KINERJA PEMERINTAHAN DAERAH

Bekerja Keraslah agar Nias Barat Berdaya!

0
527
Pasangan Fakhe saat kampanye di Mandrehe. —Foto: Shinta Purnama via Facebook

Oleh Postinus Gulö

Terlepas dari berbagai pandangan yang berbeda-beda, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menorehkan hal baru dalam kultur politik Indonesia. Revolusi mental menjadi slogan Jokowi. Slogan ini bukan sekadar isapan jempol. Jokowi mempraktikkannya dalam dirinya sendiri. Selama ini, di kala politisi memenangi pertarungan politik, tak sedikit yang memilih perayaan mewah dan di gedung megah dengan berbagai sanjungan. Hampir semua mereka dihinggapi euforia hingga lupa daratan. Jokowi tidak demikian. Ia merayakan kemenangannya dalam Pilpres 2014 di atas kapal di Pelabuhan Laut Sunda Kelapa Jakarta (22/7/2014). Jokowi ingin mengirim pesan bahwa kemenangan politik hendaknya tidak disambut dengan luapan euforia, tetapi dengan kerja keras. Menang dalam politik berarti menghadapi tantangan dan kendala ibarat gelombang laut yang datang tak henti.

Tidak lama setelah dilantik, Jokowi meminta agar para menteri dan pejabat lainnya bekerja dengan cepat dan gaya hidup sederhana. Pesta dan rapat-rapat di hotel mewah hendaknya dihindari. Selain hal itu menelan biaya triliunan rupiah, juga tampak sebagai tindakan yang kurang solider dengan rakyat Indonesia yang masih banyak hidup dalam garis kemiskinan.

Jokowi dilantik menjadi Presiden RI pada 20 Oktober 2014. Hanya dalam waktu satu bulan awal kepemimpinannya Jokowi berhasil menghemat uang negara sebesar 16 triliun rupiah (Kompas, 14/11/2014). Tidak hanya itu, dalam RAPBN Perubahan tahun 2016, Jokowi memotong anggaran perjalanan dinas, seminar, dan mobil dinas pejabat yang hasilnya menghemat 50 triliun rupiah (www.detik.com, 14/4/2016).

Kerja Keras

Dalam revolusi mental mesti terwujud perubahan positif melalui kerja keras dan perilaku hemat-sederhana sehingga fokus utama adalah pemberdayaan rakyat. Slogan revolusi mental Jokowi itu hampir mirip dengan slogan yang didengungkan oleh Faduhusi Daeli-Khenoki Waruwu: “Perubahan dan Nias Barat berdaya”. Slogan Faduhusi–Khenoki awalnya memberi harapan besar. Banyak rakyat Nias Barat, termasuk saya, sabar menunggu perubahan apa yang akan segera mereka lakukan untuk membuat Nias Barat berdaya? Saya pun berpikir bahwa kerja keras Faduhusi-Khenoki akan mulai tampak pada awal-awal kepemimpinan Faduhusi-Khenoki.

Faduhusi-Khenoki sudah dilantik menjadi Bupati-Wakil Bupati Nias Barat sejak 22 April 2016 silam. Artinya sudah sekitar 60 hari Faduhusi-Khenoki memimpin Nias Barat. Akan tetapi, apakah sudah mulai tampak perubahan itu? Apakah sudah mulai tampak pemberdayaan itu? Apakah dalam pesta-pesta yang mereka lakukan tampak kesederhanaan dan semangat hemat anggaran?

Nias Barat baru mekar delapan tahun silam, tepatnya tahun 2008. Di sana-sini banyak kekurangan dan keterbatasan. Kerja keras dan gerak cepat dari pimpinan Nias Barat sangat dibutuhkan. Perlu kerendahan hati untuk mengakui bahwa pimpinan pemerintah sebelum Faduhusi-Khenoki sudah melakukan hal yang sangat fundamental. Hampir semua kantor dinas rampung dibangun. Ia bekerja sesuai perundang-undang yang berlaku. Fondasi awal infrastruktur sudah dimulai. Gaya kepemimpinan anti-korupsi sudah digalakkan. Penataan struktur organisasi pemerintah sudah dilakukan. Tidak hanya itu, menolak dengan tegas permainan uang dan intrik politik dalam pengangkatan para pejabat. Diganggu oleh oknum politisi busuk pun dia tetap kokoh bertahan dalam integritasnya.

Saya terus menunggu: apa lagi yang akan dilakukan Faduhusi-Khenoki untuk melakukan perubahan sehingga Nias Barat berdaya? Kita terus menunggu kerja keras Faduhusi-Khenoki sehingga segera tampak perubahan positif di Nias Barat. Melihat kondisi Nias Barat, ada beberapa sektor yang butuh kerja keras dari Faduhusi-Khenoki dan semua SKPD.

