Perayaan Natal

Berbagi Kasih Natal di Panti Jompo Bethania BNKP

0
671
Photo: KPZ

Oleh Ketjel Zagötö

Menjadi tua adalah suratan takdir manusia. Tentu tak ada yang ingin menjalani sisa hidup seorang diri tanpa kasih sayang dan perhatian dari keluarga, apalagi dalam suasana Natal dan pergantian tahun seperti saat ini. Keberadaa panti jompo menjadi sebuah jawaban bagi mereka yang tinggal sebatang kara di ujung senja. Setiap pengunjung yang datang sudah dianggap sebagai saudara dan keluarga mereka dan itu adalah kado terindah yang terus mereka nantikan.

Menyambut perayaan Natal, anggota dan pengurus darma wanita sebuah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) di Kota Gunungsitoli berbagi kebahagiaan mengunjungi Panti Jompo Bethania BNKP di Jalan Yos Sudarso, Kota Gunungsitoli. Kabar Nias berkesempatan juga ikut dalam kegiatan sosial tersebut.

Sejak pukul 14.30, salah satu penghuni panti, Fatilisa Zebua (68), duduk di teras depan kamarnya. Blus coklat polos dan rok motif bunga-bunga sangat serasi dipandang mata. Senyumnya mengembang, ramah kepada siapa pun yang datang. Hari itu memang berbeda. Fatilisa dan kedua belas penghuni panti lainnya mendapat kunjungan “keluarga” lagi, seperti setiap tahun mereka lalui. Meski tamu yang ditunggu baru datang pukul 15.00, wajah semringah tak pernah lepas dari penghuni panti Jompo Bethania BNKP.

Tak berapa lama, tamu yang ditunggu tiba. Ibu-ibu berseragam dharma wanita datang dan memberikan bingkisan untuk semua penghuni panti. Tidak hanya bingkisan, semua penghuni panti bersukacita dengan berdoa dan bernyanyi bersama diiringi dengan tepuk tangan.

Meskipun tersenyum, Fatilisa menyisakan haru. Itu jelas terlihat di pelupuk kedua matanya yang berkaca-kaca. Kedua tangannya gemetar saat menerima bingkisan. Hanya kata ‘saohagölö‘ (terima kasih) yang terucap pelan dari mulutnya.

Kabar Nias mencoba berbagi cerita dengan Fatilisa. Dia menyatakan bahwa ia sangat rindu dengan keluarganya. “Dengan ada yang datang ini, kerinduan akan kampung halaman dan sanak keluarga. Terima kasih telah menyediakan waktu untuk datang ke panti,” ujarnya sambil menangis. Ia berasal dari Desa Tumöri, Kecamatan Gunungsitoli Barat. Ia tidak memiliki keluarga inti lagi. Keluarga jauh ada, tetapi mereka juga sibuk dengan urusan keluarga mereka. 

“Saya bahagia dan senang di sini,” ujarnya kepada Kabar Nias.

Rumah bagi Mereka yang Sebatang Kara

Photo: KPZ
Photo: KPZ

Rumah Perawatan Lansia Bethania BNKP sudah tak mampu menampung lansia lebih banyak lagi. Hal ini diungkapkan oleh Ibu Pendeta Nur Dian Ziliwu, salah seorang pengurus panti.

“Satu kamar dihuni empat orang yang rata-rata sudah berumur di atas 70 tahun. Setiap lansia membutuhkan perhatian khusus, mulai dari kesehatan, makanan, dan kebersihan. Semua itu harus kami perhatikan satu per satu,” ujarnya kepada Kabar Nias.

Menurut Nur Dian, khusus makanan tentu harus memenuhi gizi yang disesuaikan dengan umur lansia. Hal inilah yang kadang menjadi sulit mengingat perangai setiap lansia terkadan bisa seperti anak kecil, kadang lupa bahwa belum makan atau malah ingin makan makanan yang sebenarnya dilarang oleh dokter.

Penghuni Panti Bethania BNKP yang rata-rata berasal dari desa di wilayah Kota Gunungsitoli itu adalah mereka yang hidup sebatang kara atau tidak punya sanak keluarga lagi.

“Saat ke sini ada yang diantar oleh perangkat desa atau diantar tetangga yang masih famili. Biasanya yang masuk ke sini memang sudah sebatang kara, lalu sering sakit atau sudah pikun sehingga membutuhkan perawatan khusus,” kata Fatilisa.

Hari Besar

Natal dan hari besar lainnya adalah hari yang sangat ditunggu oleh penghuni Panti Jompo Bethania BNKP. Tentu selain bingkisan, bertemu dengan pengunjung merupakan hadiah Natal yang tidak ternilai harganya.

Bagi penghuni panti jompo, pengunjung adalah keluarga yang mereka nantikan untuk merayakan Natal bersama. Di ujung senja, mereka masih menyimpan harapan, pada Natal tahun depan mereka akan bertemu lagi dengan “keluarga” yang mereka rindukan. Jika ingin berbagi kasih kepada mereka di Panti Jompo Bethania, silakan datang langsung di Jalan Yos Sudarso, dengan narahubung Pdt Nur Dian Ziliwu.

Selamat Natal dan Selamat Tahun Baru 2016.