BAHASA NIAS

Gurafu

0
631

Gurafu bisa jadi tidak semua orang tahu apa artinya. Ini sebuah kata dalam bahasa Nias, yang lebih kurang memiliki arti: ‘sangat rakus’, ‘serakah’, ‘tamak’. Ketika menjumpai orang-orang yang memiliki sifat seperti ini, gelar gurafu sering disematkan pada diri yang bersangkutan.

Di kalangan orang Nias juga dikenal kata olu’a-lu’a, ‘rakus’. Penggunaan kata ini biasanya untuk hal-hal yang berhubungan dengan makanan. Selain untuk manusia, kata ini juga bisa dipakai pada binatang yang berperilaku rakus. Olu’a-lu’a ae nasu da’a, anjing ini rakus sekali. Meskipun tidak semua anjing berperilaku rakus. Anjing jika diajari hal yang baik, biasanya menurut atau patuh. Jika kerakusan (fa’olu’a-lua) sudah melebihi dari biasanya atau berlebihan, barulah kata gurafu, sebagai kata sifat (adjektiva), keluar.

Kebiasaan orang Nias, penggunaan kata gurafu ini tidak akan diucapkan langsung kepada orang yang dituju, tetapi diucapkan di “belakang” dalam omongan di kedai atau warung kopi. Biasanya kata ini diucapkan untuk bahan guyonan dan sekadar memberikan “hukuman” berupa sindiran kepada seseorang yang berperilaku berlebihan dan tak tahu batas (lö mangila gura-gura). Meskipun begitu, tak dimungkiri kata-kata ini kadang juga diucapkan langsung ke orang yang disindir, saat sedang tidak bisa mengontrol emosi.  Gurafu sibai niha da’ö he (orang itu sangat rakus, tamak). Tidak saja disebut tamak karena rakus terhadap makanan, tetapi rakus terhadap kekuasaan, suka mengambil yang bukan haknya, memeras orang lain. Untuk kekinian, pejabat yang korup itu pantas disebut gurafu.

Di daerah Sumatera Utara, utamanya Medan, ada kata ‘gumarapus‘ yang artinya ‘sebrono’ atau ‘selengean’, ‘tidak sopan’. Ketika berbicara tidak sopan kepada orang yang lebih tua, misalnya, sikap itu disebut gumarapus.

Koran Waspada, terbitan Medan, menjadikan kata ini sebagai nama tokoh karikatur “Si Gumarapus” yang terkenal dengan keusilannya dengan mengkritik secara tajam dan bicara “semaunya” mengenai kebijakan-kebijakan pemerintah atau kondisi sosial di masyarakat. 

Namun, pertanyaan kita, apakah kedua kata ini, gurafu dan gumarapus, berkerabat? Belum ada informasi kuat bahwa kedua kata ini berkaitan. Yang jelas, kadar gurafu di kalangan orang Nias jauh lebih daripada sekadar sebrono atau tidak sopan. Lebih dari itu. Tingkat dampak kerusakan yang diakibatkan oleh gurafu “jauh lebih parah” daripada dampak dari gumarapus.

Lalu, dari mana orang Nias memungut istilah gurafu ini? Besar kemungkinan istilah ini muncul dari nama satu jenis ikan, yakni ikan kerapu. Orang Nias menyebut ikan itu sebagai i’a gurafu. Ikan kerapu di mata orang Nias memiliki “keistimewaan”, yakni mulutnya terkenal sangat besar. Bukaan mulutnya bahkan bisa melebihi ukuran tubuhnya. Tak mengherankan jika ikan ini dikenal cepat bertubuh besar karena doyan makan. Karakter gurafu yang doyan makan dengan mulut besar inilah memunculkan istilah gurafu untuk si ‘tamak’ ‘sangat rakus’, ‘serakah’.

Baca juga:  Filosofi dalam Peribahasa "Bila-bila Gafi Manu"

Sekarang, lihatlah sekelilingmu, adakah mereka yang berwatak sebagai gurafu? Agaknya tidak salah jika para pejabat di negeri ini yang tak sungkan-sungkan mempertontonkan kelakuan tamak, sangat rakus, serakah, bangga dengan korupsi, mereka layak mendapatkan atribusi gurafu.  He-he

Apolonius Lase
Lahir di Desa Hiligara, Kecamatan Gunungsitoli Selatan, Kota Gunungsitoli. Saat ini berdomisili di Jakarta. Bekerja di harian Kompas sejak 1996. Menyukai hal-hal tentang bahasa, termasuk bahasa Nias. Sebuah kamus, "Kamus Li Niha (Nias Indonesia)" telah diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas (2011). Menulis dan menyunting beberapa buku biografi. Menjadi narasumber di beberapa diskusi, lokakarya, dan seminar terkait kebahasaan dan jurnalistik. | Twitter: @apollolase; E-mail: apollolase@gmail.com
BAGIKAN
Berita sebelumyaMeluruskan Makna Beasiswa
Berita berikutnyaKomnas HAM Desak Kepolisian Tangani Serius Kasus Pembunuhan di Moro’ö