PELANTIKAN KEPALA DAERAH

Antara “Ngebet” dan Tak Sabar Berbuat untuk Nias

1
997
Ilustrasi —Foto: http://www.harapanrakyat.com/

Kita menyesalkan bisa terjadi miskomunikasi soal waktu pelantikan kepala-wakil kepala daerah dari Pulau Nias, terutama bagi tiga daerah, yakni Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Utara, dan Kota Gunungsitoli, sehingga ketiga kepala daerah terpilih dan tim dari tiga daerah itu berbondong-bondong berangkat di Medan pada 12 April 2016. Bahkan, sejumlah PNS juga kita dengar sudah berada di Medan untuk menyambut “pelantikan” yang ditunggu-tunggu itu.

Tidak jelas siapa yang menyebarkan informasi bahwa sudah pasti ada pelantikan pada tanggal 12 April 2016. Jika dilihat dari media sosial, ketiga kepala daerah dari Pulau Nias berkumpul di satu hotel di Medan. Salah satu postingan dari Faduhusi Daely, 12 April 2016, berisi foto-foto ini. Dalam postingan itu, Faduhusi mengatakan bahwa pelantikannya, menurut rencana, 14 atau 15 April 2016. Namun, kepada penulis, Kamis (14/4/2016), Khenoki Waruwu, Wakil Bupati Nias Barat, mengatakan bahwa waktu pelantikan masih belum pasti juga.

Saat penulis mencoba mencari tahu kepada Bupati terpilih dari Nias Selatan, Hilarius Duha, yang tidak hadir di Medan pada saat yang sama, diperoleh informasi bahwa memang belum ada kepastian dan belum ada surat undangan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tentang pelantikan Kepala Daerah terpilih pada Pilkada 2015.

Lalu, dari mana ketiga kepala daerah dari Pulau Nias itu mendapatkan informasi bahwa akan pasti ada pelantikan pada 14 atau 15 April 2016 sehingga beramai-ramai, baik keluarga, sahabat, dan tentu juga anggota tim pemenangan, datang ke Medan? Justru, pada waktu yang sama, kita ketahui, Pelaksana Tugas Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi menunjuk Sekretaris Daerah di tiga daerah itu untuk menjadi Pelaksana Harian Bupati/Wali Kota.

Kita tidak tahu bagaimana dinamisasi bergulirnya informasi dalam setiap tim di tiga kepala daerah dari Pulau Nias ini. Fakta menunjukkan bahwa sejumlah anggota sudah berada di Medan. Tidak itu saja, ada juga warga yang ikut-ikutan termakan isu, yakni dengan memberikan sejumlah karangan bunga berisi ucapan selamat terhadap beberapa kepala daerah. Ini agak menggelikan dan juga sedikit memalukan.

Kita mendengar informasi bahwa ada rombongan yang melakukan audiensi di gubernuran mempertanyakan mengapa tidak terjadi pelantikan.

Dampak dari ini semua, tak dinyana, bergulirlah perbincangan di masyarakat, terutama di media sosial terkait “kecelakaan informasi” ini. Sebagian orang mempertanyakan bagaimana para kepala daerah ini mengelola informasi kelak dalam pemerintahannya. Untuk sekadar informasi elementer terkait mekanisme pelantikan saja justru membuat blunder.

Banyak selentingan pedas ditujukan kepada para kepala daerah ini. Mengapa tidak sedikit bersabar untuk menunggu. Bukankah semua punya mekanismenya sendiri. Setiap pelantikan pasti akan ada surat-menyurat antara pelantik dan yang dilantik. Artinya, sebelum ada pelantikan pasti ada proses surat-menyurat resmi yang terjadi. Sebelum itu ada, artinya pelantikan masih belum pasti.

Faktanya, hingga catatan ini dibuat, pelantikan kepala daerah dari Pulau Nias belum juga terjadi. Beberapa kepala daerah kita dengar mencari kesibukan sendiri di Medan dan sekitarnya. Secara kasat mata kita bisa mengira-ngira berapa biaya yang harus habis untuk sebuah “kecelakaan informasi” ini. Mulai dari ongkos pesawat Gunungsitoli-Medan dan Medan-Gunungsitoli, biaya penginapan, konsumsi, dan biaya transportasi lokal.

Sekarang semua telah terjadi. Ibarat nasi telah menjadi bubur. Kejadian ini kita harapkan bisa memberikan pembelajaran banyak buat para kepala daerah dan buat siapa pun. Dibutuhkan kesabaran, kehati-hatian dalam bertindak, apalagi kelak yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Jangan gegabah, patutlah pada aturan dan mekanisme perundang-undangan. Sekali meleset dari rel itu, para kepala daerah ini dipastikan akan menemui kesulitan pada masa yang akan datang.

Kita berharap, apa terjadi ini bukan cerminan bahwa para kepala daerah ini sudah tidak sabar untuk berkuasa guna mewujudkan berbagai rencana pribadi dan kelompok yang terpendam selama ini. Namun, sinyal “ketidaksabaran” ini hendaknya bermakna positif bahwa para kepala daerah yang telanjur datang ke Medan sudah tidak sabar berbuat yang terbaik bagi Pulau Nias. Semoga!

  • Apolonius Lase

    Lö wana luo barö mbanua.