat bersyukur bahwa keempat Pintu Suci di Roma ini berhasil saya lalui semua. Selain di Roma, saya juga berkesempatan mengunjungi Pintu Suci di Basilica Kavelaer Jerman (19/9/2016). Ini pengalaman langka bagi saya. Sebab, Pintu Suci hanyalah dibuka setiap 25 tahun, yakni pada Tahun Suci Kerahiman Allah yang dimaklumkan oleh Paus.

Pintu Kerahiman Allah

Mungkin kita bertanya-tanya, apa makna di balik tradisi Pintu Suci ini dalam Gereja Katolik? Menurut Paus Yohanes Paulus II, Pintu Suci adalah tanda yang dapat dilihat mata untuk mengingatkan semua umat Kristiani agar beralih dari dosa ke rahmat Ilahi. Dengan demikian, “La Porta Santa” adalah Pintu Kerahiman Allah. Yesus adalah Pintu bagi manusia untuk menerima kerahiman dan keselamatan dari Allah. Mereka yang melewati Pintu Suci ini dipanggil untuk terus-menerus membaharui hidupnya.

Pintu Suci di Basilica St. Marien Kavelear, Jerman yang saya kunjungi pada 19/9/2016 (Foto: P. Herry Sailan, OSC).

Pembukaan pintu suci merupakan salah satu rangkaian kegiatan sakral dalam perayaan Tahun Suci Kerahiman Allah. Secara simbolis, Pintu Suci di Basilica Santo Petrus dibuka oleh Paus Fransiskus 8 Desember 2015 dan ditutup 20 November 2016.

Dalam Misa Penutupan Tahun Suci Kerahiman Allah, Minggu (20/11/2016), Paus Fransikus mengatakan dalam homilinya: “Se si chiude la porta santa, rimane sempre spalancata per noi la vera porta della misericordia, che é il Cuore di Cristo” (jika ditutup pintu suci hari ini, namun tetap terbuka lebar untuk kita pintu sejati belaskasihan, yakni Hati Kristus sendiri”).

Paus Fransiskus hendak mengatakan bahwa walaupun Pintu Suci ditutup di semua basilica dan katedral dengan berakhirnya Tahun Suci ini, akan tetapi Pintu Sejati, yakni Yesus sendiri tetap bersama kita dan membuka hati-Nya dalam setiap pertobatan kita. Homili Paus Fransiskus ini sejalan dengan tema besar Tahun Suci Kerahiman Allah kali ini, yakni “Misericordes sicut Pater” (Berbelaskasih seperti Bapa), yang diambil dari kutipan Injil Lukas 6: 36. Tema ini merupakan ajakan untuk mengikuti Allah yang mencintai dan mengampuni umat manusia tanpa batas.

Sepanjangan Tahun Suci Kerahiman Allah (8/12/2015 – 20/11/2016) diperkirakan 20-an juta umat Kristiani di seluruh dunia telah mengunjungi Roma. Peristiwa langka pembukaan Pintu Suci ini semakin menyemangati umat beriman untuk mengalaminya secara langsung.

Melalui bulla kepausan “Misericordiae Vultus” (wajah kerahiman) pada 11 April 2015, Paus Fransiskus menegaskan bahwa Tahun Suci Kerahiman Allah merupakan tahun yang dikhususkan untuk masa pertobatan dan pengampunan bagi semua umat beriman Kristiani di seluruh dunia. Itu sebabnya, Paus Fransiskus meminta para imam agar memberi perhatian pada pelayanan pengakuan dosa dan perayaan Ekaristi selama Tahun Suci Kerahiman Allah itu dan untuk seterusnya. Selama Tahun Suci ini, Paus juga meminta para uskup di seluruh dunia agar membuka pintu suci di setiap gereja katedral atau di gereja yang layak untuk itu.

Pengampunan Dosa Aborsi

Dalam masa Tahun Suci ini, tidak hanya soal pintu suci yang menarik perhatian saya. Saya juga kagum dengan terobosan luar biasa Paus Fransiskus yang menulis Surat Apostolik Misericordia et Misera (MM). Salah satu bagian penting dalam Surat Apostolik ini, yakni, Paus Fransiskus memberikan wewenang kepada semua pastor untuk memberi absolusi pengampunan dosa terhadap pelaku aborsi (MM, No. 12). Sebelumnya, kewenangan ini hanya diberikan kepada para uskup dan pastor tertentu saja.

Dalam Gereja Katolik, aborsi merupakan dosa besar. Sebab, aborsi mengakhiri kehidupan janin yang tak bersalah (bdk. Gaudium et Spes No. 27). Aborsi adalah tindakan pembunuhan yang bertentangan dengan Perintah ke-5 Dekalog. Bahkan di dalam Kitab Hukum Kanonik ditegaskan bahwa yang melakukan aborsi terkena sanksi ekskomunikasi otomatis atau karena perbuatannya itu otomatis dia keluar dari gereja (kanon 1398).

Akan tetapi Paus Fransiskus menekankan bahwa tidak ada dosa yang tidak bisa dijangkau dan dihapus oleh rahmat Allah ketika rahmat itu menemukan hati yang bertobat dan berusaha berdamai dengan sang Bapa (MM, No. 12). Kita tidak boleh menghalangi dan menghilangkan kesempatan bagi siapapun untuk mengalami pengalaman rekonsiliasi dengan Allah.