DAERAH OTONOMI BARU

Christian Zebua: Provinsi Kepulauan Nias adalah “Jembatan Emas”

0
50

JAKARTA, KABAR NIAS — Pembentukan kepulauan Nias menjadi provinsi merupakan jembatan emas dan sasaran antara untuk mencapai Nias raya yang sejahtera dan berdaya saing. Percepatan pembangunan di segala bidang, seperti keamanan, kesehatan, kemaritiman, pendidikan, ekonomi hanya bisa diperoleh jika status kepulauan Nias bisa menjadi provinsi. Soliditas, kebersamaan, dan dukungan perlu ditingkatkan bagi semua masyarakat Nias untuk mewujudkan hal ini.

Demikian disampaikan Ketua Umum Badan Persiapan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias (BPP PKN) Mayor Jenderal (Purn) TNI Christian Zebua dalam pertemuan bersama Forum Kepala Daerah (Forkada) Kepulauan Nias, tokoh masyarakat, dan pimpinan ormas Nias di Ruang Emerald C, Hotel Redtop, Jakarta, Jumat (29/9/2017).

“Ada yang bilang, Provinsi Kepulauan Nias itu harga mati. Ya, kita setuju itu. Sebab, dengan melihat kondisi kita saat ini, mau tidak mau kita harus berjuang untuk berubah. Untuk mencapai Nias raya yang sejahtera dan berdaya saing, satu-satunya cara adalah daerah kita menjadi provinsi. Jadi, provinsi ini adalah semacam jembatan emas atau sasaran antara untuk tujuan yang lebih besar, yakni Nias yang sejahtera dan berdaya saing. Kita harus merebut ‘sasaran antara ini’. Semua syarat sudah terpenuhi, kok,” ujar mantan Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) Cenderawasih ini.

Merespons laporan yang disampaikan oleh Ketua BPP-PKN Perwakilan Jakarta Saroziduhu Zebua bahwa pada saat-saat terakhir ketuk palu pengesahan kepulauan Nias menjadi provinsi akhirnya tertunda di DPR, Christian mengibaratkan itu seperti permainan sepak bola.

“Kita seperti sedang main sepak bola. Bola itu kita sudah bawa ke daerah gawang lawan dan tinggal ditendang saja, tetapi pemerintah meniup pluit dengan mengeluarkan moratorium. Akibatnya, enggak jadi ditendang. Provinsi Nias tertunda diparipurnakan. Ini keberhasilan yang tertunda. Kita perlu terus berjuang,” katanya.

Menurut Christian, sekarang tugas dari panitia yang ia pimpin melanjutkan dengan mempersiapkan segala sesuatunya agar bisa berhasil. “Kita harus pastikan tendangan kita kali ini keras, tepat, dan membuahkan gol. Jadi saya mengajak kita semua untuk bergandengan tangan dan memastikan kita menendang dengan keras dan gol!,” ujar Christian yang akrab dipanggil Ama Andani.

Mengapa Penting Jadi Provinsi

Dalam paparannya, Christian menyampaikan beberapa alasan kepulauan Nias harus menjadi provinsi. Pertama, Nias dengan karakteristik kepulauan, terdiri atas 132 pulau, tentu memiliki kesulitan penanganan dibandingkan dengan daerah lain yang berada di daerah Sumatera.

“Membangun Deli Serdang, membangun Siantar, pasti beda dibandingkan dengan membangun Nias. Nias harus ditangani secara khusus karena berada di daerah terluar. Apalagi Nias termasuk dalam daerah 3T, yakni terdepan, terluar, dan tertinggal. Ini perlu menjadi perhatian dan tanggung jawab pemerintah pusat untuk memastikan bahwa setiap pulau terluar, terdepan, dan tertinggal ini maju dan tidak terus hidup dalam kemiskinan,” katanya.

Kedua, Nias selama ini sering terkesan diperlakukan seperti anak tiri. Karena jaraknya jauh dari Medan, tak jarang setiap program-progam yang mestinya melibatkan kepulauan Nias, terkadang tidak dilibatkan. “Saya pernah mendapatkan informasi dari pegawai di salah satu dinas di Provinsi Sumatera Utara, pejabat-pejabat di Nias sering sekali tidak diundang untuk datang rapat, padahal seyogianya harus hadir. Namun, pegawai ini bukan pejabat, sehingga tidak bisa berbuat apa-apa. Nah, kita memaklumi semua ini. Kita juga tidak mau terus diperlakukan seolah-seolah anak tiri terus. Satu-satunya cara yang menjadi provinsi sendiri,” ujar Christian.

Ketiga, peningkatan anggaran pembangunan akan semakin besar. Ia mencontohkan, ketika dulu masih satu kabupaten, Nias memperoleh Rp 450 milir dari pusat. Sekarang, setelah dimekarkan menjadi Rp 2 triliun lebih. “Artinya, setelah menjadi provinsi, uang yang akan masuk ke kepulauan Nias akan naik drastis. Dengan begitu, kita bisa membangun setiap sektor yang kita miliki di Nias. Daerah-daerah yang terisolasi akan terbangun karena akses terhadap setiap program pembangunan cepat dan bertambah,” ujarnya.

