BENCANA ALAM

Lagi, Banjir Tenggelamkan Tiga Desa di Bawölato

0
624

BAWÖLATO, KABAR NIAS — Seakan sudah langganan, setiap hujan lebat wilayah di Kecamatan Bawölato, Kabupaten Nias, yakni Desa Lagasimahe, Si’öfa’ewali, dan Desa Sohoya, selalu saja dilanda banjir karena Sungai Mola meluap. Seperti yang kembali terjadi pada Senin (28/11/2016), hujan yang mengguyur sejak Minggu (27/11/2016), telah membuat warga di ketiga desa itu tidak bisa beraktivitas. Warga korban banjir hingga kini masih menunggu perhatian dan penanganan dari Pemerintahan Kabupaten Nias.

Pantauan Kabar Nias, akibat banjir besar ini, sejumlah sekolah terpaksa diliburkan, masyarakat tidak bisa memasak, bahkan harta benda mereka, termasuk ternak, juga raib karena banjir.

“Akibat banjir ini SMP Negeri 2 Bawölato, SDN Bawalia, SDN Sohoya, SMPN 6 Bawölato terpaksa diliburkan,” ujar salah seorang warga, Ina Bedi Lase.

Selain itu, sejumlah padi yang pada Sabtu selesai dipanen dan diletakkan di pematang sawah langsung terbawa arus banjir.  “Sabtu yang lalu, saudara saya, hasil panennya yang masih tinggal di pematang sawah. Semuanya hanyut pagi ini,” ujar Ina Bedi, Senin pagi.

Menurut Ina Bedi, banjir mulai meluap pada pagi buta, Minggu, dan mereka hanya mampu menyelamatkan alat-alat dapur. Sementara hasil bumi yang sudah dipanen tidak sempat diselamatkan berhubung jarak satu kilometer dari rumah dan melewati Sungai Mola.

Salah seorang pegawai Puskesmas Pembantu (Pustu) Botohaenga, Suri Lase, yang dijumpai Kabar Nias di Si’õfa’ewali mengatakan, dirinya terjebak banjir. Akibatnya ia tidak dapat mengikuti upacara di Puskesmas Bawölato.

“Tiap Senin, kami pegawai mengikuti apel sekalian rapat di Bawölato. Namun, saya tak bisa ikut karena terjebak banjir,” kata Suri. Warga lainnya, Sinema Ndraha, yang hendak ke Idanögawo tidak mampu lewat. Sepeda motor yang dia kendarai mogok saat melewati arus banjir setinggi sekitar 1 meter lebih.

Sekretaris Desa Lagasimahe Ya’aman Lawölö, saat dihubungi lewat telepon selulernya, mengatakan, bencana banjir ini telah dilaporkan kepada Pemerintah Kabupaten Nias. Menurut dia, hingga Senin, petugas kesehatan dari kecamatan sudah datang.

Baca juga:  HD Sanolo Diantar Ribuan Pendukung

“Yang sudah sampai di sini petugas kesehatan dari Bawölato. Pemerintah tengah berupaya menuju TKP. Mereka tidak bisa sampai ke sana karena banjir di desa kami sudah lebih dari satu meter setengah,” kata Aman.

Senin siang, tim evakuasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nias telah tiba dengan perlengkapan satu perahu karet.

Masyarakat Butuh Makanan

Pantauan di lapangan, para korban banjir yang umumnya tidak bisa memasak karena dapur mereka tergenang banjir sangat membutuhkan makanan siap santap. Sejumlah warga sebenarnya mengharapkan pihak pemerintah membuat posko dapur umum agar masyarakat korban banjir bisa mendapatkan makanan.

“Saya sudah menghubungi Dinas Sosial dan BPBD sejak pukul 06.30 dan tindakan cukup lamban sekali,” kata Elizama, seorang korban banjir.

Elizama mengaku bahwa dirinya dan unsur muspika terus memantau perkembangan dan melaporkan ke atasan kondisi terkini soal insiden banjir yang disebut paling besar selama 2016.

“Penanganan kebutuhan masyarakat itu Dinsos. Sampai sekarang mereka belum sampai. Dapur umum belum ada. Itu mestinya Dinsos,” kata Elizama.

Sejumlah korban banjir menyampaikan kekesalan mereka terhadap sikap Pemerintah Kabupaten Nias yang mereka nilai kurang tanggap dalam menangani bencana banjir yang melanda daerah mereka.

“Harusnya untuk mengevakuasi warga dibutuhkan sejumlah perahu karet, jangan hanya satu. Kebutuhan makanan dan pertolongan lain juga sangat dibutuhkan. Namun, sampai saat ini belum diperhatikan,” kata Ya’aman.

Pegawai BPBD yang tengah mengevakuasi warga, kepada Kabar Nias, mengatakan, pihaknya hanya membawa perahu 1 unit. “Ada dua unit, tapi kami kesulitan membawanya ke lokasi,” ujar pegawai BPBD itu. Yang utama dievakuasi adalah anak-anak, perempuan hamil, dan lanjut usia.

Hingga Senin sore, banjir masih belum surut karena hujan masih mengguyur wilayah Kecamatan Bawölato.

Kaur Umum Pemerintahan Desa Orahua Faondatö Ama Ester Halawa mengabari bahwa Dusun I terendam banjir setinggi sekitar 100 cm. Warga 50 kepala keluarga.
Desa mereka cukup terisolasi. Lokasi ini hanya dapat dilalui dengan jalan kaki.

Untuk diketahui lokasi desa ini kerap dilanda banjir. Tahun 2016, Pemerintah Kabupaten Nias telah memprogramkan normalisasi sungai di Desa Sohoya, tetapi tidak jalan berhubung masyarakat pemilik lahan tidak mengizinkan.

Onlyhu Ndraha
Reporter Kabar Nias di Kota Gunungsitoli. Lahir di Maliwa'a, 23 Februari 1983, di Desa Tagaule, Kecamatan Idanögawo, Kabupaten Nias. Pernah mengecap pendidikan di Jurusan Kimia USU, tetapi tidak lulus. Kini semester VI di STIE Pembnas Nias. Membela kepentingan publik dan orang yang lemah serta teraniaya adalah kewajiban hidupnya. Terus berbuat baik tanpa mengharapkan balasan adalah moto hidupnya.
BAGIKAN
Berita sebelumyaMenggugat Keagamaan dalam Keindonesiaan Kita
Berita berikutnyaMajukan Pariwisata Nias dengan Membangun Ciri Khas