MEMBANGUN DESA

Si’öfa’ewali Selatan, Desa Pemekaran yang Terisolasi

0
425

BAWOLATO, KABAR NIAS — Sudah empat tahun Desa Si’öfa’ewali Selatan mekar dari Desa Si’öfaewali, Kecamatan Bawölato, Kabupaten Nias. Namun, hingga kini kondisi desa baru tersebut tak tersentuh pembangunan dan makin terisolasi. Diperlukan perhatian Pemerintah Kabupaten Nias untuk mengarahkan pembangunan di desa terisolasi itu, termasuk memastikan pemanfaatan Dana Desa diarahkan pada kebutuhan masyarakat yang paling krusial, yakni pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan.

Kabar Nias beberapa waktu lalu mencoba memotret kondisi desa itu dari dekat. Infrastruktur seperti jalan untuk akses menuju desa ini cukup memprihatinkan karena masih belum ada jalan beraspal. Sejumlah jembatan hanya menggunakan batang kelapa dan susah dilewati kendaraan roda dua dan roda empat.

Adapun gedung sekolah satu atap SDN No. 077296 Soma Orahua yang dibangun tahun 2012 terlihat terbengkalai dan tidak pernah dimanfaatkan. Bahkan, kini sudah mulai dirambah semak belukar.

Kondisi ini tentu membuat masyarakat di desa itu yang terdiri atas 170 keluarga atau 1.355 jiwa menguarkan asa agar Pemerintah Kabupaten Nias memperhatikan desa mereka. Untuk diketahui, masyarakat desa ini terdiri dari 97 persen petani, 2 persen nelayan, dan 1 persen berprofesi lain.

Untuk menuju ke daerah itu, pengunjung termasuk warga setempat membutuhkan tenaga ekstra. Dari desa induk, Desa Si’öfa’ewali Selatan ini berjarak 4 kilometer. Memasuki desa ini pengunjung mesti melewati jalan bersemak dan menyeberangi Sungai Mola. Pada  1997, di Sungai Mola ini pernah ada warga Desa Sohoya menjadi korban diterkam buaya karena tidak ada jembatan di sungai ini.

Adapun dari Desa Hili’alawa—jalan negara—sekitar 4 kilomoter sudah dibatui sampai batas desa. Namun, sekarang kondisinya setelah dilewati truk bagai kubangan kerbau. Apalagi, kalau hujan, warga terpaksa berjalan kaki dengan melewati jalan berlumpur hingga selutut.

Desa Si’öfa’ewali Selatan ini bisa jadi mewakili wajah ke-51 desa hasil pemekaran lainnya di Kabupaten Nias, yang mekar pada tahun 2012 berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Nias Nomor 2 Tahun 2012.

Janji Kampanye

Perlu diingat, Bupati Nias Sökhiatulö Laoli, saat menyampaikan kampanye politik pada pemilihan kepala daerah 9 Desember 2015, menyatakan, selama periode 2011-2016, dari 170 desa yang belum tersentuh pembangunan jalan tinggal 45 desa. Kala itu, ia berjanji kondisi ini akan diselesaikannya dalam tempo lima tahun ke depan.

“Saat kami baru menjabat pada 2011, jumlah desa sebanyak 119, yang dapat terakses jalan hanya 40 persen. Lalu, setelah kami jadi Bupati dan Wakil Bupati Nias, pada tahun 2012, desa dimekarkan sebanyak 51 desa. Dari 170 desa yang ada, tinggal 45 desa lagi yang tidak tersentuh pembangunan jalan. Dan jika kami terpilih, dalam tempo 5 tahun ke depan, semua desa sudah dapat terakses,” kata Sökhi’atulö di setiap kesempatan kampanye pada November 2015 yang lalu. Masyarakat Nias tentu menunggu janji ini bisa segera diwujudkan.

Kabar Nias menjelajahi daerah itu, Sabtu (2/7/2016), melalui Desa Hili’alawa, Kecamatan Bawölato, sekitar 52 kilometer dari Kota Gunungsitoli. Berjalan sekitar 200 meter setelah simpang, baju yang menempel di badan dapat diperas karena keringat mengucur begitu deras saat melewati bebatuan dan jalan setapak yang tumbuhi semak belukar.

Beruntung, saat itu, terik matahari seminggu terakhir mengeringkan jalanan yang berlumpur. Walau demikian, warga yang menjual hasil bumi dan belanja kebutuhan pokok cukup repot karena harus memikul barangnya di bahu. Tidak mengherankan jika harga kebutuhan sehari-hari dirasakan begitu mahal oleh warga setempat.

Buta Huruf

Hal yang mengharukan, saat tiba di kediaman Kepala Desa Si’öfa’ewali Selatan Ya’aro Sökhi Halawa. Warga desa itu ternyata masih banyak yang buta huruf. Beberapa warga yang berkumpul di rumah kepala desa itu sedang mengurus kartu keluarga (KK) dan kartu tanda penduduk (KTP). Untuk mengisi formulir tersebut, Ya’aro terpaksa melakukannya sendiri dengan menanyakan kepada warganya tentang data pribadi. Setelah usai, warga tersebut diminta membubuhkan cap jempol.