Pertama, pembangunan infrastruktur jalan—termasuk Jembatan Lahömi—untuk mendukung aktivitas warga, terutama anak-anak sekolah yang sedang menuntut ilmu demi meraih hidup yang berdaya. Saya membayangkan dan pasti banyak yang menaruh simpati jika sambil menunggu proses penganggaran dalam R-APBD untuk pembangunan jembatan tersebut, lalu Faduhusi-Khenoki bekerja kreatif. Hal yang bisa dilakukan adalah tindakan jangka pendek, yakni pembangunan jembatan darurat. Kearifan lokal masyarakat sekitar mesti digerakkan: gotong royong atau falulusa fohalöwö. Tindakan meninjau, ungkapan prihatin, janji ini dan itu, sudah jamak didengar dan terkesan klise semata. Rakyat butuh gebrakan cepat!

Betapa hebatnya jika partisipasi SKPD pada pesta syukuran tujuh tahun Nias Barat dan syukuran kemenangan Faduhusi-Khenoki diberlakukan pula dalam hal pembangunan Jembatan Lahömi itu. Dalam syukuran tujuh tahun Nias Barat 26 Mei 2016 lalu, masing-masing SKPD menyumbang dengan suka rela. Jika dikalkulasi, sumbangan SKPD tersebut mencapai ratusan juta rupiah. Suatu perubahan luar biasa jika Faduhusi-Khenoki mengajak masyarakat Nias Barat dan SKPD untuk mencari solusi atas pembangunan jembatan yang tentu saja menjadi kebutuhan mendesak warga. Partisipasi warga Nias Barat jangan hanya dalam acara-acara pesta!

Bersih dari KKN

Kedua, pemerintahan yang bersih dari KKN. Hingga hari ini, sudah dua bulan (sekitar 60 hari) Faduhusi-Khenoki memimpin Nias Barat. Dalam kurun waktu sesingkat itu, Faduhusi-Khenoki sudah dua kali merotasi dan mengangkat eselon III dan IV dengan jumlah keseluruhan 65 orang. Tidak hanya itu, ada banyak kepala desa yang diganti dengan penjabat sementara dari unsur pegawai negeri sipil. Tentu saja, kita mendukung gerak cepat Faduhusi-Khenoki itu jika dilandasi atas niat agar segera terwujud perubahan dan jauh dari KKN.

Akan tetapi, tak dapat dihindari penilaian sebagian rakyat Nias Barat yang terungkap di media sosial, juga dalam pembicaraan sehari-hari bahwa dalam pengangkatan eselon itu sangat kentara nuansa nepotisme. Hal itu terjadi karena di antara 65 orang itu, tidak sedikit yang berasal dari keluarga, kerabat dan unsur pendukung Faduhusi-Khenoki. Sebagai pemimpin yang menerima mandat dari rakyat, Faduhusi-Khenoki mestinya tidak alergi dengan penilaian itu. Sikap asertif sangat dibutuhkan. Faduhusi-Khenoki sangat bijak jika tidak memelihara mental block atau pembelaan diri yang terkesan mengabaikan kritik konstruktif. Pemimpin yang antikritik adalah pemimpin yang mengabsolutkan kekuasaannya. Hal ini sangat tidak baik dan tidak benar. Sebab, seperti kata guru besar Universitas Cambridge Inggris Lord Acton, kekuasaan absolut cenderung korup!

Baca juga:  Kami Mau Merdeka dari Kegelapan, Pak Jokowi!

Yakinlah, Faduhusi-Khenoki tak akan mampu membuat Nias Barat berdaya jika tak mampu pula menjauhkan diri dari KKN itu. Di negeri kita ini, KKN nyata sebagai pelanggaran hukum luar biasa. Sebab, merusak negeri ini dari segala lini. Rakyat Nias Barat pasti mendukung Faduhusi-Khenoki agar konsisten bekerja keras menciptakan Nias Barat berdaya dengan menjauhi KKN. Tak ada kata lain, Faduhusi-Khenoki mesti stop berpidato manis. Stop berjanji ini dan itu. Rakyatmu menunggu kerja kerasmmu untuk menolak segala bentuk dan tindakan KKN itu. Bekerja keraslah untuk membuktikan bahwa engkau pembawa perubahan di Nias Barat!

Ketiga, pembangunan sektor pendidikan. Fokus pemerintahan Faduhusi-Kenoki terhadap pendidikan perlu diapresiasi. Perubahan signifikan akan lahir melalui pembangunan di bidang pendidikan ini. Eropa dan Amerika menjadi negara maju yang hampir semuanya menguasai berbagai ilmu karena ditopang oleh pembangunan pendidikan yang bermutu. Melalui pendidikan pula, Jepang mampu menyaingi perekonomian Amerika Serikat.

Oleh karena itu, yang dibutuhkan rakyat Nias Barat adalah mutu pendidikan itu meningkat. Bukan sekadar pendidikan gratis yang mengesampingkan mutu. Sangat luar biasa jika Faduhusi-Khenoki mampu bekerja keras membangun sektor pendidikan melalui program gratis, tetapi bermutu. Hanya, apakah itu mungkin?

