APA & SIAPA

Otniel Lizaro Waruwu: Kota Gunungsitoli Perlu Dirancang Menjadi “Cyber City”

2
1088
Otniel Lizaro Waruwu. —Foto: Kabarnias.com/Apolonius Lase

Meskipun berada di tempat yang jauh, setiap diaspora Nias tak pernah lupa kampung halaman. Tak bisa dimungkiri, jauh di dalam hati yang terdalam, mereka selalu memimpikan tanah kelahiran bisa berubah semakin baik dan makin maju.

Itu pula yang dialami oleh seorang putra Nias, kelahiran Kota Gunungsitoli, Otniel Lizaro Waruwu, saat berbincang-bincang dengan Kabar Nias beberapa waktu lalu. Otniel yang genap berusia 50 tahun pada 10 April mendatang itu memimpikan Kota Gunungsitoli berkembang menjadi kota pintar (smart city) dan kota siber (cyber city).

“Untuk menjadikan Kota Gunungsitoli menjadi cyber city harus diawali dengan reformasi terlebih dulu bagi para birokratnya. Kita mendorong pemimpin baru di Pulau Nias, termasuk di Kota Gunungsitoli, lewat Pilkada 2015 kemarin, sudah memiliki pemikiran ke arah sana,” ujar anak kedua dari sembilan bersaudara itu.

Perkembangan global saat ini, kata Otniel, sudah harus ditangkap sebagai peluang untuk memajukan daerah-daerah. Apalagi, Pulau Nias memiliki potensi pariwisata yang besar dan mendunia.

2015-07-13 15.13.53

“Para wisatawan dalam negeri dan luar negeri menginginkan tempat-tempat yang ditata dengan baik dan terintegrasi. Salah satunya, di Kota Gunungsitoli belum ada sebuah tempat nongkrong yang dirancang sedemikian rupa sehingga para pengunjung merasa nyaman dan kebutuhan mereka tersedia,” ujar pengusaha penyelenggara jasa internet (internet service provider/ISP) ini. 

Alumni SMA Negeri 1 Gunungsitoli dan SMA Negeri 3 Medan ini memimpikan ada sebuah tempat di Kota Gunungsitoli yang dilengkapi dengan jaringan internet yang memadai, kemudian para anak muda Nias bisa memanfaatkan tempat tersebut untuk berinteraksi satu sama lain.

“Tempatnya didesain khusus bergaya futuristik, dilengkapi dengan resto yang menyediakan berbagai kuliner khas Nias dan minuman, sehingga ide-ide brilian serta inovasi-inovasi diharapkan bisa muncul karena dukungan tempat yang nyaman,” ujar ayah satu anak, bernama Nito Waruwu, tersebut. Khusus kuliner ini, menurut Otniel, harus ada kreativitas untuk menciptakannya berbasis sumber daya alam setempat.

Di sudut lain tempat itu, ditambahkan pengusaha dealer otomotif ini, dibuatkan tempat untuk meeting, dengan kesediaan berbagai fitur, seperti proyektor untuk presentasi. “Kemudian, tempat itu juga dilengkapi dengan perpustakaan yang bisa diakses secara online lewat aplikasi atau lazim disebut cyber library. Pasti akan keren,” kata Otniel sambil tersenyum.

Untuk mewujudkan kota siber, menurut Otniel, harus dibarengi dengan melek teknologi di kalangan birokrat, terutama PNS. “Melek Teknologi bisa membuat PNS bekerja disiplin dan bekerja secara efektif dan efisien. Dengan kesiapan itu, mimpi kita menjadikan Kota Gunungsitoli menjadi cyber city adalah sebuah keniscayaan. Tergantung niat kita, terutama pemimpin di birokrasinya, mau enggak melihat kota ini menjadi tempat idaman bagi siapa pun untuk berkunjung,” katanya optimistik.

Terus Belajar

Otniel yang lahir di Jalan Sisingamangaraja No. 18, Tandrawana, 10 April 1966, dari orangtua (ayah dan ibu) yang sama-sama bekerja di bidang kesehatan itu, tepatnya di RSU Gunungsitoli, mengaku sangat peduli akan pentingnya pendidikan.

Tekadnya untuk terus belajar dibuktikannya dengan saat ini ia sedang mengambil program doktoral (S-3) bidang ekonomi di Universitas Pancasila, Jakarta.

“Saya suka belajar. Ingin mengisi diri dengan pengetahuan sebisa saya. Saya dulu di USU hanya bisa D-3 Akuntansi Fakultas Ekonomi. Saat itu karena orangtua tidak mampu, bayangkan anak 9. Pasti biayanya susah. Lalu saya ke Jakarta dan bisa S-1 di Jurusan Akuntansi STIE Jayakarta, dan melanjut di S-2 Marketing STIE IPWIJA,” ujar Otniel.

Kecintaan terhadap pendidikan juga menurun pada anak semata wayangnya, Nito Waruwu. Prestasi demi prestasi diraih oleh putranya yang kini sudah kuliah Marketing di Universitas Prasetya Mulya. Nito, tiga tahun lalu, terpilih menjadi salah satu duta Indonesia, dalam program pertukaran pelajar di Denmark saat dia masih belajar di SMA Penabur Jakarta.

Bicara soal Nias, Otniel selalu saja terlihat bersemangat. Ia bahkan tak pernah ketinggalan dan berusaha ambil bagian untuk setiap momen penting bagi pengembangan Nias. “Sepanjang itu positif dan bermanfaat untuk Nias secara keseluruhan dan saya bisa berpartisipasi, saya berkomitmen melakukan apa yang aku bisa lakukan,” ujarnya.

Tak salah jika alumni SD Teladan Gunungsitoli (yang terletak di samping Kantor Pengadilan Negeri, dekat kantor Sinode BNKP) dan SMP Negeri 3 ini memiliki moto hidup: “Selalu melakukan yang terbaik supaya menjadi saluran berkat”.

Otniel berjanji, lewat apa yang ia miliki yang dipercaya Tuhan padanya, ia akan mencoba melakukan hal-hal kecil dengan efek membumi untuk Kota Gunungsitoli. Sekali lagi, Otniel memimpikan kota kelahirannya, Kota Gunungsitoli, menjadi cyber city. Kalau Anda, apakah juga punya mimpi yang sama?

  • Harus diawali dengan mimpi. Kota Gunungsitoli diarahkan menuju ke sana. Perkembangan global tak boleh diabaikan. Ini tantangan yang harus dijawab dengan kerja keras. Pemkot harus bisa berinovasi. APBD tak boleh lagi hanya untuk dibagi-bagi menjadi jatah-jatahan proyek.

    • Good Guy

      1. Berarti harus tidur dulu begitu? Supaya bisa mimpi?
      2. Emang selama ini APBD di bagi2 menjadi jatah-jatahan proyek? Siapa pelakunya?