Keempat, lewat provinsi maka pengamanan dari militer dan kepolisian akan bertambah. Nias akan punya Pangdam dan Polda dengan pangkat Brigjen. Begitu juga dengan TNI AL akan meningkat statusnya. Jumlah kapan patroli bertambah sehingga pencurian ikan di perairan Nias bisa diatasi.

Kelima, bidang pendidikan dan kesehatan akan meningkat. “Nias akan punya universitas negeri dan perguruan tinggi unggulan kelak. Anak-anak Nias tak perlu repot lagi harus studi ke luar karena Nias sudah memadai. Begitu juga kalau ada yang perlu operasi, tak perlu lagi ke Medan sebab di Nias akan ada RS yang lengkap dengan peralatan dan ketersediaan dokter-dokter ahli di bidangnya,” kata Christian yang mengaku masih banyak keuntungan lainnya.

Dukungan Kepala Daerah

Selain peran serta seluruh masyarakat, menurut Christian, peran kepala daerah dalam mengegolkan Provinsi Kepulauan Nias sangat dibutuhkan. Pembangunan yang dilakukan saat ini diharapkan terus disinkronkan pada pencapaian sasaran antara.

“Saya bilang, perjuangan menjadi provinsi harus simultan dengan upaya-upaya yang dilakukan oleh kepala daerah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Christian.

Ketua Harian BPP PKN Lakhömizaro Zebua, yang juga Ketua Forkada dan Wali Kota Gunungsitoli menyatakan bahwa kelima kepala daerah Nias bertekad bulat untuk mendukung pembentukan Provinsi Kepulauan Nias.

“Kami sudah bertekad bulat lewat Forkada akan berkomitmen dalam mewujudkan Provinsi Kepulauan Nias ini. Selain menyediakan berbagai data untuk melengkapi atau memperbarui syarat-syarat yang dibutuhkan, kami juga berkomitmen bersama DPRD untuk menyisihkan anggaran khusus untuk mewujudkan Provinsi Kepulauan Nias,” ujar Lakhömizaro Zebua.

Komitmen ini disambut baik dan diapresiasi oleh BPP PKN. Christian Zebua menjajikan akan terus berkomunikasi kepada semua pihak, terutama kepada Forkada Kepulauan Nias agar terjadi kesinkronan dalam setiap langkah yang diambil.

Terbuka

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh mantan Bupati Nias Binahati Baeha, tokoh asal Nias Danial Tanjung, politisi dan tokoh Nias Firman Jaya Daeli, dan kepala daerah dari kepulauan Nias, Christian Zebua menyampaikan komitmennya untuk menjalankan prinsip-prinsip keterbukaan, profesional dalam perjuangan BPP PKN ini.

“Ini bukan perjuangan satu kelompok saja. Semua elemen masyarakat harus terlibat. Mungkin tidak ikut dalam kepanitiaan, tetapi dukungan berupa doa dan masukan membangun sangat dibutuhkan,” kata Christian Zebua.

Untuk menjaga prinsip keterbukaan dan sekaligus untuk menjaring berbagai dukungan dan masukan dari masyarakat, Christian Zebua berjanji akan membangun sebuah wadah berupa penyediaan website khusus yang digarap secara profesional dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

“Saya dulu ketika memimpin Kodam juga saya buat hal yang sama. Dengan begitu kita dengan mudah mengomunikasikan informasi apa pun kepada masyarakat,” ujar Christian.

Pada akhir sambutannya, Christian mengingatkan kepada anak muda yang merupakan calon pemimpin masa depan Nias agar terus belajar dan melengkapi diri dengan berbagai ilmu. Ia berharap jangan sampai ketika Nias sudah menjadi provinsi, anak muda Nias hanya menjadi penonton karena sumber daya mereka tidak memenuhi syarat.

“Saya minta anak muda untuk terus belajarlah kalian. Kini persaingan sangat ketat. Jika kita lengah, kalian bisa menjadi penonton. Kita pasti membutuhkan banyak SDM berkualitas,” kata Christian.

Ia mengingatkan juga bahwa generasi muda Nias di mana pu berada untuk terus memegang teguh nilai-nilai dasar yang dimiliki oleh orang Nias.

“Nilai-nilai orang Nias adalah hormat kepada orang tua. Santun dalam bersikap. Itu harus kita pegang teguh di mana pun kita berada. Begitu juga dengan kebersamaan. Semangat gotong royong yang kita warisi dari leluhur kita, yang kita kenal dengan istilah falulu, kita mesti terus kita lestarikan dalam keseharian kita. Kita harus jaga soliditas,” katanya.

Nilai lain yang sangat terkenal, yang dimiliki oleh orang Nias adalah sikap bahwa kehormatan di atas segalanya. “Orang Nias mengenal peribahasa: sökhi mate moroi aila, lebih baik mati daripada malu. Ini berarti bukan harus mati konyol. Tidak. Namun, orang Nias itu selalu berjuang maksimal untuk memenangi setiap pertarungan. Lakukan yang terbaik agar kita memperoleh kehormatan itu,” kata Christian Zebua. [knc02r]

BAGIKAN
Berita sebelumyaPersyaratan Kepulauan Nias Menjadi Provinsi Sudah Lengkap
Berita berikutnyaAgenda Tunggal Kita, Mendukung BPP PKN
Apolonius Lase

Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, “Kamus Li Niha (Nias Indonesia)” telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com