Fondrahi, Instrumen Musik Magis Masyarakat Nias Tempo Dulu

0
1894
Fondrahi -- Gambar oleh Tropenmuseum

Fondrahi adalah instrumen musik membranofon, sejenis tambur yang dikenal hampir di seluruh Pulau Nias. Dulunya fondrahi dianggap memiliki nilai magis dan digunakan oleh ere untuk mengiringi pembacaan mantra permohonan, dan puji-pujian kepada dewa yang diucapkan dalam bentuk syair-syair kuno (hoho).

Pada saat agama Kristen mulai masuk di Nias, para misionaris melarang pemakaian fondrahi karena dianggap berhubungan dengan kepercayaan dan dewa-dewa kuno 1)Manhart, Thomas Markus (2005). “A Song for Lowalangi – The Interculturation of Catholic Mission and Nias Traditional Arts with spesial respect to Music”. National University of Singapore. Saat ini fondrahi hanya digunakan sebagai alat musik biasa dan tidak lagi berkaitan dengan kepercayaan magis kuno.

Bentuk dan Spesifikasi

Fondrahi dibuat dari batang pohon enau (akhe) yang telah dibuang isinya sehingga menghasilkan bentuk, seperti pipa. Salah satu ujungnya yang memiliki diamater lebih kecil, dibiarkan terbuka. Ujung lain yang memiliki diameter lebih besar dilapisi dengan selaput yang terbuat dari kulit kambing atau ular yang kemudian diikat dengan rotan di sekeliling pinggirnya. Selain itu, fondrahi terkadang diberi ornamen berupa ukiran atau anyaman rotan yang berbentuk zig-zag. Fondrahi memiliki panjang 70-140 cm dengan diameter 15-32 cm 2)Kunst, Jaap. 1932, Music of Nias (Leiden: Brill, 1939–1940) pp. 34-35. Fondrahi dimainkan dengan memukul bagian membran sambil dipangku atau ditenteng.

Fondrahi berukuran besar ditemukan di Nias Selatan dan digantung di dalam rumah adat. Kunst mencatat bahwa fondrahi jenis ini dinamakan taburana biasanya dibunyikan pada saat acara Molau Fa’ulu. Saat kunjungannya ke Nias Selatan, Kunst hanya menemukan dua kampung yang memiliki taburana, yaitu Bawömataluo dan Bawöfalagötanö 3)Kunst, Jaap. 1932, Music of Nias (Leiden: Brill, 1939–1940) pp. 34-35.

Mitos

Sundermann mencatat mitos tentang fondrahi. Instrumen musik ini diyakini berasal dari Sirao, leluhur langit masyarakat Nias yang kemudian diberikan kepada Zebua, anaknya yang diturunkan ke Pulau Nias 4)Sunderman, Heinrich. Die Insel Nias und die Mission daselbst, Rheinische Missionsschriften Nr. 125, Verlag des Missionshauses, Barmen 1905.

Referensi   [ + ]

1.Manhart, Thomas Markus (2005). “A Song for Lowalangi – The Interculturation of Catholic Mission and Nias Traditional Arts with spesial respect to Music”. National University of Singapore
2, 3.Kunst, Jaap. 1932, Music of Nias (Leiden: Brill, 1939–1940) pp. 34-35
4.Sunderman, Heinrich. Die Insel Nias und die Mission daselbst, Rheinische Missionsschriften Nr. 125, Verlag des Missionshauses, Barmen 1905