CERITA KEHIDUPAN

Bara dan Peluh di Tengah Asa Pandai Besi Desa Hiliganöwö

0
460

Oleh Anoverlis Hulu

Menjadi pandai besi, hasilnya tidak terlalu menjanjikan, apalagi jika tak ada pesanan atau badan sedang tidak fit untuk bekerja. Meski tidak ada data akurat, jumlah mereka semakin sedikit, mungkin tinggal sekitar 0,01 persen saja dari 280.000 lebih jumlah penduduk Nias Selatan. Anak-anak mereka juga sudah tidak fokus lagi karena disibukkan dengan sekolah. Bukan tidak mungkin, 10 tahun ke depan, pandai besi sudah menghilang dari daerah ini.

Tangan-tangan mereka begitu terampil menggunakan palu seberat lima kilogram. Tubuh mereka pun seolah tidak takut dengan percikan bunga api dari besi panas hampir bersuhu hingga 1.500 derajat celsius yang sesekali terlempar saat ditempa. Bahkan, dengan berani, mereka bekerja tanpa menggunakan pelindung.

Di bawah gubuk sempit dan terbuka seukuran 2 meter x 2 meter persegi mereka bekerja dari pukul 9 pagi hingga pukul 6 sore. Berkutat dengan panas dan debu, bercampur polusi udara dan suara yang berasal dari kendaraan yang lalu lalang. Belum lagi dengan empasan angin laut dan suara ombak yang memecah setiap saat karena pondok ini memang berada di tepi pantai.

***

Itulah keseharian para pandai besi atau dalam bahasa Nias disebut Sihambu yang ada di Desa Hiliganöwö, Kecamatan Telukdalam, Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara. Jumlah mereka sudah tidak banyak. Hanya ada sekitar 9 keluarga lagi yang tetap bertahan menjadi pandai besi di desa itu.

Pekerjaan sebagai pandai besi memang sudah mulai ditinggalkan seiring dengan gempuran benda tajam ataupun alat pertanian olahan pabrik yang jauh lebih praktis dan murah. Ditambah sulitnya menekuni pekerjaan tersebut karena harus memiliki daya tahan tubuh yang tinggi.

Suara pukulan palu pada besi yang akan diolah terus terdengar jika kita melewati daerah ini. Pasalnya, lokasi pembuatan besi tersebut berada di pinggir jalan provinsi menuju ibu kota Kabupaten Nias Selatan itu menjadi atraksi yang cukup menarik untuk disaksikan. Aktivitas ini sering menyedot perhatian mereka yang baru pertama kali melintas di jalan ini. Ada beberapa pondok yang bisa kita jumpai. Dan ternyata, alasan pemilihan pinggir jalan sebagai tempat bekerja memang agar lebih mudah ditemui sehingga peluang untuk mendapatkan pesanan (orderan) akan lebih besar ketimbang mereka menunggu di rumah yang jauh di atas bukit.

Para sihambu ini dengan senang hati mempersilakan setiap pengunjung yang ingin bertanya-tanya atau sekadar melihat bagaimana mereka bekerja. Salah satunya keluarga Ahatöli Gowasa (45) yang akrab dipanggil Ama Arisman Gowasa.

Tontonan Menarik

Ama Arisman sudah 30 tahun menekuni pekerjaan sebagai pandai besi. Keahlian ini diperoleh secara turun-temurun. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika akhirnya usaha ini menjadi usaha keluarga karena secara otomatis, Ama Arisman akan menurunkan kepandaiannya kepada anak-anaknya. Seperti saat ditemui pada Selasa (12/1/2016), ia didampingi oleh kedua anaknya, Famezokhö Gowasa (23) dan Religius Gowasa (21).

Sesekali Ama Arisman menjawab beberapa pertanyaan karena sesungguhnya ia hanya mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah Nias. Ia hanya bisa memahami apa yang ditanyakan, tetapi tidak bisa menjawab dalam bahasa Indonesia. Sang anak, Famezokhö Gowasa yang kemudian menjelaskan seperti apa proses kerja mereka.