Harus disadari bahwa pendidikan yang bermutu membutuhkan biaya besar. Kita harus ingat pula bahwa pendidikan gratis tidak sama dengan penghilangan uang komite. Lebih tepat jika digunakan istilah beasiswa, bukan gratis. Pemerintah Nias Barat perlu menjalin relasi dengan berbagai donatur, perguruan tinggi, alokasi dana beasiswa dalam APBD yang memadai. Pendidikan yang menjadikan Nias Barat berdaya adalah pendidikan yang bermutu. Slogan pendidikan gratis tanpa mutu hanya membuat Nias Barat semakin tak berdaya.

Keempat, bidang pertanian dan pariwisata. Masyarakat Nias Barat sebagian besar  hidup dari hasil pertanian. Maka, janji kampanye Faduhusi-Khenoki bahwa memberdayakan petani perlu dilakukan dengan kerja keras, bukan dengan kerja pesta, atau dengan pidato yang berapi-api. Faduhusi-Khenoki perlu memberdayakan para petani kita agar mereka bekerja tidak hanya manual sebagaimana kebiasaan bercocok tanam tradisional. Selain peningkatan keahlian bertani, pemerintah perlu mendukung petani dengan alat tani yang memadai.

Saya termasuk masyarakat Nias Barat yang bangga ketika Wakil Bupati Khenoki Waruwu melakukan peninjauan tempat pariwisata di Pulau Asu. Potensi pariwisata Nias Barat sangat menjanjikan. Seperti kita tahu, sangat besar pemasukan warga dan pemerintahan Bali dari sektor pariwisata ini. Setelah saya satu tahun di Roma pun saya amati bahwa warga Italia dan pemerintahannya sangat besar menerima keuntungan ekonomi dari sektor pariwisata ini.

Kita tunggu apa yang dilakukan pemerintah setelah kunjungan Khenoki itu. Jika Nias Barat memaksimalkan pembangunan di bidang pariwisata ini, niscaya sedikit demi sedikit terwujud perubahan luar biasa di Nias Barat. Memang kita harus bijak melakukan pembangunan pariwisata itu. Jangan sampai budaya asli kita menjadi hilang. Pembangunan pariwisata mesti diintegrasikan dalam konteks budaya Nias Barat.

Tentu saja selain empat fokus pembangunan di atas, ada banyak sektor lain yang mesti dibangun. Akan tetapi, Faduhusi-Khenoki perlu bekerja keras secara bertahap. Kebutuhan mendesak dan mendasar hendaknya menjadi prioritas utama. Nias Barat berdaya jika Faduhusi-Khenoki bekerja keras.

Semangat Hemat Anggaran

Dalam 100 hari sejak dilantik, Jokowi langsung melakukan langkah radikal sehingga mampu menghemat uang negara dengan memotong subsidi BBM sebesar Rp 194,19 triliun (www.detik.com, 27/1/2015). Semangat hemat anggaran semacam ini mestinya ditiru oleh Faduhusi-Khenoki. Apalagi  PDI-P yang merupakan kendaraan politik Presiden Jokowi juga menjadi partai pendukung Faduhusi-Khenoki. Siapa yang tak mengakui bahwa Jokowi telah banyak membangun infrastruktur jalan raya, tol laut, peningkatan ekonomi yang dimulai dari pinggiran kota. Itu semua berjalan penuh semangat kerja keras, bukan melalui pesta-pesta mewah!

Oleh karena itu, Faduhusi-Khenoki perlu menerapkan semangat kerja Jokowi itu. Nias Barat berdaya hanya melalui kerja keras dan bukan melalui berbagai pesta-pesta yang justru terkesan hanya sebagai luapan euforia. Sejauh ini, kita harus jujur mengatakan bahwa belum tampak pula semangat hemat anggaran. Malah dari 4 kepala daerah di Kepulauan Nias yang dilantik 22 April silam hanyalah Faduhusi-Khenoki yang menggunakan APBD untuk membiayai pelantikan dan syukuran.

Faduhusi-Khenoki sudah menggenggam kemenangan politik sejak 9 Desember 2015. Mereka sudah dilantik pada 22 April 2016. Pada 30 Juli nanti genap 100 hari memimpin Nias Barat. Tidak ada kata terlambat, Faduhusi-Khenoki ditunggu kerja kerasmu untuk membuktikan bahwa Anda layak dipercaya, nyata sebagai pembawa perubahan di Nias Barat. Berbagai keluhan masyarakat yang disampaikan lewat berbagai media sosial jangan dianggap sepele. Demikian juga keterbukaan informasi kepada media massa harus menjadi perhatian setiap SKPD sehingga masyarakat bisa mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh setiap SKPD untuk mewujudkan Nias Barat Berdaya.

Semua elemen rakyat Nias Barat perlu menghentikan segala macam tindakan yang kontra-produktif. Pertarungan dalam politik mesti menciptakan kegembiraan, bukan permusuhan. Marilah kita mendukung Faduhusi-Khenoki mengemban mandat  rakyat memimpin Nias Barat lima tahun ke depan (tahun 2016-2021). Marilah kita tidak malas berpikir dan tidak malas melakukan kritik. Sebab kritik kita merupakan partisipasi kita untuk bersama mereka membangun Nias Barat.