Ina Viktor Nduru, warga setempat dan ibu empat anak, yang dijumpai Kabar Nias, mengaku, dirinya dan suaminya tidak mampu membaca dan menulis. Untuk mengisi formulir KK harus meminta bantuan kepala desa serta mengurus hingga ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Nias.

Löma’ila manura fao mombaso. Nahama ba laza so. Ono khöma no mafatenge sekola ha kalasi sara SD. No labato me a’röu nitörö tanö (Kami tidak bisa menulis dan membaca. rumah kami di sawah. Anak-anak kami pernah sekolah di kelas SD, tetapi berhenti karena ke sekolah mereka merasa kejauhan dan harus ditempuh dengan berjalan kaki),” kata Ina Viktor.

Selain itu, Ina Viktor menuturkan bahwa mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan benih padi dari pemerintah. Apalagi irigasi serta pupuk yang bersubsidi. “Kami hanya mengandalkan hujan untuk menyuburkan sawah. Benih yang disemai yang sekali enam bulan panen. Terkadang tidak mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk menyiasatinya, makan nasi cukup pada siang hari saja,” katanya.

Perhatian Pemerintah

Ya’aro mengakui desanya yang sudah mekar empat tahun silam dan masih tergolong terpencil dan terisolasi. Perhatian pemerintah baru mulai dirasakan sejak tahun 2015, hampir semua warganya mendapat bantuan penerangan dari listrik tenaga surya. Selain itu, pihaknya menerima bantuan dana desa (DD) sebesar Rp 200 juta yang dialokasikan pada pengerasan jalan.

Sementara DD tahun 2016 tahap pertama, menurut rencana, akan diterima sebesar Rp 450 juta juga akan dialokasikan untuk pengerasan jalan. “Tahun ini, kami lakukan pengerasan jalan, mulai dari wilayah Desa Hili’alawa. Kalau tidak, kami tidak bisa mengangkat bahan ke desa kami,” ujarnya.

Luas Si’öfa’ewali Selatan sekitar 24.000 meter persegi, selain bangunan SD, desa ini juga memiliki 8 gedung gereja, yakni GPDI 3 unit, GBI 2 unit, AFY 1 unit, GPI 1 unit dan Katolik 1 unit.

Adapun pendapatan keluarga di bawah rata-rata. Akibatnya, sebagian besar warganya, terutama pemuda, memilih merantau keluar daerah.

Di tempat yang sama, Talisokhi Ndruru (43), warga setempat, berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan desanya setelah mekar dari desa sebelumnya. “Semoga tujuan pemekaran segera terwujud. Kami ingin desa kami dilalui jalan yang diaspal”.

SMP Satu Atap Tutup

Sekretaris Desa Si’öfaewali Selatan Ediyanus Harefa, yang juga merupakan guru tidak tetap (GTT) di SDN No 077296 Soma Orahua, mengatakan bahwa sekolah tempatnya mengajar sangat sederhana.

Jumlah siswa di sekolah tersebut dari kelas I–V sebanyak 80 orang. Adapun yang baru selesai mengikuti ujian nasional yang dinyatakan lulus 6 orang. Tenaga pengajar 3 orang, honorer 1 orang, 1 CPNS, dan 1 orang PNS sebagai kepala sekolah. Karena kekurangan ruangan rombongan belajar (rombel), para pengajar ini menginisiasi menyekat setiap ruang.

Sebenarnya di desa itu ada gedung sekolah yang menganggur. Bangunan sekolah satu atap yang sudah dibangun tahun 2012 itu terdiri dari 2 ruangan dan 1 rumah dinas. Namun, karena tidak pernah digunakan, kondisinya sudah memprihatinkan karena ditumbuhi semak. Ediyanus tidak berani menggunakan gedung itu karena belum adanya izin dari Dinas Pendidikan Kabupaten Nias.

Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bawolato Fatieli Zai mengatakan bahwa sejak berdirinya bangunan sekolah satu atap di SDN No. 077296 Soma Orahua tidak pernah menerima siswa lantaran warga sekitar tidak ada yang menyekolahkan anaknya. Sementara penggunaan gedung itu mewajibkan kepala sekolah menyurati Bupati Nias guna mendapatkan izin.

“SD satu atap itu sudah ditutup lantaran sejak didirikan tidak ada siswa yang mendaftar, kecuali SDN No. 077296 Soma Orahua yang masih aktif. Masalahnya, warga sekitar banyak yang pindah keluar daerah. Jadi siswa yang tamat SD tidak ikut orangtua,” kata Fatieli melalui telephone selulernya kepada Kabar Nias, Senin (4/7/2016). [knc02w]