“Banyak yang harus disiapkan. Mulai dari arang dan peralatan kerja,” ujar Famezokhö Gowasa, pemuda yang masih tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di daerah itu.

Ia menjelaskan, arang yang digunakan berasal dari berbagai jenis kayu berkualitas baik serta dari tempurung kelapa. Selain dibuat sendiri, arang juga bisa dipesan dari desa sebelah. Sedangkan untuk peralatan, standarnya menggunakan pahat, palu, dan penjepit besi.

Proses kerja mereka ini yang kemudian menjadi tontonan menarik. Mulai dari angin yang berembus dari alat sederhana yang disebut nduru membuat arang semakin membara. Nduru berbentuk kotak segi empat dilengkapi besi panjang yang dapat ditarik keluar masuk, serupa dengan fungsi pompa yang menghasilkan angin. Lalu irama palu yang terdengar secara bergantian saat potongan besi dibagi, ditempa dan akhirnya dibentuk. Ada yang menjadi parang atau galewa, ada yang menjadi parang jagal atau belewa gari sebua beto, hingga mata kapak atau fato.

“Kami bekerja bukan berdasarkan pesanan. Yang penting berapa saja yang bisa kami hasilkan dalam sehari, itu kami kerjakan,” ujarnya.

***

Kekuatan mereka mengayunkan palu berat itu cukup mengagumkan. Tanpa ragu mereka memukul-mukul besi panas tanpa bertabrakan satu sama lain. Sekali kerja, tiga orang berperan. Dan masing-masing mereka sudah paham betul apa yang dilakukan. Tanpa takut mereka menaklukkan besi panas itu hingga terbentuk sesuai yang diinginkan. Tanpa pelindung tubuh, mata, maupun tangan sama sekali. Mereka sangat kuat dan berani!

Semua dikerjakan secara telaten selama berjam-jam. Dalam sehari itu, mereka bisa menghasilkan rata-rata 10 mata kapak dan 15 parang. Hasil ini bergantung kekuatan fisik. Terkadang jumlahnya bisa kurang karena harus mengerjakan alat jenis lain atau melakukan perbaikan alat.

Bisa berkembang

Famezokhö Gowasa menuturkan untuk satu hari bisa menghabiskan sekitar 20 kilogram besi. Besi ini diperoleh dari besi per mobil yang rusak. Satu kilogram besi per ini, dibeli seharga Rp 10.000. Namun, jika sulit didapat, harganya bisa naik hingga Rp 12.000 per kilogram. Begitu juga dengan arang, yang untuk satu karung ukuran 50 kilogram dibeli seharga Rp 60.000.

Untuk harga jual alat yang sudah jadi, terendah Rp 20.000, tertinggi Rp 70.000. Sementara ongkos untuk memperbaiki adalah Rp 8.000 per satu alat.

Lalu, berapa penghasilan mereka?

Dalam seminggu, mereka bisa mendapat antara Rp 300.000 hingga Rp 400.000. Bahkan, bisa mencapai Rp 600.000 jika banyak pesanan. Jumlah itu sudah dikurangi dengan biaya pembelian bahan dan biaya produksi.

Akan tetapi, angka ini tidaklah cukup untuk membiayai hidup Ama Arisman dengan ke lima anaknya (sebenarnya anaknya 7 orang, tetapi 2 orang sudah menikah). Selain biaya hidup yang cukup tinggi tentunya, ia juga harus memikirkan biaya pendidikan anak-anaknya.

Bagaimana pula jika mereka sakit karena melakukan pekerjaan yang sangat berat?

“Kami berharap pemerintah bisa memberikan perhatian kepada kami baik dari dana maupun bahan. Karena usaha ini semuanya berasal dari modal sendiri. Pernah ada satu kali bantuan pemberian besi per, tetapi kami tidak dapat sama sekali,” kata Famezokhö Gowasa menyampaikan harapannya.

Ia berharap, dengan adanya bantuan dari pemerintah, usaha ini bisa berkembang dan mampu meningkatkan pendapatan mereka.