KRISIS LISTRIK

APR Hengkang, PLN Cabang Nias Berulah Lagi

0
1180
Mesin pembangkit milik APR dari Humene, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, Kota Gunungsitoli, melintasi pintu masuk Pelabuhan Gunungsitoli untuk diangkut ke luar daerah, Jumat (24/6/2016). —Foto: Kabarnias.com/Onlyhu Ndraha

GUNUNGSITOLI, KABAR NIAS — Sejak berakhirnya kontrak kerja antara American Power Rental (APR) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cabang Nias pada 11 Juni 2016, PLN kembali berulah dengan memadamkan lampu hingga 10 jam sehari. Menurut Kepala PLN Area Nias Krisantus Hendro Setiawan, masalah ini disebabkan gangguan jaringan.

Minggu lalu, pihak APR menarik semua mesin pembangkit miliknya yang berkapasitas 10 megawatt (MW) dari Humene, Kecamatan Gunungsitoli Idanoi, dan 10 MW di Mo’awö. Hal yang mengherankan masyarakat, dalam waktu yang bersamaan, terjadi pemadaman listrik yang berkepanjangan. Misalnya saja, seperti yang terjadi pada Selasa (28/6/2016) di jalur Sisobahili Tabaloho, Kota Gunungsitoli, Km 3, pemadaman mulai pukul 10.00 dan baru kembali nyala sekitar pukul 19.30. Hal yang sama kembali terulang pada Rabu (29/6/2016) padam mulai pukul 15.30 dan baru kembali nyala pukul 22.55 WIB.

Pemadaman ini, menurut Krisantus adanya gangguan jaringan di beberapa wilayah. “Pemadaman terjadi hari ini karena di beberapa titik lokasi ada gangguan dan untuk mengerjakan yang putus petugas harus melihat kelokasi dulu sebelum mempersiapkan material untuk perbaikan tersebut,” kata Krisantus melalui pesan singkatnya.

Padahal, sebelumnya, PLN menjamin bahwa walau berakhirnya kontrak dengan APR, pemadaman listrik tidak terjadi lagi di Pulau Nias. Nyatanya, jauh api dari panggang. “Kami tetap mengakhiri kontrak kerja dengan APR. Kami upayakan pemadaman tidak terjadi lagi. Mesin pembangkit yang sudah sampai di Nias mampu menyuplai beban puncak hingga 24 MW. Bahkan, nantinya jika mesin datang lagi pasti surplus,” ujar Wakil Humas PLN Area Nias Rudi Hartono kepada Kabar Nias, akhir Mei 2016 yang lalu.

Akibat pemadaman ini, masyarakat banyak dirugikan. Mulai dari susahnya memasak dan keterbatasan air bersih. Pompa air tidak berfungsi dan pedagang lebih cepat menutup tokonya.

Salah seorang mahasiswa STIE Pembnas Nias, Yaseroro Zendratö, berharap pihak PLN segera menyikapi masalah krisis listrik yang tengah terjadi di Pulau Nias dan tidak hanya sekadar pemanis kata dengan berjanji dan berjanji. “Sejauh ini memang penanganan krisis listrik sudah mulai terasa, tetapi lebih banyak janji palsu dari PLN. Kedatangan Menteri ESDM di Nias juga tidak signifikan penanggulangannya”. [knc02w]