CUACA BURUK

Pdt Herman Baeha Masih Belum Ditemukan

0
2877
Tim SAR gabungan sedang bersiap melakukan pencarian terhadap korban. —Foto: Dokumentasi Pos SAR Nias (via Facebook)

JAKARTA, KABAR NIAS — Hingga Kamis (23/6/2016), keberadaan Pendeta Herman Baeha, anggota DPRD Nias Utara yang juga pendeta emeritus GKI Serang, Banten, masih belum ditemukan oleh tim SAR gabungan. Herman Baeha menjadi salah satu dari lima penumpang perahu yang terbalik di perairan dekat Pulau Bögi, Sirombu, Nias Barat, Rabu (22/6/2016) pukul 16.30.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari rescuer Basarnas Nias, anggota TNI Angkatan laut, Polres Nias, BPBD Kabupaten Nias Barat dan Nias Utara, dan para nelayan setempat menyatakan, empat korban telah ditemukan dengan selamat.

Empat orang yang ditemukan selamat adalah dua warga setempat yang merupakan pengemudi perahu serta Pdt Budieli Hia yang melayani di Jemaat ONKP yang juga anggota MPH Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) dan Pdt Saroziduhu Marundruri, pendeta Gereja Duta Injil.

Herman Baeha. 0151Foto: Dokumen Pribadi (via Facebook)
Herman Baeha. —Foto: Dokumen Pribadi (via Facebook)

Informasi yang dikumpulkan Kabar Nias, kelima korban, Rabu, dengan menaiki perahu berbahan fiber milik warga bernama Dafuo, bertolak dari dermaga Hinako dengan tujuan Pulau Bögi untuk memancing. Setelah sekitar lima menit berlayar, perahu—merek Daito berkekuatan 13 paard kracht (PK) atau daya kuda—tersebut tiba-tiba diterjang ombak besar dan terbalik.

Kelima penumpang yang konon tidak dilengkapi dengan jaket pelampung (life jacket) itu berusaha menyelamatkan diri. Dua pengemudi perahu yang ikut bersama ketiga pendeta itu diketahui bisa menyelamatkan diri sesaat setelah insiden tersebut. Mereka terdampar di Pulau Bögi.

Adapun Budieli berhasil dengan selamat mencapai daratan Pulau Asu dan Saroziduhu ditemukan terdampar di Pulau Langu setelah selama lebih kurang berjuang melawan maut selama 11 jam untuk mencapai daratan.

“Mujizat kembali nyata. Informasi terkini bahwa Pdt. Saron Marunduri telah selamat dan sekarang berada di Pulau Langu. Mari terus berdoa untuk keselamatan Bapak Herman Baeha semoga Tuhan memberi pertolongan dan keselamatan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan. Amin,” demikian ditulis Bupati Nias Barat Faduhusi Daeli pada status Facebook-nya, Kamis pagi.

Sebelum status itu, Faduhusi juga memutakhirkan informasi terkait insiden ini bahwa Budieli ditemukan selamat di Pulau Asu.

“Pada pukul 03.15 dini hari, Kamis, 23 Juni 2016, Pdt Budieli Hia, M.Th, pendeta jemaat ONKP dan anggota MPH PGI, berhasil dengan selamat mencapai daratan Pulau Asu dengan berenang selama kurang lebih 11 jam dari pukul 16.30 sore hari Rabu di pantai Pulau Bögi,” tulis Faduhusi.

Peta tempat kejadian. —Sumber: Diolah Kabarnias.com dari Google Maps
Peta tempat kejadian. —Sumber: Diolah Kabarnias.com dari Google Maps

Faduhusi mengajak netizen untuk mendoakan keselamatan penumpang lainnya. Setelah ditemukan, kata Faduhusi, Budieli dirawat intensif di Pulau Asu. “Tim relawan sedang melakukan pencarian serta menyisir pantai-pantai di kepulauan. Semoga segera ditemukan,” tulis Faduhusi.

Kamis pagi, sempat beredar kabar bahwa Herman Baeha juga telah ditemukan di Pulau Wunga, Nias Utara. Akan tetapi, informasi tersebut tidak bisa dikonfirmasi kebenarannya.

Untuk diketahui, pendeta yang akrab disapa Ama Ita ini adalah pengganti antarwaktu (PAW) anggota DPRD Nias Utara, Marselinus Ingati Nazara, yang mengundurkan diri karena maju dan terpilih sebagai Bupati Nias Utara. Kini keberadaan penulis buku 5 Cinta 5 Surga—Kisah Kehidupan yang beberapa waktu lalu diterbitkan BPK Gunung Mulia itu dinantikan oleh keluarga dan sahabat-sahabat yang mengasihinya.

“Kami mendoakan Bapak Herman Baeha selamat dan segera ditemukan,” tulis seorang sahabat Herman Baeha.

Baik Budieli dan Saro, Kamis Siang, sudah berada di Sirombu dan disambut bahagia serta penuh haru oleh keluarga serta masyarakat, termasuk Wakil Bupati Nias Barat Khenoki Waruwu.

Berenang

Seperti disampaikan Budieli kepada Firman Jaya Daeli, tokoh Nias Barat, dirinya terbawa arus dan tiba di Pulau Asu pada pukul 03.15 pagi dengan bantuan sebatang kayu dari perahu yang awalnya mereka naiki.

Menurut Budieli, saat mereka mulai berlayar, cuaca baik. Tiba-tiba lima menit setelah itu, gelombang laut menghantam perahu sehingga mereka harus segera menyelamatkan diri. Karena sudah terpisah dengan perahu. Mereka bergerak ke Pulau terdekat, yaitu ke arah Pulau Bögi dengan bantuan peralatan seadanya.

Cuaca di perairan Samudra Hindia beberapa hari terakhir ini kurang bersahabat. Masyarakat diminta untuk berhati-hati dan diimbau agar melengkapi diri dengan perlengkapan keselamatan jika harus melakukan pelayaran.